JAKARTA, koranmetro.com – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menekankan pentingnya evaluasi total terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah terjadinya kasus dugaan keracunan massal di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ia juga mendorong penguatan pengawasan keamanan pangan agar kejadian serupa tidak terulang.
Korban Capai Ratusan Orang
Kasus ini terjadi di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Hingga Jumat, 25 September 2026, jumlah korban yang dilaporkan mencapai 521 orang. Dari jumlah tersebut, puluhan orang harus dirujuk ke rumah sakit, sebagian menjalani rawat inap di puskesmas, dan sisanya menjalani rawat jalan.
Pemerintah daerah bersama Badan Gizi Nasional (BGN) masih terus memantau perkembangan kondisi korban. Proses pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pasti keracunan juga masih berlangsung.
Gibran Langsung ke Batang
Pada Senin, 28 September 2026, Gibran bertolak ke Batang untuk memastikan penanganan korban berjalan optimal. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa evaluasi harus mencakup banyak aspek, mulai dari standar higiene, waktu pengolahan makanan, penyimpanan, distribusi, hingga pengawasan langsung di lapangan.
“Evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, standar keamanan pangan harus dipastikan, dan setiap temuan harus segera diperbaiki. Kita ingin program prioritas Presiden ini memberikan manfaat sebesar-besarnya dengan keamanan dan kualitas makanan sebagai prioritas,” ujar Gibran.
Temuan Awal Pelanggaran SOP
Dari investigasi awal, ditemukan indikasi pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat. Salah satunya terkait waktu pengolahan makanan yang diduga dilakukan jauh lebih awal dari ketentuan, sehingga berisiko menimbulkan masalah keamanan pangan.
BGN telah memberikan sanksi kepada SPPG terkait, termasuk pencopotan kepala unit dan penangguhan operasional.
Desakan Penguatan Pengawasan
Kasus di Batang menjadi salah satu dari sejumlah kejadian serupa yang sempat terjadi di beberapa daerah. Karena itu, Gibran mendorong agar pengawasan keamanan pangan dalam program MBG diperkuat, tidak hanya mengandalkan dokumen administratif, tetapi juga pemantauan langsung dan penegakan SOP secara ketat.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan asupan gizi masyarakat, khususnya anak-anak. Namun, rangkaian kasus keracunan membuat aspek keamanan pangan menjadi sorotan utama.
Kejadian di Batang menjadi pengingat bahwa distribusi makanan dalam skala besar membutuhkan standar kebersihan dan pengawasan yang ketat. Evaluasi yang diminta Gibran diharapkan tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu memperbaiki sistem secara menyeluruh agar program MBG benar-benar aman dan bermanfaat bagi masyarakat.









