Logo Kamis, 16 Agustus 2018
Karirpad, Situs Lowongan Kerja Terpercaya
images

Pengamat Ekonomi, Ichsanuddin Noorsy dalam diskusi yang digelar KAHMI Jaya, di Sekretariat Bersama The Kemuning, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (2/6/2018) kemarin.

JAKARTA, KORANMETRO.com - Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar disebabkan adanya kebijakan yang salah. Ada kebijakan pembangunan infrastruktur tidak tepat.

"Dollar bisa seperti saat ini karena kebijakan yang salah oleh menteri Jokowi. Mereka asal melakukan pembangunan infrastruktur, padahal bisa saja pembangunan itu tidak tepat," kata Pengamat Ekonomi, Ichsanuddin Noorsy dalam diskusi yang digelar KAHMI Jaya, di Sekretariat Bersama The Kemuning, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (2/6/2018) kemarin.

Rencana cair pinjaman dari bank dunia pada bulan ini dianggap belum dapat mengatasi semua persoalan. Kata dia, pinjaman tersebut bahkan lebih menjadikan negara semakin terpuruk. Saat ini menurutnya pinjaman luar negeri sudah mencapai Rp.5041 triliun.

"Kita jangan main-main soal dollar. Jokowi harus membenarkan surplus. Rencana pinjaman bank dunia dalam waktu dekat 300 jt USD bukan jaminan. Bahkan pinjaman itu bisa menjadikan Indonesia makin hancur. Indonesia dikasi darah tapi tidak menolong," tegasnya.

"Utang luar negeri sekarang Rp.5941 miliar. Untuk mengatasi sedikit persoalan ini seharusnya satu dollar sebesar Rp.13700," tambahnya.

Sementara bicara soal imigran gelap dan tenaga kerja asing (TKA), yang banyak masuk ke tanah air. Ichsanudin menilai hal itu jelas keputusan salah.

Pasalnya, disaat negara-negara lain tengah sibuk melakukan pengetatan untuk melindungi kesejahteraan warganya, seperti Inggris dengan brexitnya serta Amerika dengan proteksionisme, Indonesia sebaliknya. Bahkan terbaru Presiden Jokowi memperbolehkan warga negara asing duduki jabatan strategis di BUMN.

Situasi impor TKA saat ini, menurut Ichsanudin, gejalanya mirip dengan situasi di Amerika tahun 2004 silam. Dimana George Walker Bush yang merupakan sosok incumbent kala itu berhasil memenangkan pemilihan presiden dengan menggaet para imigran melalui kebijakan pemberian kredit murah rumahan.

"Kita lihat dalam perspektif ekonomi. Saya mengambil contoh paling menarik adalah ketika perbandingan nyata di Amerika, George Walker Bush waktu kampanye 2004, ia memberdayakan imigran dengan kredit murah rumahan. Saya ulangi lagi, Bush ketika melawan John Kerry, ia memenangkan pemilihan dengan cara memberikan kredit murah rumahan," ungkapnya.

Menurut Ichsanuddin, Trump pada intinya ingin melakukan proteksionisme. Yakni melakukan perlindungan terhadap kesejahteraan warganya di dalam negeri Amerika sendiri.

"Ini juga saya tanyakan ke Sri Mulyani. Ketika saya berdiskusi di PTIK dengan Sri Mulyani dan Agus Martowardojo (bankir yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Bank BI), apakah kebijakan Donald Trump dengan proteksionismenya itu adalah kebijakan deglobalisasi atau globalisasi?” pungkasnya.

Ketua DPD Partai Gerindra Mohamad Taufik menilai rendahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar tidak lain gambaran mundurnya pemerintahan dalam ekonomi nasional. Kata Tofik dalam diskusi, kejadian ini menggambarkan adanya ketidakpercayaan asing pada pemerintah.

"Dollar sampai menguat terus berpengaruh pada masyarakat.
Saya kira persoalan faktanya bahwa rupiah sudah melemah. Padahal sudah pakai ilmu interpensi," tegas Taufik.

"Nah inikan menunjukan adanya ketidakpercayaan asing pada pemerintah," pungkas Taufik. (potan simamora)