Kenapa Otak Kita Ketagihan Kombinasi Pedas Manis? 3 Penjelasan Ilmiah di Balik “Swicy”

- Jurnalis

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pernahkah kamu merasa sulit berhenti mengunyah ayam kecap pedas, sambal manis,

Pernahkah kamu merasa sulit berhenti mengunyah ayam kecap pedas, sambal manis,

JAKARTA, koranmetro.com – Pernahkah kamu merasa sulit berhenti mengunyah ayam kecap pedas, sambal manis, hot honey, atau camilan pedas manis lainnya? Kombinasi rasa yang disebut “swicy” (sweet + spicy) ini memang sedang naik daun dan banyak digemari. Ternyata, ketertarikan ini bukan sekadar soal kebiasaan atau budaya kuliner, melainkan ada mekanisme ilmiah di otak, usus, dan lidah kita.

Berikut tiga alasan ilmiah mengapa banyak orang doyan banget makanan pedas manis.

1. Ledakan Dopamin Ganda di Pusat Penghargaan Otak

Baik rasa manis maupun sensasi pedas secara terpisah sudah mampu mengaktifkan sistem penghargaan di otak. Saat kita mengonsumsi gula, otak melepaskan neurotransmiter dopamin yang memicu perasaan senang dan membuat kita ingin mengulang pengalaman tersebut. Tubuh yang lapar, kekurangan energi, atau sedang stres juga cenderung mencari asupan manis untuk menaikkan kadar gula darah dengan cepat.

Sementara itu, sensasi pedas dari kapsaisin (senyawa aktif di cabai) juga memberikan “hit” dopamin yang dinikmati terutama oleh orang-orang yang senang mencari sensasi. Ketika keduanya digabungkan, efeknya menjadi jauh lebih kuat. Otak mendapat dorongan dopamin optimal dari dua sumber sekaligus, sehingga setiap gigitan terasa sangat memuaskan dan membuat kita ingin terus melanjutkan.

Baca Juga :  5 Pilihan Terbaik Serial Drama China Romantis yang Wajib Ditonton di Tahun 2025

2. Ketidakseimbangan Mikrobioma Usus yang Memicu Ngidam

Keinginan terus-menerus terhadap rasa manis sering kali bermula dari kondisi usus. Ketidakseimbangan bakteri baik dan jahat di usus (disebut dysbiosis) membuat bakteri patogen tumbuh subur dengan mengandalkan gula. Semakin banyak gula yang dikonsumsi, semakin aktif bakteri tersebut, sehingga ngidam manis semakin intens.

Dalam konteks makanan pedas manis, siklus ini diperkuat. Rasa manis memenuhi “permintaan” usus, sementara sensasi pedas menambah lapisan penghargaan di otak. Akibatnya, kombinasi ini terasa sangat sulit ditolak dan bisa membentuk pola ketagihan yang berulang.

3. Harmoni Rasa: Manis Melembutkan Pedas, Pedas Mencegah Manis Terasa Datar

Kapsaisin mengaktifkan reseptor TRPV1 di mulut yang biasanya merespons panas dan rasa sakit. Inilah sebabnya kita merasakan sensasi “terbakar”. Namun, gula berperan sebagai penyeimbang yang cerdas. Rasa manis melembutkan persepsi terhadap rasa pedas, sehingga panasnya terasa menarik dan menantang, bukan menyiksa.

Baca Juga :  Beberapa Alasan Kenapa Pesawat Ogah Lewat Antartika Menurut Pilot

Sebaliknya, elemen pedas mencegah rasa manis menjadi satu dimensi atau membosankan. Hasilnya adalah tarik-ulur dinamis antara kenyamanan dan intensitas yang membuat setiap suapan tetap menarik. Para ilmuwan makanan dan koki menyebutnya sebagai keseimbangan sempurna: manis membuat pedas lebih ramah, sementara pedas menjaga manis tetap hidup dan berlapis.

Kombinasi pedas manis memang punya daya tarik ilmiah yang kuat. Meski begitu, tetap bijak dalam menikmatinya agar tidak berlebihan, terutama bagi yang punya masalah pencernaan atau sensitivitas terhadap cabai. Kalau kamu termasuk pecinta swicy, sekarang kamu tahu: bukan cuma lidah yang senang, otak dan usus juga ikut “berpesta” setiap kali kamu makan hidangan pedas manis.

Berita Terkait

Kurang Oksigen Saat Tidur Bisa Picu Hipertensi, Dokter Ingatkan Bahaya Dengkur
Lima Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Mengancam Kesehatan Mata
Batik Atthaya, Ketika Melestarikan Batik Juga Menjadi Ruang Pemulihan Penyintas Skizofrenia
Ahli Kaki Ingatkan, Jangan Terlalu Lama Pakai Sandal Jepit di Dalam Rumah
Panduan Memilih Manikur, 7 Jenis Populer dan Cocoknya untuk Setiap Kondisi Kuku
Tiga Zodiak yang Bakal Merasa Lebih Ringan dan Bahagia di Tanggal 10 Oktober 2026
Mengeluh, Batas Antara Pelepasan Emosi yang Sehat dan Kebiasaan yang Merusak
IN2MOTIONFEST X JMFW 2026, Kolaborasi Besar Modest Fashion di JICC 14–18 Oktober
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:20 WIB

Kurang Oksigen Saat Tidur Bisa Picu Hipertensi, Dokter Ingatkan Bahaya Dengkur

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:21 WIB

Lima Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Mengancam Kesehatan Mata

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:12 WIB

Batik Atthaya, Ketika Melestarikan Batik Juga Menjadi Ruang Pemulihan Penyintas Skizofrenia

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:01 WIB

Ahli Kaki Ingatkan, Jangan Terlalu Lama Pakai Sandal Jepit di Dalam Rumah

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:21 WIB

Panduan Memilih Manikur, 7 Jenis Populer dan Cocoknya untuk Setiap Kondisi Kuku

Berita Terbaru

Banyak orang menganggap dengkuran saat tidur sebagai hal biasa.

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Kurang Oksigen Saat Tidur Bisa Picu Hipertensi, Dokter Ingatkan Bahaya Dengkur

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:20 WIB