JAKARTA, koranmetro.com – Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menyebarkan abu vulkanik ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, Jawa Barat, dan sebagian Jabodetabek. Paparan abu ini tidak hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga berisiko bagi kesehatan, terutama saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan dampak abu vulkanik. Menurutnya, abu tersebut mengandung partikel silika yang tajam dan dapat menimbulkan iritasi serius jika terhirup atau mengenai mata.
Risiko Kesehatan dari Abu Vulkanik
Abu vulkanik yang masih segar berpotensi membawa lapisan asam yang memperparah iritasi pada paru-paru dan mata. Jika terhirup dalam-dalam, partikel ini bisa memicu batuk, sesak napas, nyeri dada, hingga memperburuk kondisi penderita asma atau penyakit paru kronis.
Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita gangguan pernapasan dan jantung.
Tips Aman Menghadapi Abu Vulkanik
Berikut sejumlah saran yang disampaikan Dicky Budiman dan diperkuat oleh imbauan otoritas kesehatan:
- Hindari aktivitas berat di luar ruangan
Saat konsentrasi abu tinggi, napas yang lebih cepat justru membuat partikel lebih dalam masuk ke paru-paru. - Gunakan masker yang tepat
Masker N95 atau yang setara lebih disarankan karena mampu menyaring partikel halus lebih baik dibandingkan masker kain biasa. - Lindungi mata
Kenakan kacamata pelindung atau goggle. Jika mata terasa iritasi, segera bilas dengan air bersih dan jangan digosok. - Tutup rapat rumah
Pintu, jendela, dan ventilasi sebaiknya ditutup. Hindari menyalakan kipas angin atau AC yang menarik udara dari luar. - Bersihkan abu dengan cara yang benar
Jangan menyapu abu dalam kondisi kering karena partikelnya akan beterbangan dan mudah terhirup. Basahi terlebih dahulu dengan air, lalu bersihkan menggunakan kain basah. - Tutupi kulit yang terbuka
Gunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang untuk mengurangi kontak langsung abu dengan kulit. - Segera cari bantuan medis jika bergejala
Jika muncul sesak napas, nyeri dada, batuk hebat, atau iritasi mata yang tidak kunjung reda, segera periksa ke fasilitas kesehatan.
Imbauan Tambahan
Masyarakat juga diingatkan untuk menutup tempat penyimpanan air dan makanan agar tidak terkontaminasi abu. Informasi terkait perkembangan erupsi dan sebaran abu sebaiknya hanya merujuk pada sumber resmi seperti PVMBG, BMKG, BNPB, atau pemerintah daerah.
Dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan di atas, risiko gangguan kesehatan akibat abu vulkanik dapat diminimalkan. Tetap tenang, patuhi imbauan resmi, dan utamakan keselamatan diri serta keluarga.









