Harga BBM Terus Naik, Mengapa Motor Listrik Masih Sulit Laris?

- Jurnalis

Jumat, 26 Juni 2026 - 11:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu terakhir kembali menyita perhatian masyarakat. Subsidi yang semakin ditekan membuat harga Pertalite dan Pertamax naik,

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu terakhir kembali menyita perhatian masyarakat. Subsidi yang semakin ditekan membuat harga Pertalite dan Pertamax naik,

JAKARTA, koranmetro.com – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu terakhir kembali menyita perhatian masyarakat. Subsidi yang semakin ditekan membuat harga Pertalite dan Pertamax naik, sehingga biaya operasional kendaraan konvensional semakin mahal. Di tengah kondisi ini, seharusnya motor listrik menjadi alternatif yang sangat menarik. Namun, realitanya penjualan motor listrik di Indonesia masih jauh dari harapan. Mengapa demikian?

Fakta Kenaikan Harga BBM vs Pertumbuhan Motor Listrik

Meski pemerintah mendorong transisi ke kendaraan listrik melalui berbagai insentif, penjualan motor listrik masih relatif rendah dibandingkan motor bensin. Pada 2025–2026, motor listrik hanya menyumbang kurang dari 10% dari total penjualan sepeda motor di Indonesia, meskipun harga BBM terus merangkak naik.

Alasan Utama Motor Listrik Belum Laris

Berikut beberapa faktor utama yang menyebabkan masyarakat masih ragu beralih ke motor listrik:

1. Harga Beli yang Masih Mahal Meski ada subsidi pemerintah, harga motor listrik tetap lebih tinggi dibandingkan motor bensin sekelasnya. Kebanyakan konsumen kelas menengah bawah lebih memilih motor bensin bekas atau cicilan murah daripada mengeluarkan uang lebih besar di awal.

Baca Juga :  Kenali Spesifikasi Alva N3, Motor Listrik dengan Riding Mode Seperti Motor Bensin

2. Infrastruktur Pengisian Daya Masih Terbatas Stasiun pengisian baterai (SPKLU) dan home charging masih belum merata, terutama di luar Pulau Jawa. Kekhawatiran kehabisan daya di tengah perjalanan (range anxiety) masih menjadi momok besar.

3. Kekhawatiran Soal Baterai dan After Sales Baterai adalah komponen termahal. Masyarakat khawatir biaya penggantian baterai nantinya mahal dan servis resmi masih terbatas dibandingkan bengkel motor konvensional yang ada di mana-mana.

4. Kebiasaan dan Persepsi Masyarakat Mayoritas masyarakat Indonesia sudah sangat terbiasa dengan motor bensin yang praktis, mudah diisi di mana saja, dan memiliki jarak tempuh yang lebih fleksibel. Motor listrik masih dianggap “kurang tangguh” untuk penggunaan harian yang berat.

5. Insentif yang Belum Cukup Menarik Meski ada subsidi, proses pengajuan dan besaran insentif dinilai belum cukup menggoda dibandingkan selisih harga dengan motor bensin.

Baca Juga :  Akselerasi Seru di Negeri Sakura: Jadwal Lengkap MotoGP Jepang 2025 Dimulai Hari Ini!

6. Ketersediaan Model yang Terbatas Pilihan desain dan varian motor listrik yang sesuai selera konsumen Indonesia (lebih sporty atau matic kekinian) masih terbatas.

Prospek ke Depan

Meski saat ini pertumbuhannya lambat, motor listrik tetap memiliki masa depan cerah. Beberapa pabrikan besar seperti Gesits, Volta, Selis, dan brand asing seperti Honda, Yamaha, dan Niu terus berinovasi. Pemerintah juga terus mendorong target 2,5 juta unit kendaraan listrik pada 2030.

Dengan semakin mahalnya BBM dan semakin murahnya teknologi baterai di masa mendatang, adopsi motor listrik diprediksi akan meningkat pesat dalam 3–5 tahun ke depan.

Kenaikan harga BBM sebenarnya menjadi momentum besar untuk percepatan penggunaan motor listrik. Namun, hambatan harga, infrastruktur, dan kepercayaan masyarakat masih menjadi tantangan utama. Pemerintah dan produsen perlu bekerja sama lebih intensif untuk menurunkan harga, memperluas infrastruktur, serta memberikan edukasi yang masif agar motor listrik bisa benar-benar menjadi pilihan utama masyarakat.

Berita Terkait

Toyota Pastikan Land Cruiser FJ Meluncur Akhir 2026, Harga Masih Menjadi Teka-Teki
Membangun Mobil Nasional, Pelajaran Indonesia dari Pengalaman Malaysia
Mitsubishi Pastikan Pengembangan Hybrid untuk Pajero dan Triton, Namun Butuh Waktu
MotoGP 2027 Resmi Jadwalkan Tes Pramusim, Sepang dan Buriram Jadi Panggung Awal Era 850cc
Toyota Siapkan Celica Baru, Hybrid AWD yang Diincar Jadi Lawan Honda Prelude
Antre Panjang Honda CRF250 Rally, Mengapa Inden Bisa Membentang hingga 2027?
Adu Mewah Bus Jakarta–Solo, Cititrans Busline vs PO Raya
Meski Kredit Ringan, Motor Listrik Masih Sepi Peminat, Ini Penyebabnya
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 11:08 WIB

Toyota Pastikan Land Cruiser FJ Meluncur Akhir 2026, Harga Masih Menjadi Teka-Teki

Jumat, 11 September 2026 - 11:28 WIB

Membangun Mobil Nasional, Pelajaran Indonesia dari Pengalaman Malaysia

Selasa, 8 September 2026 - 11:23 WIB

Mitsubishi Pastikan Pengembangan Hybrid untuk Pajero dan Triton, Namun Butuh Waktu

Kamis, 3 September 2026 - 11:28 WIB

MotoGP 2027 Resmi Jadwalkan Tes Pramusim, Sepang dan Buriram Jadi Panggung Awal Era 850cc

Selasa, 1 September 2026 - 11:24 WIB

Toyota Siapkan Celica Baru, Hybrid AWD yang Diincar Jadi Lawan Honda Prelude

Berita Terbaru

Batagor, makanan khas Jawa Barat asal Bandung, berhasil menduduki peringkat pertama sebagai camilan terbaik di Indonesia versi TasteAtlas.

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Batagor Bandung Resmi Jadi Camilan Terbaik Indonesia Versi TasteAtlas

Selasa, 15 Sep 2026 - 11:38 WIB