JAKARTA, koranmetro.com – EXE-OS adalah sistem operasi ringan yang dirancang khusus untuk menghidupkan kembali komputer lawas dengan sumber daya terbatas, seperti RAM di bawah 2 GB dan prosesor lama. Berbeda dengan distro Linux mainstream yang sering kali tetap berat untuk perangkat jadul, EXE-OS menyuguhkan antarmuka minimalis berbasis command-line dengan dukungan aplikasi grafis berbasis midori dan terminal yang benar-benar efisien. Pengguna yang memiliki pengalaman teknis bisa menginstalnya dari USB berukuran hanya 256 MB, menjadikannya solusi ideal untuk sekolah atau kantor kecil yang ingin mendaur ulang perangkat lama.
Dibangun di atas kernel Linux modular, EXE-OS mengedepankan prinsip efisiensi energi dan performa—garis perintah utama dan utilitas bawaan dimuat sebagian di RAM, dan sisanya berjalan melalui pointer disk, sehingga membebaskan memori untuk aplikasi produktivitas ringan seperti pengolah teks ringan dan browser sederhana. Para pengembangnya yang sebagian berlatar akademisi menjamin dokumentasi terbuka, termasuk panduan instalasi dan tutorial pemeliharaan, yang juga didukung forum komunitas aktif. Ini memperkuat kredibilitas OS ini sebagai tool terpercaya untuk edukasi dan lingkungan low-cost computing.
Keunggulan lain dari EXE-OS adalah konsumsi daya yang rendah, penting khususnya di daerah dengan listrik tidak stabil atau mahal. Dengan footprint memori minimal dan tanpa GUI berat, EXE-OS memungkinkan boot dalam hitungan detik dan merespons secara instan—sangat membantu di kelas komputer yang sering digunakan bergantian. Bagi lembaga pendidikan atau pengusaha kecil, ini bukan hanya solusi teknis, tetapi juga opsi hemat anggaran yang nyata. Keandalan, kemudahan pemeliharaan, dan filosofi terbukanya membuatnya layak diperhitungkan di ranah teknologi terbaru, meski tampaknya sepele. EXE-OS membuktikan bahwa kreativitas dan kepekaan terhadap kebutuhan nyata pengguna bisa menciptakan inovasi yang sederhana namun berdaya guna tinggi.