JAKARTA, koranmetro.com – Elon Musk dan SpaceX semakin dekat dengan momen bersejarah. Perusahaan antariksa swasta terbesar di dunia ini telah mengajukan pendaftaran Initial Public Offering (IPO) secara rahasia ke Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat. Jika terealisasi sesuai rencana, IPO SpaceX berpotensi menjadi penawaran saham perdana terbesar dalam sejarah, melampaui rekor Saudi Aramco pada 2019.
Menurut laporan Bloomberg, Reuters, dan sumber terkait per awal April 2026, SpaceX menargetkan valuasi perusahaan mencapai US$1,75 triliun hingga lebih dari US$2 triliun (sekitar Rp27.000–Rp32.000 triliun dengan kurs saat ini). Perusahaan ini berencana mengumpulkan dana segar hingga US$75 miliar (sekitar Rp1.200 triliun), jauh melampaui rekor Aramco yang “hanya” mengumpulkan US$29,4 miliar.
Latar Belakang dan Timing IPO
SpaceX telah mengajukan filing secara confidential pada awal April 2026. Target listing diperkirakan pada pertengahan Juni 2026. Langkah ini dilakukan setelah SpaceX melakukan merger besar dengan xAI milik Elon Musk, yang menjadikan valuasi perusahaan gabungan mencapai US$1,25 triliun.
Proses IPO ini melibatkan puluhan bank investasi besar dan rencana alokasi saham yang cukup besar untuk investor ritel (retail investors) — diperkirakan hingga 20–30% dari total penawaran. Hal ini jarang terjadi pada IPO sebesar ini dan menunjukkan upaya SpaceX untuk memperluas basis pemegang saham.
Mengapa Valuasi Begitu Tinggi?
Valuasi astronomis SpaceX didorong terutama oleh Starlink, bisnis internet satelit yang menjadi mesin pendapatan utama perusahaan. Hingga akhir 2025, Starlink telah memiliki lebih dari 9 juta pelanggan aktif di seluruh dunia, dengan pertumbuhan sangat cepat. Jumlah satelit aktif di orbit juga sudah mendekati atau melebihi 10.000 unit, memberikan cakupan internet global yang semakin luas, termasuk ke daerah terpencil dan kontrak militer.
Selain Starlink, bisnis inti SpaceX meliputi:
- Peluncuran roket Falcon 9 dan Starship yang semakin matang
- Kontrak besar dengan NASA dan Departemen Pertahanan AS
- Ambisi jangka panjang ke Mars
- Integrasi dengan AI melalui xAI
Analis menilai Starlink sebagai “recurring revenue engine” yang stabil, mirip dengan model bisnis telekomunikasi tradisional, sehingga valuasi tinggi menjadi lebih masuk akal.
Dampak bagi Pasar dan Investor
Jika IPO ini berhasil, dampaknya akan sangat luas:
- Memberikan likuiditas bagi investor awal dan karyawan SpaceX.
- Membuka peluang bagi investor ritel untuk ikut serta dalam “space economy”.
- Berpotensi memicu gelombang antusiasme terhadap saham-saham terkait antariksa dan satelit lainnya (seperti Rocket Lab, AST SpaceMobile, dll.).
- Menjadi tolok ukur bagi mega-IPO lain yang direncanakan tahun ini, termasuk OpenAI dan Anthropic.
Namun, ada tantangan. Beberapa analis mempertanyakan apakah valuasi di atas US$1,75 triliun terlalu tinggi dibandingkan fundamental saat ini. Selain itu, risiko regulasi, persaingan di industri satelit, dan ketergantungan pada Elon Musk sebagai figur sentral juga menjadi perhatian investor.
SpaceX bukan lagi sekadar perusahaan roket. Dengan Starlink yang terus tumbuh pesat dan ambisi multiplanet Elon Musk, perusahaan ini siap menjadi salah satu perusahaan publik paling berharga di dunia. IPO yang direncanakan Juni 2026 berpotensi menjadi tonggak sejarah — bukan hanya karena ukurannya, tapi juga karena membawa industri antariksa dan konektivitas global ke panggung pasar modal mainstream.
Bagi investor, ini adalah momen langka untuk ikut serta dalam perjalanan “membuat manusia menjadi spesies multiplanet”. Namun, seperti biasa dengan perusahaan Elon Musk, volatilitas dan narasi ambisius akan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan saham SpaceX nantinya.
Situasi masih terus berkembang. Pantau pengumuman resmi dari SpaceX dan SEC dalam beberapa minggu ke depan untuk detail lebih lanjut mengenai jadwal, harga saham, dan alokasi.









