Logo Jumat, 22 Februari 2019
images

Tampak pepohonan di Kampung si Pitung Marunda mati mengering akibat dampak timbunan limbah berbahaya yang diduga berasal dari pembuangan Industri minyak goreng. (foto:tahar)

JAKARTA, KORANMETRO.COM - Diduga mengandung limbah bahan beracun berbahaya, warga kampung si Pitung  dan Warga Rusun Marunda mulai mengeluhkan adanya penumpukan pasir di beberapa titik diantaranya di jalan menuju Kawasan Wisata si Pitung dan di wilayah Pemukiman Warga RW 07 Rumah Susun Marunda, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing Jakarta Utara, baru-baru ini.

Hal tersebut diakui oleh pemilik lahan bernama Suwarni, warga Kampung si Pitung yang lahan miliknya ditimbuni oleh material menyerupai pasir halus berbau dan dapat mengeluarkan hawa sangat panas pada siang hari.

"Saya gak ngerti bagaimana timbunan itu bisa ada di situ, kemungkinan itu dibuang pada malam hari sehingga luput dari pengawasan kami," ujar Suwarni keheranan. Namun dirinya belum bisa memastikan apakah itu limbah bebahaya atau tidak.

Di tempat terpisah, Heri Iskandar justru mendapat dampak langsung dengan adanya timbunan limbah tersebut. Pria yang bertugas sebagai Ketua Kelompok Pembuat Pupuk Kompos ini mengakui banyak tanamannya yang mati dan mengering.

"Awalnya saya tidak begitu memperhatikan namun belakangan saya baru menyadari bahwa itu ternyata dampak dari timbunan itu," jelasnya sambil menunjuk ke arah gundukan tanah yang memenuhi sisi jalan arah objek wisata si Pitung.

Sebelumnya, menurut Heri dirinya pernah mengadukan hal tersebut ke KLH, tapi belum ada tanggapan.

"Hanya mengucapkan terimakasih, lalu memberi apresiasi atas kepeduliannya terhadap lingkungan," ucapnya kepada KORANMETRO.com, kemarin.

Sementara Ustad Din, pria yang bekerja di Rumah Kompos Marunda turut memperkuat dugaan bahwa material tersebut adalah bahan berbahaya, pasalnya selain mematikan bibit-bibit pohon yang telah dikelolanya juga bisa menimbulkan reaksi panas berupa bara api.

"Namun anehnya kalau dibakar dengan api, tanah itu tidak menyala. Tanah itu akan bereaksi hanya dengan suhu alam, nyala seperti batu bara," ucap pria yang akrab di sapa Ustad itu.

Saat dikonfirmasi KORANMETRO.com, Didi, Ketua RW setempat membenarkan bahwa di wilayahnya memang banyak diketemukan material limbah yang diduga hasil dari pembuangan industri minyak goreng dan juga pembuangan hasil pembakaran dari Batubara.

"Itu memang permintaan dari masyarakat di sini, warga juga mengetahui kalau itu limbah minyak, namun terkait masalah dampaknya kami juga tidak mengetahuinya. Apalagi bila dikatakan itu masuk kategori Bahan Beracun Berbahaya (B3),"jelas Didi.

Dari pantauan KORANMETRO.com di Jalan Kampung Wisata Pitung Marunda, banyak timbunan limbah yang sudah digunakan untuk pengurukan rumah tinggal, fasilitas jalan lingkungan, tempat parkir dan juga penimbunan lahan kosong.

Di beberapa titik juga banyak terdapat timbunan pasir limbah yang memang disediakan untuk warga yang menginginkannya secara gratis. Diduga pelaku industri kesulitan membuang limbah tersebut karena belum tersedianya TPA khusus limbah. Sehingga memanfaatkan ketidak tahuan masyarakat akan dampak bahayanya terhadap lingkungan dan kesehatan.

Atas informasi tersebut, Dinas Pengawas Lingkungan Hidup DKI, Arifudin berjanji akan merespon pengaduan masyarakat dan secepatnya akan berkordinasi dengan Seksi Penenganan Pengaduan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI. (tahar)