Logo Selasa, 25 September 2018
images

Lahan tambak yang masuk dalam zona kawasan industri di wilayah Kecamatan Tarumajaya bakal beralih fungsi menjadi lahan pabrik dan industri lainnya. (foto: tahar)

BEKASI, KORANMETRO.com - Dipilihnya wilayah Kecamatan Tarumajaya yang terletak di bagian utara pemerintah Kabupaten Bekasi menjadi kawasan industri baru setelah tertuang dalam Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kabupaten Bekasi tentang Rencana Detail Tata Ruang Wilayah I dan IV mendapat perhatian khusus dan evaluasi dari pemerintah provinsi Jawa Barat.

Pasalnya, lantaran letaknya yang strategis dan memiliki nilai ekonomis tinggi karena perbatasannya dengan DKI Jakarta, dipastikan akan menempatkan Tarumajaya menjadi kawasan industri baru yang ada di pemerintahaan Kabupaten Bekasi.

Terkait dijadikannya wilayah Tarumajaya untuk kawasan industri baru, Camat Tarumajaya Drs. Dwy Sigit Andrian MM saat ditemui KORANMETRO.com di ruang kerjanya membenarkan bahwa wilayah Tarumajaya merupakan zona industri yang sudah tertuang dalam Perda No. 12 Tahun 2011 tentang rencana detail tata ruang dan wilayah Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi tahun 2011-2031.

"Sebagai bagian dari pemerintahan Kabupaten Bekasi, Pemerintah Kecamatan Tarumajaya menyambut baik bila nantinya wilayah Tarumajaya menjadi kawasan industri baru. Namun semua yang sudah diputuskan terkait dengan tata ruang di Kecamatan Tarumajaya harapan saya sudah merupakan hasil perencanaan yang sudah dikaji untuk pembangunannya, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya khususnya wilayah Tarumajaya," jelas Sigit di kantor Kecamatan Tarumajaya, baru-baru ini.

Dalam penuturannya, Sigit berharap masyarakat yang terkena imbas dengan perubahan tersebut bisa menikmati kesejahteraan buat dirinya dan keluarganya, kedepannya dapat berkordinasi dengan Dinas-dinas terkait untuk peningkatan sumber daya manusia juga keterampilannya agar pada saat ada kawasan industri masyarakatnya bisa langsung bekerja.

"Kalau memang menjadikan kawasan Tarumajaya sebagai kawasan industri baru, saya berharap ada lapangan kerja baru dan diutamakn warga lokal dulu karena pastinya dengan adanya perubahan kawasan pasti juga akan ada perubahan mata pencarian," tutur Sigit menambahkan.

Hal serupa juga dikatakan Kepala Desa Segara Makmur, H Agus Sofyan SE yang wilayahnya memang telah tumbuh menjadi kawasan industri dan pergudangan seperti berdirinya kawasan Marunda Center.

"Saya mendukung dan menyetujui bila memang di sini (Tarumajaya) menjadi kawasan industri, karena secara agraris lahan pertaniannya juga sudah tidak bagus karena letaknya di dekat laut. Pokoknya selama bisa membawa kesejahteraan dan lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya serta tidak merusak lingkungan dengan pembuangan limbah industri sembarangan, saya setuju," ujar H Agus yang juga merupakan ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Bekasi saat dikonfirmasi di ruang kerjanya belum lama ini.

Sementara itu di tempat terpisah Nuryudin selaku Ketua Forum Komunikas Masyarakat Muara Tawar (FAKKAR) Desa Pantai Makmur Kecamatan Tarumajaya menyatakan Istiqomahnya dan harus tetap berlandaskan kemakmuran bagi masyarakat bila Tarumajaya dijadikan kawasan industri baru serta tidak menjadikan masyarakat lokal sebagai musuh dengan perkembangan kawasan industri itu sendiri.

Menurutnya, perusahan harus dengan aktif menjadikan masyarakat sebagai partner dalam bidang usahanya baik sebagai pekerja maupun pengusaha.

"Secara agraris, memang tanah pertanian sudah habis dicaplokin. Lautpun sudah dicemari, harapan saya dan masyarakat umumnya ingin pembangunan kawasan industri di wilayah Tarumajaya bisa jadi kemaslahatan bagi masyarakat bukan malah sebaliknya jadi tambahan beban kehidupan. Yang menganggur bisa bekerja, yang pengusaha bisa dilibatkan, jadi simple kan kemauan masyarakat," kata Nuryudin kepada KORANMETRO.com.

Sedang warga lainnya, Nurdin S.Ip dari Kampung Kelapa Desa Segarajaya saat dimintai komentarnya hanya menyoroti kasus dugaan limbah dari Kawasan Marunda Center yang hingga kini penyelesaiannya masih belum berpihak pada masyarakat lokal.

"Jangan sampai setelah menjadi kawasan industri baru, kasus kerusakan lingkungan dan limbah semakin tidak terkontrol," ujarnya saat ditemui di tambak miliknya. (tahar)