Korea Utara Kembali Jadi Sorotan, Diduga Terlibat Pencurian Kripto Besar-Besaran

- Jurnalis

Senin, 27 Januari 2025 - 21:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Korea Utara kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah muncul dugaan keterlibatan negara tersebut dalam kasus pencurian kripto besar-besaran.

Korea Utara kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah muncul dugaan keterlibatan negara tersebut dalam kasus pencurian kripto besar-besaran.

JAKARTA, koranmetro.com – Korea Utara kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah muncul dugaan keterlibatan negara tersebut dalam kasus pencurian kripto besar-besaran. Beberapa laporan dari lembaga keamanan siber dan intelijen menyebutkan bahwa kelompok peretas yang berafiliasi dengan Korea Utara, seperti Lazarus Group, diduga menjadi dalang di balik serangkaian serangan siber terhadap platform kripto global. Aksi ini diduga telah merugikan industri kripto hingga miliaran dolar AS dalam beberapa tahun terakhir.

Keterkaitan Korea Utara dengan Pencurian Kripto

Dugaan keterlibatan Korea Utara bukanlah hal baru. Negara yang dikenal dengan isolasi politiknya ini telah lama menggunakan kemampuan peretasannya sebagai salah satu cara untuk mendapatkan keuntungan finansial, terutama di tengah tekanan sanksi internasional yang membatasi perekonomiannya.Menurut laporan dari Chainalysis, sebuah perusahaan analis blockchain, Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian aset kripto senilai lebih dari $1 miliar (sekitar Rp15 triliun) hanya dalam beberapa tahun terakhir. Serangan-serangan ini biasanya menyasar bursa kripto, dompet digital, serta protokol keuangan terdesentralisasi (DeFi).Kelompok peretas seperti Lazarus Group, yang diduga memiliki koneksi langsung dengan rezim Korea Utara, sering kali dituding sebagai pelaku utama. Mereka menggunakan berbagai metode serangan, mulai dari phishingeksploitasi kerentanan perangkat lunak, hingga serangan ransomware untuk mencuri aset digital dari target mereka.

Kasus Terbaru: Serangan terhadap Platform Kripto

Salah satu kasus terbaru yang menarik perhatian adalah pencurian aset digital senilai lebih dari $100 juta dari salah satu platform DeFi. Lembaga keamanan siber mengungkapkan bahwa serangan tersebut memiliki kemiripan dengan pola-pola serangan yang sebelumnya dilakukan oleh Lazarus Group.Selain itu, Korea Utara juga diduga memanfaatkan teknik mencuci uang melalui mixer dan exchanger ilegal untuk menyembunyikan jejak transaksi mereka di blockchain. Tujuan akhirnya adalah mengubah aset kripto tersebut menjadi mata uang fiat yang kemudian digunakan untuk mendukung berbagai program nasional, termasuk pengembangan senjata nuklir.

Baca Juga :  X/Twitter "Sensor" Unggahan, Elon Musk Mengakui dan Menjelaskan Kebijakan Terbaru

Motivasi di Balik Pencurian Kripto oleh Korea Utara

Laporan dari PBB menyebutkan bahwa Korea Utara menggunakan hasil dari pencurian aset kripto untuk mendanai program nuklir dan rudal balistiknya. Dengan sanksi ekonomi yang ketat dari komunitas internasional, Korea Utara mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses ke dana global. Oleh karena itu, pencurian aset digital menjadi salah satu strategi yang dianggap efektif dan sulit dilacak.Aset kripto menjadi target utama karena sifatnya yang anonim dan terdesentralisasi, sehingga memudahkan pelaku untuk menyembunyikan identitas dan jejak transaksi. Selain itu, meningkatnya popularitas aset digital di seluruh dunia menjadikan industri kripto sebagai “ladang emas” bagi pelaku kejahatan siber.

Bagaimana Dunia Menanggapi Dugaan Ini?

Komunitas internasional menanggapi dugaan keterlibatan Korea Utara ini dengan serius. Beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, telah meningkatkan keamanan siber mereka untuk melindungi aset digital dari serangan kelompok peretas.Pemerintah AS, misalnya, telah menjatuhkan sanksi kepada beberapa individu dan entitas yang diduga terhubung dengan Lazarus Group. Selain itu, bursa kripto global juga mulai memperketat proses KYC (Know Your Customer) dan memantau aktivitas mencurigakan di blockchain untuk mengurangi risiko pencucian uang.Namun, menghentikan serangan siber dari Korea Utara bukanlah hal yang mudah. Kelompok peretas negara ini dikenal sangat terorganisir dan memiliki sumber daya yang cukup untuk melancarkan serangan dengan skala besar.

Baca Juga :  Laporan Google, Korea Utara Pimpin Serangan Siber yang Didukung Pemerintah

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Pencurian Kripto?

Industri kripto global perlu mengambil langkah-langkah serius untuk mencegah serangan siber di masa depan. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  1. Meningkatkan Keamanan Sistem
    • Platform DeFi dan bursa kripto harus terus memperkuat sistem keamanan mereka, termasuk melakukan audit keamanan secara rutin untuk menemukan dan memperbaiki kerentanan.
  2. Penggunaan Teknologi Anti-Phishing
    • Phishing menjadi salah satu metode utama yang digunakan oleh peretas. Pengguna kripto harus waspada terhadap email atau tautan mencurigakan yang mencoba mencuri informasi pribadi mereka.
  3. Kerja Sama Internasional
    • Negara-negara di seluruh dunia perlu bekerja sama untuk melacak dan menghentikan aktivitas peretasan yang terorganisir. Hal ini termasuk memblokir mixer dan exchanger ilegal yang biasa digunakan untuk mencuci hasil pencurian.
  4. Edukasi Pengguna
    • Pengguna kripto harus diedukasi tentang pentingnya menjaga keamanan dompet digital mereka, termasuk penggunaan autentikasi dua faktor (2FA) dan memilih penyedia layanan yang terpercaya.

Dugaan keterlibatan Korea Utara dalam pencurian kripto besar-besaran menunjukkan betapa pentingnya keamanan siber dalam industri aset digital. Dengan meningkatnya nilai dan popularitas kripto, ancaman serangan siber dari kelompok peretas seperti Lazarus Group akan terus menjadi tantangan serius bagi pelaku industri.Untuk melindungi ekosistem kripto, diperlukan kolaborasi antara perusahaan teknologi, pemerintah, dan pengguna individu. Selain itu, meningkatkan keamanan sistem dan terus memantau aktivitas mencurigakan di blockchain adalah langkah penting untuk mencegah aksi pencurian di masa depan.

Berita Terkait

Di Balik Layar Dracin Populer, Peran Tim AI dalam Menghadirkan Cerita yang Adiktif
MacBook Air M1 Jadi Tameng Hidup, Laptop Apple Selamatkan Tentara Ukraina dari Serpihan Artileri
ChatGPT Health, Asisten AI Baru dari OpenAI untuk Manajemen Kesehatan Pribadi
Pebble Round 2, Kembalinya Smartwatch Tipis dengan Baterai Monster 14 Hari
Gelombang Ransomware Berbasis AI, Ancaman Kejahatan Siber Terbesar di 2025
Robot Humanoid Elon Musk dan Zuckerberg, Penjualan Meroket dengan Harga Fantastis Miliaran Rupiah
Penurunan Harga iPhone Air di Indonesia, Momentum Tepat untuk Upgrade?
Rahasia Produk Apple 2026, Dari iPhone Murah hingga Perangkat Lipat yang Revolusioner
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 11:13 WIB

Di Balik Layar Dracin Populer, Peran Tim AI dalam Menghadirkan Cerita yang Adiktif

Senin, 12 Januari 2026 - 11:12 WIB

MacBook Air M1 Jadi Tameng Hidup, Laptop Apple Selamatkan Tentara Ukraina dari Serpihan Artileri

Kamis, 8 Januari 2026 - 13:06 WIB

ChatGPT Health, Asisten AI Baru dari OpenAI untuk Manajemen Kesehatan Pribadi

Senin, 5 Januari 2026 - 11:37 WIB

Pebble Round 2, Kembalinya Smartwatch Tipis dengan Baterai Monster 14 Hari

Jumat, 2 Januari 2026 - 11:07 WIB

Gelombang Ransomware Berbasis AI, Ancaman Kejahatan Siber Terbesar di 2025

Berita Terbaru

Liga Inggris

Michael Carrick Beri Peringatan Usai Man United Gasak Man City

Minggu, 18 Jan 2026 - 19:55 WIB