Logo Sabtu, 23 Juni 2018
Karirpad, Situs Lowongan Kerja Terpercaya
images

Ilustrasi belanja online.

JAKARTA, KORANMETRO.com - Belanja adalah satu diantara kegiatan yang paling digemari beberapa besar wanita. Bahkan, tidak sedikit hobi ini membuat sebagian kaum hawa ini jadi pemboros.

Menurut psikolog Nadya Pramesrani, belanja memberikan dua efek psikologis untuk pelakunya.

”Belanja ada efek positif, yakni memberikan rasa puas, saat beli barang yang dimau, ada perasaan senang. Apalagi seandainya bisa barang yang harganya bagus dan harganya lebih murah, ada kenikmatan yang lebih tinggi sekali lagi, ” kata Nadya.

Kedua, yakni efek negatif yang terkait dengan penyesalan setelah belanja. Ini biasanya terjadi saat belanja dengan impulsif.

Penyesalan karena belanja ini seringkali terjadi saat belanja online dimana banyak tawarkan keringanan dalam soal pembayaran. Akhirnya, tidak cuman impulsif, belanja ini tersisa utang.

”Bagaimana caranya lindungi tingkah laku belanja online sehat merupakan lakukan belanja dalam jumlah kecil,” lanjut Nadya.

Berdasarkan data market research, nominal Rp100.000 hingga Rp300. 000 adalah jumlah yang kecil. Untuk warga menengah, barang di atas Rp300.000 sudah dianggap mahal, tidak cuman pertimbangan merk dan kwalitas.

Nadya menaikkankan, jika saat belanja keluar pemikiran kedua, itu artinya badan Anda sudah berikan peringatan kalau belanja Anda sudah terlampau banyak.

Di samping itu, Anda harus juga mulai membedakan mana belanja untuk kebutuhan dan keinginan. Nadya merekomendasikan, untuk buat klasifikasi itu, cobalah tantang sendiri sebelumnya beli barang.

” Tanyakan pada sendiri, terutama atau tidak. Kalau tidak terutama, apakah akan ada efek atau tidak, ” kata Nadya.

Diluar itu, saat akan beli suatu hal, berpeganglah pada prinsip apakah barang itu akan memberikan faedah atau sekadar lucu saja. (dya)