Tren Slow Fashion, Gaya Hidup Ramah Lingkungan yang Semakin Diminati

- Jurnalis

Senin, 6 Oktober 2025 - 16:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, koranmetro.com – Dalam beberapa tahun terakhir, dunia mode mulai bergerak ke arah yang lebih sadar lingkungan melalui tren slow fashion. Berbeda dengan fast fashion yang memproduksi pakaian massal dengan cepat dan murah, slow fashion menekankan kualitas, keberlanjutan, dan etika dalam setiap tahap produksi. Gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa industri mode merupakan salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia, baik dari sisi bahan sisa maupun polusi air.

Slow fashion mendorong masyarakat untuk membeli pakaian seperlunya dan lebih menghargai proses pembuatannya. Konsumen kini mulai tertarik pada produk lokal, pakaian daur ulang, serta bahan alami seperti katun organik dan linen. Banyak brand kecil di Indonesia yang ikut mendukung gerakan ini dengan menawarkan desain timeless dan produksi terbatas, sehingga pakaian tidak cepat usang secara tren.

Baca Juga :  Vietnam Catat Angka Kelahiran Terendah Sepanjang Sejarah

Selain itu, slow fashion juga mengubah cara pandang terhadap gaya hidup. Tidak sekadar mengikuti mode, melainkan memahami nilai di balik setiap pakaian yang dikenakan. Menggunakan pakaian lama dengan cara baru, memperbaiki daripada membuang, hingga menukar pakaian dengan teman menjadi bagian dari kebiasaan baru yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga :  Waspada Merkuri dalam Skincare, Ancaman Tersembunyi yang Bisa Merusak Otak dan Organ Tubuh

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, slow fashion bukan lagi sekadar gaya, tetapi menjadi pernyataan etis dan sosial. Melalui pilihan kecil seperti membeli lebih bijak dan merawat pakaian dengan baik, kita turut berkontribusi dalam menjaga bumi. Dunia mode kini bukan hanya tentang tampil menarik, tetapi juga tentang bertanggung jawab terhadap planet tempat kita hidup.

Berita Terkait

Memahami Window of Tolerance, Kunci Mengelola Perasaan Kewalahan
Kurang Oksigen Saat Tidur Bisa Picu Hipertensi, Dokter Ingatkan Bahaya Dengkur
Lima Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Mengancam Kesehatan Mata
Batik Atthaya, Ketika Melestarikan Batik Juga Menjadi Ruang Pemulihan Penyintas Skizofrenia
Ahli Kaki Ingatkan, Jangan Terlalu Lama Pakai Sandal Jepit di Dalam Rumah
Panduan Memilih Manikur, 7 Jenis Populer dan Cocoknya untuk Setiap Kondisi Kuku
Tiga Zodiak yang Bakal Merasa Lebih Ringan dan Bahagia di Tanggal 10 Oktober 2026
Kenapa Otak Kita Ketagihan Kombinasi Pedas Manis? 3 Penjelasan Ilmiah di Balik “Swicy”
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:14 WIB

Memahami Window of Tolerance, Kunci Mengelola Perasaan Kewalahan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:20 WIB

Kurang Oksigen Saat Tidur Bisa Picu Hipertensi, Dokter Ingatkan Bahaya Dengkur

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:21 WIB

Lima Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Mengancam Kesehatan Mata

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:12 WIB

Batik Atthaya, Ketika Melestarikan Batik Juga Menjadi Ruang Pemulihan Penyintas Skizofrenia

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:01 WIB

Ahli Kaki Ingatkan, Jangan Terlalu Lama Pakai Sandal Jepit di Dalam Rumah

Berita Terbaru

AC Milan berhasil menang 3-1 atas Inter Milan pada laga Derby della Madonnina di San Siro, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Liga Italia

AC Milan Bungkam Inter 3-1 di Derby della Madonnina

Minggu, 1 Nov 2026 - 11:17 WIB

Pebalap Gresini Racing, Alex Marquez, berhasil merebut pole position pada sesi kualifikasi MotoGP Malaysia 2026 di Sirkuit Sepang,

OTOMOTIF

Alex Marquez Raih Pole Position di MotoGP Malaysia 2026

Sabtu, 31 Okt 2026 - 11:12 WIB

Pernahkah Anda merasa tiba-tiba kewalahan, sulit berpikir jernih,

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Memahami Window of Tolerance, Kunci Mengelola Perasaan Kewalahan

Jumat, 30 Okt 2026 - 11:14 WIB