Adam Mosseri Buka Suara, Feed Kronologis Instagram Justru Membuat Pengalaman Pengguna Lebih Buruk

- Jurnalis

Senin, 14 September 2026 - 12:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam wawancara terbaru dengan ABC News, Adam Mosseri, Head of Instagram, menyampaikan pernyataan yang cukup mencolok.

Dalam wawancara terbaru dengan ABC News, Adam Mosseri, Head of Instagram, menyampaikan pernyataan yang cukup mencolok.

JAKARTA, koranmetro.com – Dalam wawancara terbaru dengan ABC News, Adam Mosseri, Head of Instagram, menyampaikan pernyataan yang cukup mencolok. Menurutnya, pengalaman rata-rata pengguna menjadi “jauh lebih buruk” jika beralih sepenuhnya ke feed kronologis. Pernyataan ini muncul di tengah pembahasan rancangan undang-undang di Australia yang disebut My Feed, My Way Bill. Aturan tersebut berupaya mewajibkan platform media sosial besar memberikan opsi keluar (opt-out) dari algoritma rekomendasi.

Lalu, mengapa Mosseri begitu yakin bahwa feed berdasarkan urutan waktu justru merugikan pengguna?

Apa yang Terjadi jika Feed Hanya Berdasarkan Waktu?

Mosseri menjelaskan bahwa feed kronologis cenderung didominasi oleh konten dari perusahaan, merek, dan penerbit berita. Alasannya sederhana: akun-akun tersebut memiliki sumber daya untuk mengunggah konten jauh lebih sering dibanding pengguna biasa atau kreator independen.

Dalam sistem yang hanya mengurutkan postingan berdasarkan waktu, frekuensi unggahan menjadi penentu utama visibilitas. Akibatnya:

  • Konten dari kreator lebih mudah “tenggelam”.
  • Postingan teman dan keluarga semakin sulit muncul di atas.
  • Pengguna justru lebih banyak melihat konten promosi dan berita daripada update personal.

“Creators get drowned out, and then your friends get drowned out even more,” ujar Mosseri. Ia menambahkan bahwa pengguna akhirnya melewatkan lebih banyak konten yang sebenarnya relevan dan menghabiskan lebih sedikit waktu di platform.

Baca Juga :  ONIC vs RRQ Hoshi di MPL ID Season 18, Royal Derby ke-41 Jadi Laga Puncak Sabtu Malam

Dampak Nyata: Interaksi Turun hingga 50 Persen

Instagram mengklaim telah menguji dampak feed kronologis di beberapa negara. Hasilnya cukup mencolok. Tingkat interaksi (engagement) pengguna bisa turun hingga 50 persen. Selain itu, skor kepuasan pengguna—baik secara keseluruhan maupun terhadap postingan individual—juga anjlok tajam.

Menurut Mosseri, ini menciptakan lingkaran setan. Ketika pengguna merasa feed kurang menarik, mereka menghabiskan lebih sedikit waktu di aplikasi. Akibatnya, jangkauan keseluruhan konten ikut menyusut. Banyak kreator kemudian mengeluh karena reach mereka menurun, padahal akar masalahnya adalah pie yang semakin kecil.

Hanya Minoritas yang Benar-Benar Menginginkan Feed Kronologis?

Mosseri juga menyatakan bahwa permintaan untuk kembali sepenuhnya ke feed kronologis hanya datang dari “minoritas yang sangat vokal”. Sebagian besar pengguna, berdasarkan data internal Instagram, justru lebih puas dengan sistem ranking algoritma yang menampilkan konten berdasarkan relevansi dan prediksi minat.

Perlu dicatat, Instagram sebenarnya sudah menyediakan opsi feed kronologis melalui tab “Following”. Namun, aplikasi tetap membuka default ke feed algoritma. Di beberapa negara seperti Belanda, Instagram bahkan sudah memenuhi kewajiban regulasi untuk memberikan pilihan tersebut.

Baca Juga :  Spesifikasi dan Harga Samsung Galaxy S25 Ultra di Indonesia, Semua yang Perlu Anda Ketahui!

Antara Kendali Pengguna dan Realitas Penggunaan

Pernyataan Mosseri memunculkan perdebatan menarik. Di satu sisi, banyak orang memang mengeluhkan algoritma yang terasa seperti “kotak hitam” dan sering menampilkan konten yang tidak diinginkan. Di sisi lain, data yang disampaikan Instagram menunjukkan bahwa menghilangkan ranking sepenuhnya justru membuat feed lebih ramai oleh akun-akun profesional yang rajin posting.

Mosseri sendiri mengakui bahwa sistem ranking belum sempurna. Ia menyebut ada kecenderungan untuk terlalu fokus pada metrik yang mudah diukur, sehingga mengabaikan aspek yang lebih sulit dikuantifikasi. Meski demikian, ia tetap berpendapat bahwa algoritma saat ini memberikan pengalaman yang lebih baik bagi mayoritas pengguna dibanding feed murni berdasarkan waktu.

Pada akhirnya, perdebatan ini mencerminkan ketegangan klasik di media sosial modern: antara keinginan individu untuk mengontrol apa yang dilihat, dan dampak kolektif ketika sistem diubah secara menyeluruh. Australia mungkin akan menjadi salah satu laboratorium terbesar untuk menguji teori ini. Sementara itu, pernyataan Mosseri setidaknya memberi gambaran jelas mengapa Instagram masih bertahan dengan algoritmanya.

Berita Terkait

Warga Singapura Berusia 22 Tahun Mengaku Otak Pencurian Kripto Rp 4,41 Triliun
Hands-on iPhone 18 Pro Max di Apple Park, Desain Familiar, Kamera yang Jadi Sorotan
Galaxy S25 FE Jadi Model FE Terlaris di Indonesia, Mayoritas dari Pengguna Galaxy A
Huawei Pura 90s Pro Max Resmi Hadir di Indonesia, Dijual Mulai Rp20,9 Juta
TCL P80 Ultra Resmi Debut di IFA 2026, Ponsel Pertama dengan Layar AMOLED NxtPaper yang Mirip Kertas
Sony Hadirkan Live TV Gratis di PS5, Lebih dari 100 Channel Tanpa Biaya Langganan
Android Masih Dominan, iOS dan HarmonyOS Berebut Ruang di Peta OS Smartphone Global
Geek Fam Hadapi RRQ Hoshi di MPL ID S18: Duel Pekan Ketiga yang Krusial
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 12:22 WIB

Adam Mosseri Buka Suara, Feed Kronologis Instagram Justru Membuat Pengalaman Pengguna Lebih Buruk

Minggu, 13 September 2026 - 10:58 WIB

Warga Singapura Berusia 22 Tahun Mengaku Otak Pencurian Kripto Rp 4,41 Triliun

Jumat, 11 September 2026 - 11:12 WIB

Hands-on iPhone 18 Pro Max di Apple Park, Desain Familiar, Kamera yang Jadi Sorotan

Rabu, 9 September 2026 - 11:08 WIB

Galaxy S25 FE Jadi Model FE Terlaris di Indonesia, Mayoritas dari Pengguna Galaxy A

Minggu, 6 September 2026 - 11:39 WIB

Huawei Pura 90s Pro Max Resmi Hadir di Indonesia, Dijual Mulai Rp20,9 Juta

Berita Terbaru