Logo Minggu, 24 Juni 2018
Karirpad, Situs Lowongan Kerja Terpercaya
images

Manuhara Siahaan, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta.

JAKARTA, KORANMETRO.com - Klaim Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Isnawa Adji, yang menyatakan seringnya ditemukan ular dan biawak di kali disebabkan ekosistem yang membaik.

Sampahnya sudah nggak ada, kualitas kali dan sungainya membaik. "Kalau banyak sampah juga dia (binatang yang ada di lingkungan tersebut) nggak betah. Sama saja kayak kita, kalau tempatnya kotor ya nggak mau tinggal. Ekosistemnya membaik, hewan-hewan juga menikmati," demikian Isnawa.

Sebelumnya, seekor ular piton sepanjang 7 meter yang ditangkap oleh petugas Damkar Jakpus rupanya muncul dari selokan. Ular tersebut diketahui memiliki berat 8 kilogram.

Menanggapi klaim Kadis Lingkungan Hidup tersebut, Manuhara Siahaan, Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta menyatakan pernyataan itu harus diperdebatkan. Sebab, logika yang benar adalah indikator kota semakin nyaman adalah semakin tidak ditemukan hewan/binatang berkeliaran secara bebas di lingkungan pemukiman. Apalagi binatang buas/liar yang bisa membahayakan nyawa manusia khususnya anak-anak. "Keliru ini statemen kadis," pungkas Manuhara.

Lebih lanjut politisi PDIP ini menyatakan bahwa membaiknya kualitas kali bukan dari banyaknya satwa liar. "Keliru total, ini kota metropolitan bukan hutan. Kualitas kali di kota membaik jika secara fisik  semakin jernih, tidak banyak eceng gondok, gulma dan semak tumbuhan liar merambat, tidak banyak rumah panggung masuk ke badan sungai, tidak banyak wc panggung di badan sungai. Secara kimia, kualitas airnya tidak tercemar logam berat karena bayangan limbah industri. Kandungan BOD dan COD nya masih di ambang batas normal sehingga makhluk hidup seperti ikan air tawar masih bisa hidup. Wah kecewa nih masyarakat jakarta masa sih ular berkeliaran menjadi indikator kualitas sungai membaik ? Keliru total!" tandas Manuhara kesal. (makmur)