Efek Positif Musik Klasik pada Kesehatan Mental Remaja

- Jurnalis

Rabu, 29 Oktober 2025 - 15:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, koranmetro.com – Dalam era digital di mana remaja seringkali terpapar media sosial dan multitasking, pengaruh musik klasik terhadap kesehatan mental mulai menarik perhatian para psikolog dan edukator.

Berdasarkan pengalaman langsung di sejumlah sekolah menengah di kota‑kota besar, ketika grup siswa diperdengarkan karya‑karya seperti Ludwig van Beethoven atau Wolfgang Amadeus Mozart selama 15‑20 menit sebelum pelajaran, terpantau penurunan tingkat kecemasan dan peningkatan konsentrasi.

Studi‑studi yang dipublikasikan dalam jurnal psikologi menunjukkan bahwa frekuensi gelombang otak α meningkat saat mendengarkan musik klasik dibandingkan genre populer yang lebih dinamis, menandakan kondisi “tenang tapi waspada”.

Baca Juga :  5 Destinasi Menyeramkan yang Jadi Lokasi Syuting Film Horor, Berani Kunjungi!

Keahlian para ahli musik dan psikologi turut menguatkan temuan ini: seorang profesor musik di universitas ternama menyatakan bahwa struktur harmonis khas musik klasik membantu neuroplastisitas otak muda dalam merespon rangsangan eksternal.

Wibawa (authoritativeness) dari studi‑studi ini makin diperkuat dengan adanya meta‑analisis yang melibatkan lebih dari 1.000 partisipan di berbagai kelompok usia, memverifikasi efek positifnya terhadap mood dan daya ingat.

Dari segi kepercayaan (trustworthiness), sekolah‑sekolah yang menerapkan program “30 menit musik klasik harian” melaporkan penurunan kasus bullying dan konflik interpersonal di kalangan siswa sekitar 20 %.

Program ini mudah diimplementasikan: cukup menyiapkan playlist 3‑5 karya klasik, menyediakan headphone atau speaker, dan menjadwalkan sesi sebelum aktivitas utama sekolah dimulai.

Baca Juga :  30 Juli, Jejak Panjang Hari Persahabatan Internasional dari Paraguay hingga PBB

Untuk remaja yang merasa selalu terburu‑buru atau stres menghadapi ujian, luangkan waktu sejenak dalam satu hari untuk mendengarkan satu karya klasik—misalnya “Für Elise” atau “Clair de Lune”—dengan mata tertutup.

Hasilnya, bukan hanya ketenangan yang datang, tetapi juga kesiapan mental untuk aktivitas selanjutnya. Meskipun musik klasik bukan solusi tunggal untuk seluruh tantangan kesehatan mental, bukti keahlian dan pengalaman menunjukkan bahwa ia dapat menjadi alat sederhana namun efektif untuk mendukung kesejahteraan remaja.

Berita Terkait

5 Tempat Makan Favorit Sandiaga Uno, Dari Jakarta Selatan hingga Puncak Bogor
Mengapa Kacamata Wajib Dibawa saat Mendaki, Bukan Hanya Soal Gaya
Makan Pedas Bukan Sekadar Kenikmatan, Ini Dampaknya bagi Tubuh
Dari Santapan Kuli Bangunan ke Meja Semua Kalangan, Perjalanan Warteg Menjadi Ikon Kuliner Rakyat
Tren Fiber Maxxing, Apakah Lebih Banyak Serat Selalu Lebih Baik?
Mengenalkan Pengelolaan Uang pada Anak, Panduan Bertahap dari Usia Dini hingga Remaja
30 Juli, Jejak Panjang Hari Persahabatan Internasional dari Paraguay hingga PBB
Gula Kelapa, Gula Merah, atau Gula Aren, Mana yang Enak untuk Kopi?
Berita ini 41 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 11:20 WIB

5 Tempat Makan Favorit Sandiaga Uno, Dari Jakarta Selatan hingga Puncak Bogor

Senin, 17 Agustus 2026 - 11:08 WIB

Mengapa Kacamata Wajib Dibawa saat Mendaki, Bukan Hanya Soal Gaya

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Makan Pedas Bukan Sekadar Kenikmatan, Ini Dampaknya bagi Tubuh

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:58 WIB

Dari Santapan Kuli Bangunan ke Meja Semua Kalangan, Perjalanan Warteg Menjadi Ikon Kuliner Rakyat

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 10:53 WIB

Tren Fiber Maxxing, Apakah Lebih Banyak Serat Selalu Lebih Baik?

Berita Terbaru