Vance Tegaskan Syarat AS, Iran Harus Pangkas Kapasitas Pengayaan Nuklir demi Akhiri Perang

- Jurnalis

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menegaskan bahwa Iran harus melakukan pengurangan “bermakna”

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menegaskan bahwa Iran harus melakukan pengurangan “bermakna”

JAKARTA, koranmetro.com – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menegaskan bahwa Iran harus melakukan pengurangan “bermakna” terhadap kapasitas pengayaan nuklirnya jika ingin memenuhi tuntutan Washington dan mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama tujuh bulan.

Pernyataan itu disampaikan Vance dalam wawancara eksklusif dengan Reuters setelah perjalanan kampanye di Alaska, Senin (5/10/2026). Menurutnya, kesepakatan apa pun tidak cukup hanya berisi janji Iran untuk mengurangi aktivitas nuklir di masa depan. Washington menginginkan langkah konkret terkait kapasitas pengayaan uranium.

“Jika Anda tidak menginginkan senjata nuklir, lalu mengapa Anda membutuhkan bahan bakar yang diperkaya hingga 60 persen? Jika Anda ingin menunjukkan komitmen untuk tidak membuat senjata nuklir, jangan membuat bahan bakar yang diperkaya tinggi. Itu persoalan ambang batas yang sangat mendasar,” kata Vance.

Ia menambahkan, “Saya kira jika mereka ingin menunjukkan komitmen untuk tidak membangun senjata nuklir, mereka harus melakukan sesuatu yang berarti terhadap kapasitas pengayaan mereka.”

Baca Juga :  Jerman Tersingkir Dramatis di Piala Dunia 2026, Kali Pertama Kalah Lewat Adu Penalti

AS Tetap Terbuka, tapi Butuh Tindakan Nyata

Vance menyatakan Amerika Serikat masih terbuka terhadap kesepakatan, tetapi menekankan bahwa konsesi nuklir dari Teheran harus bersifat konkret. “Kami tidak akan menukar kata-kata dengan tindakan,” tegasnya.

Pernyataan ini muncul di tengah upaya diplomasi terkini. Iran dan AS baru-baru ini saling menyampaikan proposal melalui mediator untuk mengakhiri perang serta membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi global. Presiden Donald Trump sebelumnya menolak proposal terbaru Iran dan memperingatkan bahwa operasi militer bisa diperintensifkan setelah pemilu tengah masa jabatan.

Perang antara AS (bersama Israel) dan Iran meletus sejak akhir Februari 2026. Sejak itu, berbagai upaya gencatan senjata dan nota kesepahaman sempat dicapai, termasuk pada Juni 2026, namun kemudian gagal bertahan akibat saling tuding pelanggaran.

Baca Juga :  Trump, Perang dengan Iran Hampir Berakhir, Amerika Siap Kembali ke Meja Perundingan

Ketidakjelasan Pengambilan Keputusan di Teheran

Vance juga mengakui bahwa Washington belum sepenuhnya memahami bagaimana proses pengambilan keputusan di Iran berjalan saat ini. Ketidakpastian ini menambah kompleksitas negosiasi.

Sementara itu, Iran selama ini bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai dan menolak tuntutan yang dianggap melanggar kedaulatannya, terutama terkait hak pengayaan uranium di dalam negeri.

Pernyataan Vance ini menegaskan kembali posisi keras AS: pengurangan kapasitas pengayaan nuklir Iran menjadi salah satu syarat utama sebelum perang bisa diakhiri secara permanen. Apakah Teheran akan merespons dengan langkah konkret, atau negosiasi akan terus berlarut, masih menjadi pertanyaan besar di tengah ketegangan yang belum mereda.

Berita Terkait

Peringatan Intelijen AS, Ancaman terhadap Personel Amerika di Timur Tengah Meningkat
Dua Kerentanan Kritis PHP Ditemukan AI, Puluhan Persen Situs Dunia Ambil Langkah Darurat
Kerusuhan Melanda Perancis, Demo Biaya Hidup Berujung Penjarahan dan Kerusakan Massal
Serangan Rudal Houthi Hantam Istana Al-Maashiq di Aden, Lima Tewas dan 16 Luka-luka
Dua WNI Alami Luka Ringan dalam Serangan di Riyadh, KBRI Pastikan Kondisi Sudah Membaik
Gempa Magnitudo 7,7 Guncang Panama, Peringatan Tsunami Sempat Dikeluarkan
Ancelotti Apresiasi Talenta Muda Brasil Usai Kemenangan Telak 4-0 atas India
AS Kerahkan Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah di Tengah Ketegangan dengan Iran
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Peringatan Intelijen AS, Ancaman terhadap Personel Amerika di Timur Tengah Meningkat

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Dua Kerentanan Kritis PHP Ditemukan AI, Puluhan Persen Situs Dunia Ambil Langkah Darurat

Senin, 19 Oktober 2026 - 11:08 WIB

Kerusuhan Melanda Perancis, Demo Biaya Hidup Berujung Penjarahan dan Kerusakan Massal

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:19 WIB

Serangan Rudal Houthi Hantam Istana Al-Maashiq di Aden, Lima Tewas dan 16 Luka-luka

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:58 WIB

Dua WNI Alami Luka Ringan dalam Serangan di Riyadh, KBRI Pastikan Kondisi Sudah Membaik

Berita Terbaru

Banyak orang menganggap dengkuran saat tidur sebagai hal biasa.

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Kurang Oksigen Saat Tidur Bisa Picu Hipertensi, Dokter Ingatkan Bahaya Dengkur

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:20 WIB