koranmetro.com – Kehadiran Presiden terpilih Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) Davos kembali menarik perhatian publik internasional. Namun kali ini, bukan hanya isu geopolitik atau pertahanan yang menjadi sorotan, melainkan pernyataannya soal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai ambisius dan berskala sangat besar. Dalam salah satu sesi diskusi, Prabowo menyebut bahwa jumlah porsi makanan yang disalurkan melalui program MBG berpotensi melampaui total porsi McDonald’s di Indonesia hanya dalam waktu satu bulan.
Pernyataan tersebut sontak memicu diskusi luas di kalangan peserta WEF. Prabowo menegaskan bahwa MBG bukan sekadar program bantuan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia Indonesia. Program ini dirancang untuk menjangkau puluhan juta anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan lainnya secara konsisten setiap hari.
Dalam paparannya, Prabowo menjelaskan bahwa skala logistik MBG memang sangat besar, bahkan setara dengan jaringan restoran cepat saji global. Namun perbedaannya terletak pada tujuan. Jika restoran cepat saji berorientasi pada profit, MBG difokuskan pada pemenuhan gizi, pemerataan kesejahteraan, dan peningkatan daya saing bangsa dalam jangka panjang.
Ia juga menekankan bahwa Indonesia memiliki modal kuat untuk merealisasikan program tersebut. Dengan basis pertanian, peternakan, dan perikanan yang luas, MBG diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal. Rantai pasok pangan akan melibatkan petani, nelayan, UMKM, hingga koperasi daerah, sehingga dampak ekonominya tidak hanya terasa di pusat, tetapi juga di pelosok.
Pernyataan soal “melampaui McDonald’s” dinilai bukan sekadar perbandingan sensasional. Bagi Prabowo, analogi tersebut digunakan untuk menggambarkan skala operasional dan konsistensi distribusi. Setiap hari, jutaan porsi makanan akan diproduksi dan disalurkan dengan standar kebersihan, gizi, dan pengawasan yang ketat. Ini menuntut manajemen modern, teknologi logistik, serta koordinasi lintas sektor yang solid.
Di forum Davos, pendekatan ini mendapat perhatian karena jarang ada program sosial yang dirancang dengan skala industri. Beberapa pelaku usaha global melihat MBG sebagai peluang kolaborasi, khususnya di bidang teknologi pangan, rantai dingin, dan sistem distribusi berbasis data. Prabowo pun membuka pintu kerja sama internasional selama tetap mengutamakan kepentingan nasional.
Di dalam negeri, wacana ini memunculkan optimisme sekaligus tantangan. Publik menaruh harapan besar agar MBG tidak hanya masif di atas kertas, tetapi juga tepat sasaran dan berkelanjutan. Transparansi anggaran, kualitas menu, serta pengawasan pelaksanaan akan menjadi kunci keberhasilan program ini.
Dengan membawa isu MBG ke panggung WEF Davos, Prabowo ingin menunjukkan bahwa kebijakan sosial bisa menjadi bagian dari strategi ekonomi global. Jika berhasil, MBG bukan hanya akan melampaui jaringan restoran cepat saji dalam jumlah porsi, tetapi juga meninggalkan jejak sebagai salah satu program gizi terbesar di dunia yang lahir dari negara berkembang.









