JAKARTA, koranmetro.com – Pemerintah dan lembaga pembiayaan terus mendorong pembelian motor listrik dengan skema kredit yang semakin menarik—mulai dari DP rendah atau bahkan 0 persen, bunga lebih ringan, hingga tenor panjang. Namun, minat konsumen tetap rendah. Penjualan motor listrik masih jauh tertinggal dibandingkan motor berbahan bakar bensin yang mencapai jutaan unit per tahun, sementara motor listrik hanya puluhan ribu unit.
Lalu, mengapa kemudahan kredit saja belum cukup menarik masyarakat?
1. Kekhawatiran Jarak Tempuh dan Pengisian Daya
Bagi banyak pengguna motor di Indonesia, kendaraan adalah alat kerja yang harus siap kapan saja dan ke mana saja. Motor listrik masih dibatasi oleh kapasitas baterai. Jarak tempuh sekali cas sering kali hanya 50–80 km, tergantung model dan kondisi.
Infrastruktur pengisian daya (SPKLU maupun stasiun tukar baterai) belum merata, terutama di luar kota besar. Pengguna khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan atau harus menunggu lama untuk mengisi ulang. Kebiasaan mengisi BBM dalam hitungan menit masih jauh lebih praktis dibandingkan mengisi daya baterai.
2. Harga Awal dan Nilai Jual Kembali
Meski ada insentif, harga motor listrik baru masih terasa lebih tinggi dibandingkan motor bensin sekelasnya. Selain itu, konsumen khawatir nilai jual kembali (resale value) motor listrik lebih rendah. Baterai sebagai komponen mahal juga menimbulkan pertanyaan: berapa biaya penggantiannya setelah beberapa tahun, dan apakah masih ada garansi?
Perusahaan pembiayaan pun cenderung lebih berhati-hati karena risiko nilai residual yang belum stabil.
3. Kebiasaan dan Pola Penggunaan Harian
Mayoritas pengguna motor di Indonesia mengandalkan kendaraan untuk mobilitas tinggi—antar-jemput, kerja, atau usaha. Mereka butuh kendaraan yang fleksibel tanpa harus memikirkan sisa daya. Motor bensin masih unggul dalam hal “kesiapan kapan saja”.
Selain itu, teknologi motor listrik masih dianggap baru. Banyak calon pembeli menunggu bukti keandalan jangka panjang sebelum berani beralih.
4. Inkonsistensi Insentif dan Kebijakan
Subsidi atau insentif pemerintah sempat menjadi daya tarik utama. Namun, perubahan skema dan besaran bantuan dari waktu ke waktu membuat konsumen ragu. Ketika insentif berkurang atau aturannya berubah, minat pembelian langsung terdampak. Ketidakpastian ini membuat banyak orang menunda keputusan.
5. Total Cost of Ownership Belum Sepenuhnya Menguntungkan
Secara teori, biaya operasional motor listrik lebih murah karena tidak pakai bensin. Namun, jika dihitung secara keseluruhan—harga beli, biaya baterai, kemungkinan penurunan nilai jual, serta keterbatasan infrastruktur—belum semua konsumen merasa lebih untung dibandingkan tetap memakai motor bensin yang sudah familiar.
Upaya yang Sedang Didorong
Pihak terkait terus berusaha mengatasi hambatan ini. Skema pembiayaan lebih ringan (DP 0 persen, bunga rendah, tenor panjang) sedang disiapkan. Produsen juga mengembangkan baterai dengan jarak tempuh lebih jauh dan sistem tukar baterai. Perluasan stasiun pengisian dan edukasi masyarakat menjadi fokus lain.
Kredit murah memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu. Konsumen Indonesia masih mempertimbangkan keandalan, kemudahan penggunaan sehari-hari, infrastruktur, dan kepastian jangka panjang. Selama kekhawatiran soal baterai, jarak tempuh, dan nilai jual kembali belum terjawab dengan baik, minat terhadap motor listrik akan sulit melonjak signifikan.









