Meski Kredit Ringan, Motor Listrik Masih Sepi Peminat, Ini Penyebabnya

- Jurnalis

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah dan lembaga pembiayaan terus mendorong pembelian motor listrik dengan skema kredit yang semakin menarik—mulai dari DP rendah atau bahkan 0 persen,

Pemerintah dan lembaga pembiayaan terus mendorong pembelian motor listrik dengan skema kredit yang semakin menarik—mulai dari DP rendah atau bahkan 0 persen,

JAKARTA, koranmetro.com – Pemerintah dan lembaga pembiayaan terus mendorong pembelian motor listrik dengan skema kredit yang semakin menarik—mulai dari DP rendah atau bahkan 0 persen, bunga lebih ringan, hingga tenor panjang. Namun, minat konsumen tetap rendah. Penjualan motor listrik masih jauh tertinggal dibandingkan motor berbahan bakar bensin yang mencapai jutaan unit per tahun, sementara motor listrik hanya puluhan ribu unit.

Lalu, mengapa kemudahan kredit saja belum cukup menarik masyarakat?

1. Kekhawatiran Jarak Tempuh dan Pengisian Daya

Bagi banyak pengguna motor di Indonesia, kendaraan adalah alat kerja yang harus siap kapan saja dan ke mana saja. Motor listrik masih dibatasi oleh kapasitas baterai. Jarak tempuh sekali cas sering kali hanya 50–80 km, tergantung model dan kondisi.

Infrastruktur pengisian daya (SPKLU maupun stasiun tukar baterai) belum merata, terutama di luar kota besar. Pengguna khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan atau harus menunggu lama untuk mengisi ulang. Kebiasaan mengisi BBM dalam hitungan menit masih jauh lebih praktis dibandingkan mengisi daya baterai.

Baca Juga :  Vespa 946 Snake Hanya Diproduksi Sebanyak 888 Unit, Edisi Terbatas yang Memikat

2. Harga Awal dan Nilai Jual Kembali

Meski ada insentif, harga motor listrik baru masih terasa lebih tinggi dibandingkan motor bensin sekelasnya. Selain itu, konsumen khawatir nilai jual kembali (resale value) motor listrik lebih rendah. Baterai sebagai komponen mahal juga menimbulkan pertanyaan: berapa biaya penggantiannya setelah beberapa tahun, dan apakah masih ada garansi?

Perusahaan pembiayaan pun cenderung lebih berhati-hati karena risiko nilai residual yang belum stabil.

3. Kebiasaan dan Pola Penggunaan Harian

Mayoritas pengguna motor di Indonesia mengandalkan kendaraan untuk mobilitas tinggi—antar-jemput, kerja, atau usaha. Mereka butuh kendaraan yang fleksibel tanpa harus memikirkan sisa daya. Motor bensin masih unggul dalam hal “kesiapan kapan saja”.

Selain itu, teknologi motor listrik masih dianggap baru. Banyak calon pembeli menunggu bukti keandalan jangka panjang sebelum berani beralih.

4. Inkonsistensi Insentif dan Kebijakan

Subsidi atau insentif pemerintah sempat menjadi daya tarik utama. Namun, perubahan skema dan besaran bantuan dari waktu ke waktu membuat konsumen ragu. Ketika insentif berkurang atau aturannya berubah, minat pembelian langsung terdampak. Ketidakpastian ini membuat banyak orang menunda keputusan.

Baca Juga :  MotoGP 2027 Resmi Rilis, 22 Balapan, Lima Benua, dan

5. Total Cost of Ownership Belum Sepenuhnya Menguntungkan

Secara teori, biaya operasional motor listrik lebih murah karena tidak pakai bensin. Namun, jika dihitung secara keseluruhan—harga beli, biaya baterai, kemungkinan penurunan nilai jual, serta keterbatasan infrastruktur—belum semua konsumen merasa lebih untung dibandingkan tetap memakai motor bensin yang sudah familiar.

Upaya yang Sedang Didorong

Pihak terkait terus berusaha mengatasi hambatan ini. Skema pembiayaan lebih ringan (DP 0 persen, bunga rendah, tenor panjang) sedang disiapkan. Produsen juga mengembangkan baterai dengan jarak tempuh lebih jauh dan sistem tukar baterai. Perluasan stasiun pengisian dan edukasi masyarakat menjadi fokus lain.

Kredit murah memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu. Konsumen Indonesia masih mempertimbangkan keandalan, kemudahan penggunaan sehari-hari, infrastruktur, dan kepastian jangka panjang. Selama kekhawatiran soal baterai, jarak tempuh, dan nilai jual kembali belum terjawab dengan baik, minat terhadap motor listrik akan sulit melonjak signifikan.

Berita Terkait

Lampu Strobo LED untuk Bus, Tren Estetika, Kisaran Harga, dan Panduan Pemasangan
MotoGP 2027 Resmi Rilis, 22 Balapan, Lima Benua, dan
DFSK E5 Plus Resmi Dijual, Harga Berubah Setelah Ribuan Unit Terpesan
Jadwal Balapan Moto3, Moto2, dan MotoGP Austria 2026 di Red Bull Ring
Toyota Pastikan Land Cruiser FJ Meluncur Akhir 2026, Harga Masih Menjadi Teka-Teki
Membangun Mobil Nasional, Pelajaran Indonesia dari Pengalaman Malaysia
Mitsubishi Pastikan Pengembangan Hybrid untuk Pajero dan Triton, Namun Butuh Waktu
MotoGP 2027 Resmi Jadwalkan Tes Pramusim, Sepang dan Buriram Jadi Panggung Awal Era 850cc
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:52 WIB

Lampu Strobo LED untuk Bus, Tren Estetika, Kisaran Harga, dan Panduan Pemasangan

Minggu, 27 September 2026 - 11:33 WIB

MotoGP 2027 Resmi Rilis, 22 Balapan, Lima Benua, dan

Rabu, 23 September 2026 - 11:18 WIB

DFSK E5 Plus Resmi Dijual, Harga Berubah Setelah Ribuan Unit Terpesan

Minggu, 20 September 2026 - 11:04 WIB

Jadwal Balapan Moto3, Moto2, dan MotoGP Austria 2026 di Red Bull Ring

Rabu, 16 September 2026 - 11:08 WIB

Toyota Pastikan Land Cruiser FJ Meluncur Akhir 2026, Harga Masih Menjadi Teka-Teki

Berita Terbaru

Mengeluh adalah respons alami manusia. Saat merasa lelah, kecewa, atau tertekan, mengeluarkan keluhan sering kali terasa melegakan.

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Mengeluh, Batas Antara Pelepasan Emosi yang Sehat dan Kebiasaan yang Merusak

Jumat, 2 Okt 2026 - 11:27 WIB