Logo Senin, 20 November 2017
Karirpad, Situs Lowongan Kerja Terpercaya
images

Buku "Yang Nge-tren di Tahun 80 dan 90an" .

JAKARTA, KORANMETRO.com - Membaca halaman demi halaman buku "Yang Nge-tren  di Tahun 80 dan 90an" serasa naik mesin waktu ke era di mana telepon umum dan tumpukan koin receh jadi andalan untuk melepas rindu dengan pacar.

Nicko Krisna, pendiri grup Facebook bertajuk hits The 80's dan 90's, membukukan kenangan masa muda generasi itu dengan merangkum daftar tren pada masanya.

Selama sepekan, Nicko membuat daftar berisi lagu Indonesia, lagu Barat, gaya busana, acara televisi, film, buku, majalah, cara "pedekate" (pendekatan) pada "gebetan", hingga tempat nongkrong yang populer di kota-kota besar pada masanya tersebut.

Tidak seperti saat ini di mana musik dari penjuru dunia bisa didengarkan hanya dengan mengakses YouTube, generasi 80-an dan 90-an harus mengubek-ubek toko kaset yang nantinya akan didengarkan di walkman mereka.

Belum ada resensi album yang berseliweran di dunia maya, sehingga kadang panduan untuk memilih kaset mana yang harus dibeli kembali pada intuisi masing-masing.

"Cap cip cup" tergantung sampul kasetnya, begitu salah satu cara memilih kaset seperti dituturkan Nicko dalam buku ini.

Kenangan masa lalu kembali menyeruak saat membaca daftar bacaan yang jadi tren beberapa dekade silam.

Salah satunya adalah Hilman Hariwijaya yang menelurkan serial Lupus yang merepresentasikan kehidupan seru anak SMA di ibukota. Betapa populernya Lupus si cowok berjambul sampai dia juga hadir dalam bentuk adaptasi layar lebar dan layar kaca.

Nicko juga menulis gaya pacaran remaja saat itu yang belum kenal teknologi untuk berinteraksi jarak jauh melalui SMS atau aplikasi WhatsApp, termasuk apa "upet"” andalan untuk meluluhkan hati para kecengan.

Dengan gaya menulis yang santai layaknya sebuah buku harian, Nicko memasukkan sedikit pengalaman pribadinya di tiap bab.

Pilihannya tentu subjektif, namun Nicko berharap itu masih berada dalam koridor selera mainstream.

Di setiap akhir bab, ada lembaran kosong dengan format seperti buku tulis yang memberi kesempatan pada pembaca untuk menulis daftar tren versinya sendiri.

"Ini adalah artefak, mengabadikan sejarah 80an dan 90an. Walau tidak semuanya, tapi setidaknya sudah terepresentasikan," kata Nicko dalam peluncuran buku di Gramedia Matraman, Jakarta, pekan lalu.

Buku setebal 166 halaman ini bisa mengingatkan Anda betapa serunya masa muda (atau masa kecil) saat smartphone belum marak dan telenovela serta serial silat belum kalah pamor dari drama Korea. (jek)