Afterlove EP, Visual Novel Indonesia yang Mendunia dengan Sentuhan Musik dan Emosi

- Jurnalis

Sabtu, 28 Juni 2025 - 16:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setelah sukses lewat Coffee Talk, studio Pikselnesia kembali mencuri perhatian lewat game cerita visual terbaru mereka berjudul Afterlove EP.

Setelah sukses lewat Coffee Talk, studio Pikselnesia kembali mencuri perhatian lewat game cerita visual terbaru mereka berjudul Afterlove EP.

JAKARTA, koranmetro.com – Setelah sukses lewat Coffee Talk, studio Pikselnesia kembali mencuri perhatian lewat game cerita visual terbaru mereka berjudul Afterlove EP. Dirilis 14 Februari 2025 di platform seperti Nintendo Switch, PlayStation 5, Windows, dan Xbox Series X/S, game ini membawa nuansa lokal yang kaya: latarnya Jakarta, menonjolkan budaya warung sekitar Blok M, gotong‑royong komunitas, bahkan ondel‑ondel khas Betawi.

Pemain mengikuti kisah Rama, seorang musisi muda yang harus menciptakan EP baru dalam 28 hari, setahun setelah kehilangan kekasihnya, Cinta. Di sini gameplay tidak hanya soal pilihan dialog ala visual novel, tapi juga mini-game ritme musik yang mencerminkan karakternya. Narasi emosionalnya kuat; ada dialog terapi psikolog, interaksi hangat dengan teman band, hingga halusinasi suara Cinta — menimbulkan efek empati dan autenticitas yang jarang ditemui di game internasional.

Baca Juga :  Bisakah Kita Hidup Tanpa Menggunakan Smartphone di Era Digital

Kualitas storytelling dan visualnya diakui oleh gamer dan kritikus. Afterlove EP kaya akan elemen budaya Indonesia, mulai dari lokasi, estetika kota, hingga musik lokal yang jadi soundtrack EP fiktif Rama . Hal ini meningkatkan otoritas karena game tersebut bukan sekadar produk hiburan, tapi juga medium kebudayaan dan identitas nasional. Buktinya, game ini dikembangkan oleh tim lokal yang dipimpin Galuh Elsa Nurningsih setelah pendiri awal (Mohammad Fahmi) wafat, menunjukkan profesionalisme dan kontinuitas visi kreatif.

Baca Juga :  Pameran Seni Digital Jakarta, Menggabungkan Kreativitas dan Teknologi

Dengan genre hybrid—campuran visual novel, game ritme, dan simulasi emosional—Afterlove EP menawarkan pengalaman unik yang resonan bagi gamer dewasa dan pencinta kisah humanis. Keberhasilannya menunjukkan bahwa industri game indie Indonesia kini mampu bersaing secara global, membawa cerita lokal ke tangan pemain di seluruh dunia. Untuk pencinta game bertenaga cerita dan emosi, ini adalah karya wajib yang patut dicoba.

Berita Terkait

Mengapa Kacamata Wajib Dibawa saat Mendaki, Bukan Hanya Soal Gaya
Makan Pedas Bukan Sekadar Kenikmatan, Ini Dampaknya bagi Tubuh
Dari Santapan Kuli Bangunan ke Meja Semua Kalangan, Perjalanan Warteg Menjadi Ikon Kuliner Rakyat
Tren Fiber Maxxing, Apakah Lebih Banyak Serat Selalu Lebih Baik?
Mengenalkan Pengelolaan Uang pada Anak, Panduan Bertahap dari Usia Dini hingga Remaja
30 Juli, Jejak Panjang Hari Persahabatan Internasional dari Paraguay hingga PBB
Gula Kelapa, Gula Merah, atau Gula Aren, Mana yang Enak untuk Kopi?
Kulit Sawo Matang Cocok Pakai Baju Warna Apa? 15 Pilihan Terbaik yang Bikin Tampil Glowing
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 11:08 WIB

Mengapa Kacamata Wajib Dibawa saat Mendaki, Bukan Hanya Soal Gaya

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Makan Pedas Bukan Sekadar Kenikmatan, Ini Dampaknya bagi Tubuh

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:58 WIB

Dari Santapan Kuli Bangunan ke Meja Semua Kalangan, Perjalanan Warteg Menjadi Ikon Kuliner Rakyat

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 10:53 WIB

Tren Fiber Maxxing, Apakah Lebih Banyak Serat Selalu Lebih Baik?

Rabu, 5 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Mengenalkan Pengelolaan Uang pada Anak, Panduan Bertahap dari Usia Dini hingga Remaja

Berita Terbaru

Banyak pendaki masih menganggap kacamata sekadar pelengkap penampilan. Padahal, di jalur pendakian,

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Mengapa Kacamata Wajib Dibawa saat Mendaki, Bukan Hanya Soal Gaya

Senin, 17 Agu 2026 - 11:08 WIB