oleh

Cinta Pertama Tapi Bertepuk Sebelah Tangan? Waduh Masih Saja Ingat Loh…

JAKARTA, KoranMetro.com – Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ya, ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka yang sangat mendalam dan sangat membekas. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tidak dapat terlupakan dari kehidupan seseorang.

Seperti yang dituturkan oleh Elsa Ariyanti tinggal di Jakarta.

Hai, perkenalkan namaku Elsa. Aku ingin berbagi sedikit kisah cinta, bisa dibilang cinta pertama, semoga kalian yang membaca tulisanku ini mampu mengambil hikmahnya, ya.

Aku tinggal di suatu kampung di daerah Jawa tengah, tahun 2014, saat itu umurku 15 tahun, baru lulus SMP. Seorang pemuda yang usianya 4 tahun di atasku telah mencuri hatiku. Ya aku terpesona pada sosok santri itu, dia adalah anak dari saudaranya tetanggaku, yang kebetulan tengah berkunjung sebelum lanjut kuliah di salah satu universitas di Jawa Timur. Sosoknya yang sederhana, ramah, benar benar membuat aku terpesona. Dan anehnya kami belum sama sekali berkenalan secara lagsung, namun aku sudah merasakan sesuatu yang dibilang jatuh cinta.

Siang hari yang sedikit mendung itu menciptakan kisah di mana kami bertemu secara langsung. Aku bersama tiga temanku sedang membuat persiapan ospek untuk minggu ini, Aku, Fita, Ayu, dan Rena. Kami berkumpul di rumah nenek Rena. Rena sendiri adalah saudara sepupu darinya.

Singkat cerita aku meminta kontaknya secara langsung kepada Rena, karena aku pikir dengan cara itu kami bisa semakin dekat. Bagusnya Rena sama sekali tidak menaruh curiga dengan caraku ini. Untuk pertama kali aku mengirimkan pesan melalui SMS ke dia, namun sayang aku kirim SMS ba’da Subuh, eh dibalasnya bada Zuhur. Tapi tak mengapa, aku pantang mundur orangnya.

Setelah dari SMS merambah ke media social, kali ini aku menanyakan kepada Rena apa akun FB darinya. Yups, aku mendapatkannya, aku scroll foto dan status yang dia update, berbunga-bunga rasanya. Hampir tiap minggu aku selalu me-chat dia, namun sayangnya respons dia seperti biasa saja, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun pun berganti, dan nihil.

Sama sekali, dia bersikap biasa aja, tanpa ada tanda-tanda perasaanku berbalas. Aku tidak menyerah hingga aku lulus SMA pada tahun 2017. Dan anehnya meskipun tahun sudah berganti, perasaanku masih sama seperti awal pertama bertemu, jatuh cinta. Hitungan untuk bertemu secara langsung itu sangat sedikit sekali, bahkan setelah tahun 2014 itu, aku tak pernah menemukan sosoknya lagi. Meskipun aku tidak lagi bertemu dengannya, kami masih saling chatting walaupun frekuensinya semakin jarang, bisa jadi 6 bulan sekali kami chatting, bertukar kabar. Sedih namun aku menikmatinya, aku jadikan semangat tersendiri seolah-olah ini adalah penantian yang akan berakhir bahagia.

Semakin Berjarak

Sejak masuk SMP pada tahun 2014 hingga 2017, kisah putih abu-abuku dihiasi oleh sosoknya, bayanganku sudah jauh, di mana pada suatu saat kami bersatu, saling mencintai satu sama lain dan hidup berbahagia, itulah yang aku pikirkan waktu dulu. Hingga suatu ketika tindakan konyol yang mempertaruhkan masa depan aku lakukan.

Suatu kondisi di mana aku masuk daftar siswa yang bisa masuk jalur SNMPTN, di sana aku harus memilih universitas terlebih dahulu, dan bodohnya aku, dengan sangat yakin aku memilih universitas yang sama seperti dia, di mana tingkat keterimanya sangat kecil, namun aku sangat yakin mampu, dan pada akhirnya aku gagal. Hancur sudah harapan aku untuk bisa satu universitas dengannya.

Setelah lulus SMA, aku memilih tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, karena kondisi ekonomi keluarga tidak mampu pada saat itu, aku berpikir daripada aku lanjut kuliah maka aku memilih bekerja. Aku bekerja di bagian produksi di suatu pabrik makanan di kotaku.

Entah suatu kebetulan atau apa, semesta sedang berkonspirasi , setelah tiga tahun aku sama sekali tidak bertemu dengannya di tahun 2017 dia muncul sebagai mahasiswa yang magang ditempatku bekerja, dan ternyata dia memilih tinggal di tempat saudaranya yang merupakan tetanggaku tadi, ah betapa bahagianya aku. Dan dia tinggal lebih lama di sini. Sejak aku tahu itu dia, aku mulai rajin menghubungi dia lagi by WA.

Kami saling mengobrol semakin intens. Hingga perpisahan itu tiba, dia kembali ke Jawa Timur untuk melanjutkan studinya, dan aku kesepian lagi. Hingga akhirnya aku pergi ke Jakarta untuk bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang pergudangan.

Bertepuk Sebelah Tangan

Setelah tiga tahun lebih memendam perasaan padanya, aku tak sanggup berlama-lama dengan suatu yang mengganjal seperi ini, akhirnya aku memilih mengutarakan kepada dia. Aku pikir itu lebih baik. Dan setelah aku beri tahu, betapa kecewanya aku, dia hanya menganggapku sebagai adiknya. Aku hancur dan memilih mundur, dia mengkhawatirkan keadaanku saat itu, aku menangis sejadi-jadinya, nafsu makan menurun, produktivitas pun sama, dia mencoba menghubungi aku berkali kali, namun aku abaikan.

Setelah sebulan aku di masa kelam, aku memilih ikhlas dan tak lagi berharap. Aku berusaha bangkit lagi, mulai menekuni pekerjaan, bersosialisasi dengan orang orang sekitar, meningkatkan ibadah, perbaikan mental dengan banyak banyak bersyukur dan alahmdulillah-nya lagi aku mengambil kuliah malam. Semua aku lakukan mencoba dengan sabar, sehingga pikiranku tidak terfokus ke masa lalu.

Susahnya bukan main untuk berada di fase sekarang, tapi daripada bertahan pada sesuatu yang salah, bukankah itu lebih salah, teman-teman? Bukankah bangkit dari patah hati adalah sebagian dari iman? Hehe, begitulah sekiranya yang aku baca dari buku. Aku lebih memilih untuk bersabar dengan kisah yang Allah takdirkan.

Begitulah kita sebagai manusia, janganlah pernah menggantungkan hati dan harapan ke dia, di mana dia sendiri sebagai makhluk yang kadang bingung terhadap hatinya yang mampu berubah-ubah. Mari gantungkan mimpi dan harapan hanya kepada-Nya. Insyaallah yang terbaik akan Allah datangkan aamiin. Keep fighting ya kawan-kawan. (*)

Komentar

News Feed