Logo Jumat, 22 Februari 2019
images

Ilustrasi.

BEKASI, KORANMETRO.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi mengatakan angka pencari kerja di Bekasi tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia di Kota Bekasi, Jawa Barat. Diperkirakan 2.000 orang mencari kerja setiap bulan akibat naiknya upah minimum.

Berdasarkan data Kartu Kuning, persyaratan melamar kerja, yang dikeluarkan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Bekasi, jumlah pencari kerja tahun 2017 mencapai 25.000 orang. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 21.942 orang.

"Data itu berdasarkan data pencari kerja yang membuat Kartu Kuning," ujar Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Disnaker Kota Bekasi, Sudarsono, seperti dilansir Jumat (14/12/2018) dari bekasipedia.com.

Sedangkan tahun ini, kata dia, pihaknya masih mendata hingga akhir tahun. Namun, rata-rata pembuat Kartu Kuning setiap bulan di tahun 2018 mencapai 2.000 orang. "Kebanyakan pembuat Kartu Kuning, para lulusan SMA/SMK sederajat yang baru lulus sekolah," tuturnya.

Menurutnya, faktor penyebab tingginya angka pencari kerja karena keterbatasan lowongan kerja yang disediakan perusahaan tidak sebanding dengan jumlah para pencari kerja.

"Misalkan, satu perusahaan hanya membutuhkan 10 orang pekerja baru tapi yang mendaftarkan lamaran kerja mencapai ribuan orang. Ini berarti tak sebanding antara kebutuhan kerja dengan jumlah pelamar kerja," katanya.

Sudarsono merinci, sebenarnya kesempatan bekerja untuk para pencari kerja, sudah cukup banyak. Sebab, tiap tahun jumlah perusahaan yang membuka lowongan kerja mengalami peningkatan.

Data 2016 lalu jumlah perusahaan yang membuka lowongan kerja mencapai 1.226 perusahaan dan berikutnya, di 2017 terjadi peningkatan menjadi 1.504 perusahaan yang membuka lowongan kerja.

Namun, di mengakui tahun ini, Pemkot Bekasi belum membuka bursa lapangan kerja atau job fair. Namun, pihaknya hanya memfasilitasi perusahaan swasta dalam menggelar bursa lapangan pekerja. "Tahun ini, sudah empat kali job fair diselenggarakan oleh pihak swasta," ucapnya.

Dia menjelaskan, banyak pencari kerja dari daerah lain yang ingin bekerja di Kota Bekasi karena tingginya pemberian upah minimum kota. "Upah untuk para pekerja di Kota Bekasi sudah mencapai Rp 4,2 juta atau menjadi yang tertinggi kedua di Jawa Barat. Namun, pencari kerja juga jumlahnya meningkat," imbuhnya.

Periode lima tahun pertama Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi (2013-2018) telah menyediakan kesempatan kerja dan menyerap tenaga kerja hingga mencapai 68.000. Ini melebihi target dari janji kampanye pasangan Rahmat Effendi-Ahmad Syaikhu yang membuka dan menyerap 50.000 tenaga kerja dalam lima tahun kepemimpinannya.

Dalam periode lima tahun kedua, Rahmat Effendi menjanjikan akan membuka kesempatan kerja dan menyerap tenaga kerja hingga 150.000 pelamar kerja pada 2018-2023 mendatang. Dengan begitu, tiap tahun dapat membuka lowongan dan menyerap tenaga kerja sekitar 30.000 tenaga kerja.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia, (Apindo) Kabupaten Bekasi Sutomo menganaalisa, banyak faktor yang membuat jumlah pencari kerja tiap tahunnya semakin membeludak dan tak terserap oleh perusahaan.

"Salah satunya, persyaratan yang diberikan perusahaan tidak sesuai kompetensi dan keterampilan pelamar. Banyak pelamar yang tidak masuk kebutuhan perusahaan sehingga mereka tidak masuk kualifikasi," imbuhnya. (jek)