Lonjakan Kerugian Satoshi Nakamoto, Bitcoin Anjlok, Kekayaan Misteriusnya Hilang Rp 714 Triliun

- Jurnalis

Senin, 24 November 2025 - 11:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasar kripto kembali berguncang. Harga Bitcoin (BTC) yang sempat menyentuh puncak $126.296 pada 6 Oktober 2025,

Pasar kripto kembali berguncang. Harga Bitcoin (BTC) yang sempat menyentuh puncak $126.296 pada 6 Oktober 2025,

JAKARTA, koranmetro.com – Pasar kripto kembali berguncang. Harga Bitcoin (BTC) yang sempat menyentuh puncak $126.296 pada 6 Oktober 2025, kini terpuruk ke kisaran $87.390 pada awal November—penurunan lebih dari 30% dalam waktu singkat. Dampaknya? Kekayaan Satoshi Nakamoto, pencipta anonim Bitcoin, tergerus habis-habisan hingga mencapai $41 miliar atau sekitar Rp 714 triliun (dengan kurs Rp 17.400 per dolar AS). Ini bukan sekadar angka; ini adalah pengingat pahit tentang volatilitas kripto yang bisa mengubah miliarder menjadi “miskin” dalam semalam. Siapa Satoshi? Mengapa dompetnya tetap diam? Dan apa artinya ini bagi masa depan Bitcoin? Mari kita bedah fakta di balik badai ini.

Penurunan Dramatis: Dari Puncak ke Jurang

Bitcoin, aset digital pertama di dunia, telah menjadi simbol kekayaan instan sejak lahir pada 2009. Pada Oktober lalu, saat BTC mencapai all-time high (ATH) $126.296, total holdings Satoshi—diperkirakan 1,1 juta BTC—menggelembung menjadi $138,92 miliar. Itu cukup untuk menjadikannya orang terkaya ke-11 di dunia, melebihi banyak miliarder terkenal seperti Bill Gates.

Tapi, seperti biasa, euforia kripto diikuti koreksi brutal. Pada akhir November 2025, BTC anjlok ke $80.000-an, menghapus seluruh keuntungan tahun ini (YTD) dan mencatat penurunan 12% secara keseluruhan. Ethereum (ETH) pun tak luput, turun hampir 19%. Penyebab utama? Kombinasi faktor makro: ketakutan resesi global, regulasi ketat dari SEC AS terhadap ETF kripto, dan aksi jual panik dari “whale” institusional. Hasilnya, kekayaan Satoshi tergerus $41 miliar—setara Rp 714 triliun—membuatnya turun ke peringkat 20 terkaya dunia, tepat di bawah Gates.

Baca Juga :  OnePlus 15, Peluncuran Global Flagship Tanpa Hasselblad, Fokus pada Inovasi Internal

Ini bukan yang pertama. Sejak 2010, dompet-dompet awal Satoshi (dikenal sebagai “Patoshi Pattern”) tak pernah bergerak. Analis seperti Sergio Lerner dari RSK Labs mengidentifikasi lebih dari 22.000 alamat yang kemungkinan dikuasai satu entitas, tapi tetap dormant. Apakah Satoshi hilang akses? Atau sengaja menahan untuk menghindari manipulasi pasar? Misteri ini justru makin menambah daya tariknya.

Siapa Satoshi Nakamoto? Legenda yang Tak Terlihat

Satoshi Nakamoto adalah pseudonym pencipta Bitcoin, yang merilis whitepaper pada 2008 dan mining blok genesis tahun berikutnya. Identitasnya? Masih teka-teki terbesar kripto. Teori populer: Hal Finney (programmer yang menerima transaksi BTC pertama), Nick Szabo (pencipta Bit Gold), atau bahkan sekelompok orang. Yang pasti, Satoshi menghilang pada 2011, meninggalkan jaringan yang kini bernilai triliunan.

Holdings-nya, sekitar 5% dari total suplai BTC (21 juta koin), tak tersentuh. Jika dijual, bisa memicu crash total. Tapi justru ketidakbergerakannya ini yang membuat analis seperti Arkham Intelligence yakin: Ini milik Satoshi. Pada puncaknya, kekayaan ini melebihi Elon Musk atau Jeff Bezos. Kini, setelah penurunan, nilainya “hanya” $95,8 miliar—masih cukup untuk beli puluhan negara kecil.

Dampak Global: Dari Investor Kecil hingga Pasar Keuangan

Penurunan ini bukan cuma menyakiti Satoshi yang tak terlihat. Investor ritel di Indonesia, misalnya, banyak yang rugi miliaran rupiah setelah FOMO (fear of missing out) di ATH. Pasar kripto global kehilangan $1 triliun kapitalisasi dalam sepekan, memicu efek domino ke saham tech seperti MicroStrategy (pemegang BTC terbesar kedua).

Baca Juga :  Menko Zulhas Serukan Sanksi Tegas bagi Pejabat yang Beli Gabah di Bawah Rp6.500

Di sisi lain, ini membuka debat etis: Haruskah kekayaan anonim seperti Satoshi masuk daftar miliarder Forbes? Forbes sendiri menolak, karena “belum diverifikasi apakah Satoshi hidup atau satu orang.” Tapi platform seperti Bitget dan Arkham tetap memasukkannya, memicu diskusi tentang transparansi kripto. Bahkan, film “Killing Satoshi” yang rilis 2026 akan mengeksplorasi implikasi geopolitik dari harta karun dormant ini—termasuk risiko quantum computing yang bisa retas dompet lama.

Kejadian ini menggarisbawahi esensi kripto: High risk, high reward. Satoshi, siapa pun dia, tak panik jual—mungkin karena keyakinan pada visi Bitcoin sebagai “uang digital peer-to-peer.” Bagi investor biasa, pelajarannya jelas: Diversifikasi, jangan leverage berlebih, dan ingat bahwa BTC pernah bangkit dari $3.000 (2018) ke $126.000 (2025).

Analis optimis: Dengan halving BTC ke-5 pada 2028 dan adopsi institusional, rebound bisa datang cepat. Satoshi bisa kembali jadi orang terkaya hidup. Tapi untuk sekarang, Rp 714 triliun yang hilang adalah pengingat: Di dunia kripto, kekayaan bisa datang dan pergi seperti angin.

Berita Terkait

Intel Kembali PHK Karyawan, Kali Ini Giliran Divisi Data Center
Saya Coba Asus Vivobook Go 14, Laptop Ganteng dengan Port Lengkap untuk Pelajar
10 HP Xiaomi, Redmi, dan Poco Tak Dapat Update Lagi, Ada Punyamu?
XLSmart Raih Frekuensi 700 MHz, Telkomsel Dominasi Pita 2,6 GHz, Babak Baru Persaingan Telekomunikasi Indonesia
Bocoran Fitur HyperOS 4 Xiaomi, Desain Lebih Fresh dan Fitur Baru yang Dinanti
Duel HP Gaming Berpendingin Liquid, Infinix GT 50 Pro vs Nubia Neo 5 GT Special Edition
CEO Apple Peringatkan Terjadi ‘Banjir Seratus Tahunan’ di Industri Teknologi
Cara Menggunakan AI Secara Efektif dan Bertanggung Jawab Menurut Panduan Microsoft
Berita ini 72 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 11:14 WIB

Intel Kembali PHK Karyawan, Kali Ini Giliran Divisi Data Center

Sabtu, 18 Juli 2026 - 11:15 WIB

10 HP Xiaomi, Redmi, dan Poco Tak Dapat Update Lagi, Ada Punyamu?

Rabu, 15 Juli 2026 - 11:29 WIB

XLSmart Raih Frekuensi 700 MHz, Telkomsel Dominasi Pita 2,6 GHz, Babak Baru Persaingan Telekomunikasi Indonesia

Senin, 13 Juli 2026 - 11:25 WIB

Bocoran Fitur HyperOS 4 Xiaomi, Desain Lebih Fresh dan Fitur Baru yang Dinanti

Jumat, 10 Juli 2026 - 11:27 WIB

Duel HP Gaming Berpendingin Liquid, Infinix GT 50 Pro vs Nubia Neo 5 GT Special Edition

Berita Terbaru

PT Astra Daihatsu Motor resmi menaikkan harga Daihatsu Xenia mulai awal Juli 2026.

OTOMOTIF

Daihatsu Kerek Harga Xenia, Cek Daftar Harga Terbaru 2026

Rabu, 22 Jul 2026 - 11:27 WIB