Kerusuhan Melanda Perancis, Demo Biaya Hidup Berujung Penjarahan dan Kerusakan Massal

- Jurnalis

Senin, 19 Oktober 2026 - 11:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gelombang demonstrasi menolak tingginya biaya hidup di Perancis berubah menjadi aksi kekerasan pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Gelombang demonstrasi menolak tingginya biaya hidup di Perancis berubah menjadi aksi kekerasan pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

JAKARTA, koranmetro.com – Gelombang demonstrasi menolak tingginya biaya hidup di Perancis berubah menjadi aksi kekerasan pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Di sejumlah kota, termasuk Paris, massa terlibat bentrokan dengan polisi, menjarah toko, membakar kendaraan, serta merusak bangunan publik. Hingga hari berikutnya, jalanan di berbagai wilayah masih dipenuhi pecahan kaca, sisa kebakaran, dan puing-puing.

Pemicu dan Skala Aksi

Aksi ini dipicu oleh ketidakpuasan masyarakat terhadap kenaikan harga, terutama bahan bakar, serta menurunnya kualitas layanan publik, termasuk pendidikan. Ratusan ribu orang turun ke jalan di lebih dari 100 lokasi di seluruh negeri. Serikat pekerja memperkirakan jumlah peserta mencapai sekitar 800.000 orang, sementara pihak berwenang menyebut angka sekitar 550.000.

Sebagian besar unjuk rasa berlangsung damai. Namun, di sejumlah titik, kelompok bertopeng dan berpakaian hitam memicu kekerasan yang membuat situasi tak terkendali.

Kerusakan dan Penjarahan

Di Paris, sejumlah toko—termasuk butik merek terkenal dan gerai ritel—dijarah. Jendela toko dipecahkan, barang-barang digondol, dan beberapa kendaraan dibakar. Suasana serupa terjadi di kota-kota lain seperti Marseille, Bordeaux, Lyon, Lille, dan Nice.

Baca Juga :  Jet Tempur Thailand Hancurkan Sindikat Judi Online di Perbatasan Kamboja

Salah satu insiden paling mencolok terjadi di Limoges, di mana balai kota berusia lebih dari satu abad dibakar hingga mengalami kerusakan parah. Di Lyon, kantor pariwisata juga menjadi sasaran pembakaran.

Menurut data awal, ratusan hingga lebih dari 1.500 unit usaha mengalami kerusakan atau penjarahan. Kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta euro.

Korban dan Penahanan

Menteri Dalam Negeri Perancis melaporkan lebih dari 1.800 orang ditahan terkait aksi kekerasan tersebut. Ratusan petugas polisi, gendarmerie, dan petugas pemadam kebakaran mengalami luka-luka.

Seorang demonstran dilaporkan meninggal dunia akibat serangan jantung saat aksi berlangsung di Paris. Selain itu, seorang remaja di Saint-Étienne mengalami cedera serius setelah terkena granat kendali massa.

Respons Pemerintah

Presiden Emmanuel Macron mengecam aksi vandalisme dan penjarahan. Ia menegaskan bahwa pelaku perusakan dan penyerangan terhadap fasilitas publik maupun tempat usaha akan dituntut secara hukum. Pemerintah juga menggelar rapat koordinasi untuk menilai dampak dan langkah penanganan selanjutnya.

Baca Juga :  Israel Klaim Operasi Intelijen Shin Bet Berhasil Bunuh Anggota Senior Hamas

Otoritas setempat di beberapa kota mengumumkan bantuan bagi pelaku usaha yang terdampak. Sementara itu, proses identifikasi pelaku kekerasan terus dilakukan.

Situasi Terkini

Pada hari Minggu, 18 Oktober 2026, sejumlah wilayah masih menunjukkan sisa-sisa kerusuhan. Jalanan dipenuhi puing, toko-toko ditutup sementara, dan petugas keamanan tetap siaga. Kerusuhan ini dinilai sebagai salah satu gelombang kekerasan paling intens di Perancis dalam beberapa tahun terakhir, terjadi di tengah ketegangan sosial menjelang periode politik penting di negeri itu.

Demonstrasi yang awalnya menyuarakan persoalan biaya hidup akhirnya meninggalkan jejak kerusakan luas, penahanan massal, serta pertanyaan besar mengenai kemampuan negara dalam mengelola ketidakpuasan publik yang semakin meningkat.

Berita Terkait

Iran Buka Akses Selat Hormuz untuk Empat Negara, Ada Imbalan Strategis
Pemilu Sela AS 2026, Kontrol Kongres Jadi Taruhan Besar bagi Pemerintahan Trump
AS Setujui 500 Rudal Patriot untuk Ukraina, namun Pengiriman Masih Lama
Singapura Panggil Eksekutif Perusahaan Terkait Kabut Asap Karhutla, Dipimpin Tiga Menteri
Peringatan Intelijen AS, Ancaman terhadap Personel Amerika di Timur Tengah Meningkat
Dua Kerentanan Kritis PHP Ditemukan AI, Puluhan Persen Situs Dunia Ambil Langkah Darurat
Serangan Rudal Houthi Hantam Istana Al-Maashiq di Aden, Lima Tewas dan 16 Luka-luka
Dua WNI Alami Luka Ringan dalam Serangan di Riyadh, KBRI Pastikan Kondisi Sudah Membaik
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 11:08 WIB

Iran Buka Akses Selat Hormuz untuk Empat Negara, Ada Imbalan Strategis

Rabu, 4 November 2026 - 11:21 WIB

Pemilu Sela AS 2026, Kontrol Kongres Jadi Taruhan Besar bagi Pemerintahan Trump

Minggu, 1 November 2026 - 11:08 WIB

AS Setujui 500 Rudal Patriot untuk Ukraina, namun Pengiriman Masih Lama

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:08 WIB

Singapura Panggil Eksekutif Perusahaan Terkait Kabut Asap Karhutla, Dipimpin Tiga Menteri

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Peringatan Intelijen AS, Ancaman terhadap Personel Amerika di Timur Tengah Meningkat

Berita Terbaru

Merasa tidak dihargai dalam pertemanan bisa menguras energi. Kamu mungkin sering jadi pihak yang lebih dulu menghubungi,

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Saat Pertemanan Terasa Satu Arah, 6 Cara Menyampaikan Perasaanmu

Sabtu, 7 Nov 2026 - 11:05 WIB