Logo Minggu, 24 Juni 2018
Karirpad, Situs Lowongan Kerja Terpercaya
images

Gedung DPRD DKI Jakarta.

JAKARTA, KORANMETRO.com - Rencana pembentukan panitia kusus (Pansus) light rail transit (LRT) atau kereta ringan Jakarta terus bergulir. Sejumlah perwakilan fraksi di DPRD DKI Jakarta telah membuat kesepakatan persetujuan membentuk pansus LRT.

Mereka diantaranya dari fraksi PKS diwakili Selamat Nurdin, fraksi Gerindra oleh Fajar Sidik, Nasdem dipimpin Inggard Joshua, Golkar diwakili Tandanan Daulay.

Menurut anggota fraksi PKS Selamat Nurdin, dari awal proyek itu bermasalah, baik dari segi anggaran yang cukup mahal, termasuk  lokasi yang dinilai tidak relevan dibangun. Kata dia, pansus itu diharapkan dalam pekan ini sudah dapat terbentuk.

"Proyek LRT yang dibangun PT Jakpro ini sejak awal memang bermasalah. Mulai anggarannya yang cukup mahal, penempatan lokasi tidak tepat, hingga efektifitas terhadap mengatasi kemacetan tidak optimal. Pekan ini kami harapkan pansus tersebut sudah dapat terbentuk," kata Selamat Nurdin, di gedung DPRD, Kebon Sirih, Rabu (18/4/2018).

Selamat mengatakan, berdasarkan laporan biaya pembangunan sarana dan prasarana LRT Jakarta rute Velodrome - Kelapa Gading sepanjang 5,8 kilometer jauh lebih mahal dibanding LRT Jabodetabek yang dibagun PT. Adhi Karya Tbk, termasuk lebih mahal juga dari LRT Palembang yang dibangun pihak PT. Waskita Karya Tbk.

"Bagaimana tidak kemahalan, biaya pembangunan LRT oleh PT. Jakpro sebesar Rp 6,8 triliun yang hanya 5,8 kilometer. Berarti sekitar 1 kilometer biaya pembangunan lebih dari Rp 1 triliun. Sementara LRT Jabodetabek dan Palembang hanya sebesar Rp 600 miliar perkilometer. Jadi ada selisih Rp. 400 miliar, sementara, sedangkan kwalitasnya sama. Jadi dengan adanya pansus kita akan tanya semua," pungkasnya.

Sementara wakil gubernur DKI menanggapi besarnya biaya pembangunan LRT oleh PT Jakpro mengatakan, pihaknya akan kooperatif apabila pansus jadi terbentuk, dan akan terbuka soal pembangunan LRT itu.

"Tidak ada yang kita rekayasa. Kita buka semua, open ke publik seluas-luasnya. Kita tidak ingin proyek yang menjadi lembaran baru transportasi yang berbasis rel di DKI ini, banyak ditutup-tutupi, tegas Sandi. (potan simamora)