JAKARTA, koranmetro.com – Pemandangan tak biasa terjadi di Warsawa, Polandia. Pada 7 September 2026, puluhan robot—mulai dari humanoid berkaki dua hingga robot berkaki empat menyerupai anjing—terlihat berbaris di depan gedung Kementerian Urusan Digital. Mereka membawa bendera, berputar dalam formasi, dan memutar slogan melalui speaker.
Isi tuntutannya jelas: regulasi kecerdasan buatan (AI) yang lebih tegas dan perlindungan bagi pekerja yang terancam otomatisasi.
Bukan Aksi Spontan Robot
Tentu saja robot-robot itu tidak bergerak atas kehendaknya sendiri. Aksi ini digagas oleh Democratism, sebuah inisiatif yang ingin mendorong diskusi publik soal dampak AI dan robotisasi terhadap pasar tenaga kerja.
Menurut penyelenggara, kehadiran robot di aksi tersebut dimaksudkan sebagai simbol. Teknologi yang selama ini dibicarakan sebagai ancaman di masa depan ternyata sudah berada di ruang publik—bahkan mampu “ikut demo.”
Slogan yang diputar selama aksi antara lain:
- “Lindungi lapangan kerja”
- “Saatnya membuat aturan”
- “Jangan menunggu, buat regulasi”
Kekhawatiran akan Penggantian Tenaga Kerja
Organisator aksi, Grzegorz Kuliś, menekankan bahwa yang mereka soroti bukan hanya robot di pabrik, tetapi juga potensi AI menggantikan pekerjaan kognitif manusia.
“Jika kita tidak bereaksi sekarang, kita bisa segera menghadapi masalah,” ujarnya.
Dengan kata lain, aksi ini bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan seruan agar kemajuan AI diiringi aturan yang melindungi pekerja.
Respons Pemerintah Polandia
Menteri Urusan Digital Polandia, Krzysztof Gawkowski, sempat menemui para penyelenggara aksi di lokasi. Ia menyatakan bahwa Polandia sedang menyusun kerangka pengawasan terhadap pasar AI, sejalan dengan penerapan AI Act Uni Eropa.
Pemerintah juga menyinggung rencana pembentukan komisi terkait pengembangan dan keamanan AI, serta mekanisme uji coba terbatas sebelum teknologi diterapkan secara luas.
Mengapa Aksi Ini Menarik Perhatian?
Unjuk rasa ini menjadi sorotan karena caranya yang unik. Alih-alih hanya membawa poster, para aktivis menghadirkan langsung teknologi yang sedang dipersoalkan. Hasilnya, pesan tentang regulasi AI tersebar jauh lebih luas dibanding demonstrasi konvensional.
Di tengah lonjakan penggunaan AI di berbagai sektor, aksi di Warsawa menjadi pengingat bahwa perdebatan tentang etika, ketenagakerjaan, dan tata kelola teknologi semakin mendesak.
Kehadiran puluhan robot di depan kementerian digital Polandia mungkin tampak seperti adegan fiksi ilmiah. Namun di baliknya terdapat persoalan nyata: bagaimana masyarakat mengelola kemajuan teknologi tanpa mengorbankan pekerja.
Aksi tersebut tidak anti-AI. Ia justru menuntut agar inovasi berjalan beriringan dengan aturan yang jelas. Sebab jika regulasi selalu tertinggal dari teknologi, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan kerja—tetapi juga arah perkembangan teknologi itu sendiri.









