Starlink Hentikan Pendaftaran Baru di Indonesia, Apa Penyebabnya?

- Jurnalis

Kamis, 17 Juli 2025 - 14:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Starlink, layanan internet berbasis satelit milik SpaceX yang dipimpin oleh Elon Musk, telah mengumumkan penghentian sementara pendaftaran pelanggan baru di Indonesia.

Starlink, layanan internet berbasis satelit milik SpaceX yang dipimpin oleh Elon Musk, telah mengumumkan penghentian sementara pendaftaran pelanggan baru di Indonesia.

JAKARTA, koranmetro.com – Starlink, layanan internet berbasis satelit milik SpaceX yang dipimpin oleh Elon Musk, telah mengumumkan penghentian sementara pendaftaran pelanggan baru di Indonesia. Keputusan ini diumumkan melalui laman resmi Starlink pada 13 Juli 2025, dengan alasan utama adalah kapasitas jaringan yang telah mencapai batas maksimal di seluruh wilayah Indonesia. Pengumuman ini mengejutkan banyak pihak, mengingat antusiasme masyarakat Indonesia terhadap layanan internet satelit ini sangat tinggi sejak peluncurannya pada Mei 2024 di Bali.

Alasan Penghentian Pendaftaran Pelanggan Baru

Menurut pernyataan resmi Starlink, layanan mereka saat ini tidak tersedia untuk pelanggan baru karena “kapasitas yang terjual habis di seluruh Indonesia.”. Kapasitas dalam konteks ini merujuk pada jumlah pengguna yang dapat ditampung oleh jaringan satelit Starlink di Indonesia tanpa mengorbankan kualitas layanan. Untuk menjaga performa optimal dan mencegah jaringan menjadi overload, Starlink memilih untuk menghentikan penerimaan pelanggan baru serta menunda aktivasi perangkat baru yang dibeli melalui ritel atau pihak ketiga.

Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Wayan Toni, membenarkan bahwa keputusan ini sepenuhnya diambil oleh Starlink karena kapasitas jaringan mereka untuk Indonesia telah penuh.. Starlink saat ini sedang berupaya menambah kapasitas jaringan dengan memanfaatkan pita frekuensi E-band untuk komunikasi antara gateway dan satelit, meskipun belum ada perkiraan pasti kapan layanan akan kembali tersedia untuk pelanggan baru.

Latar Belakang Kehadiran Starlink di Indonesia

Starlink resmi beroperasi di Indonesia pada Mei 2024, ditandai dengan peluncuran di Denpasar, Bali, yang dihadiri langsung oleh Elon Musk.. Sebelumnya, layanan ini telah digunakan secara terbatas sejak 2022 oleh perusahaan seperti Telkom Satelit dan Smartfren untuk keperluan internal.. Starlink menawarkan solusi internet berkecepatan tinggi, dengan kecepatan unduh hingga 150 Mbps dan latensi rendah sekitar 20 milidetik, yang sangat cocok untuk wilayah terpencil yang sulit dijangkau oleh infrastruktur kabel fiber optik..

Baca Juga :  Peneliti China Kembangkan Vaksin Inovatif untuk Meningkatkan Imunitas Melawan Kanker

Sejak peluncurannya, minat masyarakat terhadap Starlink melonjak drastis, terutama di daerah-daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Namun, tingginya permintaan ini tampaknya menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kapasitas jaringan cepat terisi penuh..

Dampak bagi Masyarakat dan Industri Telekomunikasi

Penghentian pendaftaran pelanggan baru ini berdampak signifikan, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil yang mengandalkan Starlink sebagai solusi konektivitas.. Bagi mereka yang belum sempat mendaftar, Starlink menyediakan opsi untuk masuk daftar tunggu dengan membayar deposit. Deposit ini akan digunakan sebagai bagian dari biaya perangkat keras (seharga Rp7,8 juta) saat layanan kembali tersedia.. Namun, tanpa estimasi waktu yang jelas, banyak calon pelanggan merasa kecewa..

Di sisi lain, Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menyambut keputusan ini sebagai “angin segar” bagi keberlanjutan bisnis penyedia layanan telekomunikasi lokal. Direktur Eksekutif ATSI, Marwan O. Baasir, menyatakan bahwa penghentian ini dapat melindungi operator lokal yang menggunakan frekuensi darat, yang bersaing dengan Starlink yang memanfaatkan teknologi satelit.. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) juga telah mengkaji kehadiran Starlink sejak Mei 2024, menyoroti potensi persaingan tidak sehat akibat strategi harga Starlink yang kompetitif..

Tantangan dan Upaya Starlink ke Depan

Starlink mengakui bahwa mereka sedang bekerja sama dengan otoritas lokal untuk mempercepat ketersediaan layanan kembali di Indonesia.. Salah satu langkah yang sedang dilakukan adalah penambahan kapasitas jaringan melalui pita frekuensi E-band.. Namun, proses ini tampaknya memerlukan waktu, terutama karena melibatkan koordinasi dengan pemerintah dan mitra lokal seperti Telkomsat dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII)..

Baca Juga :  Trio Ponsel Lipat Samsung Segera Hadir di Indonesia, Galaxy Z Fold 7, Z Flip 7, dan Z Flip 7 FE

Selain itu, kehadiran Starlink di Indonesia juga menghadapi tantangan regulasi. KPPU sedang mengevaluasi aspek kebijakan pemerintah, persepsi konsumen, kesiapan infrastruktur, dan konsentrasi pasar untuk memastikan persaingan yang adil.. Pemerintah juga memantau kepatuhan Starlink terhadap kewajiban pajak dan non-pajak untuk menciptakan iklim usaha yang seimbang bagi operator lokal seperti Telkomsel dan XL Axiata..

Apa yang Bisa Dilakukan Calon Pelanggan?

Bagi masyarakat yang ingin menggunakan layanan Starlink, saat ini mereka dapat mendaftar ke daftar tunggu melalui situs resmi Starlink (www.starlink.com) dengan membayar deposit.. Starlink akan mengirimkan pemberitahuan ketika layanan kembali tersedia. Calon pelanggan juga disarankan untuk memantau informasi terbaru melalui situs resmi atau kanal resmi Starlink..

Sebagai alternatif, beberapa pihak menyarankan untuk mempertimbangkan layanan internet lain, seperti Project Kuiper dari Amazon, yang diklaim memiliki harga lebih terjangkau dan berpotensi menjadi pesaing Starlink di masa depan.. Namun, hingga Project Kuiper tersedia di Indonesia, masyarakat di daerah terpencil mungkin perlu mengandalkan penyedia layanan internet lokal.

Penghentian sementara pendaftaran pelanggan baru oleh Starlink di Indonesia adalah dampak dari tingginya permintaan yang melebihi kapasitas jaringan saat ini. Meskipun mengecewakan bagi calon pelanggan, langkah ini diambil untuk menjaga kualitas layanan bagi pengguna eksisting. Dengan kerja sama yang sedang dilakukan bersama otoritas lokal dan mitra seperti Telkomsat dan APJII, Starlink berupaya memperluas kapasitas jaringan agar dapat kembali melayani pelanggan baru. Sementara itu, calon pelanggan dapat bergabung dalam daftar tunggu dan memantau perkembangan terbaru. Keputusan ini juga mencerminkan tantangan dalam menyeimbangkan inovasi teknologi dengan regulasi dan persaingan pasar di Indonesia.

Berita Terkait

Redmi A5, HP Rp1,5 Juta yang Sukses Jadi Salah Satu Ponsel Terlaris di Dunia
AMD Tegaskan Dominasi di Pasar PC Indonesia, Raih 40% Pangsa Pasar, Laptop AI Jadi Senjata Utama
Oppo A6c Resmi Hadir di Indonesia, HP Entry-Level dengan Baterai Monster 7.000 mAh
Energizer Ultimate Child Shield, Inovasi Baterai Koin yang Lebih Aman untuk Keluarga dengan Anak Kecil
OpenAI Siap Rilis Smartphone AI Agent, Revolusi ChatGPT yang Semakin Nyata
ONIC Esports Kokoh di Puncak, RRQ Hoshi Resmi Gagal ke Playoff MPL ID S17
Meta Luncurkan AI yang Lebih Personal, Bukan Sekadar Chatbot, tapi “Superintelligence” yang Mirip Pengguna Asli
Grok-4.20 dan GPT-5.4 Pro, Model AI dengan Skor IQ Tertinggi di 2026, Bukan ChatGPT Biasa
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 11:16 WIB

Redmi A5, HP Rp1,5 Juta yang Sukses Jadi Salah Satu Ponsel Terlaris di Dunia

Kamis, 21 Mei 2026 - 11:20 WIB

AMD Tegaskan Dominasi di Pasar PC Indonesia, Raih 40% Pangsa Pasar, Laptop AI Jadi Senjata Utama

Rabu, 20 Mei 2026 - 11:10 WIB

Oppo A6c Resmi Hadir di Indonesia, HP Entry-Level dengan Baterai Monster 7.000 mAh

Minggu, 17 Mei 2026 - 11:33 WIB

Energizer Ultimate Child Shield, Inovasi Baterai Koin yang Lebih Aman untuk Keluarga dengan Anak Kecil

Rabu, 13 Mei 2026 - 11:25 WIB

OpenAI Siap Rilis Smartphone AI Agent, Revolusi ChatGPT yang Semakin Nyata

Berita Terbaru