JAKARTA, koranmetro.com – Pemerintah Iran sedang mempertimbangkan langkah berisiko dengan menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. Beban subsidi energi yang besar, ditambah sanksi internasional dan dampak konflik, membuat keuangan negara semakin tertekan. Salah satu opsi yang dibahas adalah menaikkan harga bensin mendekati biaya keekonomian, yang setara sekitar Rp 11.000 per liter.
Latar Belakang Tekanan Ekonomi
Iran menghadapi tantangan berlapis. Blokade dan sanksi finansial dari Amerika Serikat, serta eskalasi ketegangan militer, membebani anggaran negara. Lembaga Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Iran berpotensi menyusut hingga 5,4 persen pada 2026.
Salah satu masalah paling mencolok adalah ketimpangan harga BBM. Biaya produksi bensin di tingkat kilang mencapai sekitar 1,3 juta rial per liter (setara sekitar Rp 16.700). Namun, harga jual terendah kepada masyarakat hanya 15.000 rial per liter (kurang dari Rp 200). Selisih yang sangat besar ini membuat subsidi energi menjadi beban berat bagi anggaran negara yang harus menopang kebutuhan sekitar 93 juta penduduk.
Tiga Opsi Kebijakan yang Dipertimbangkan
Pemerintah Iran dilaporkan mengkaji beberapa skenario penyesuaian harga:
- Mempertahankan skema kuota dengan harga bertingkat, namun mengurangi volume kuota murah secara bertahap.
- Memberikan alokasi kuota BBM murah kepada seluruh warga, termasuk yang tidak memiliki kendaraan, sehingga kuota tersebut bisa diperjualbelikan.
- Opsi paling ekstrem: liberalisasi harga mendekati biaya produksi kilang, yakni sekitar 872.000 rial per liter atau setara kurang lebih Rp 11.200.
Opsi terakhir inilah yang menarik perhatian karena lonjakannya sangat signifikan dibandingkan harga saat ini.
Risiko Sosial dan Politik
Kenaikan harga BBM di Iran selalu sensitif. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa penyesuaian harga energi berpotensi memicu ketidakpuasan publik, terutama di tengah inflasi yang sudah tinggi. Karena itu, pemerintah tampak berhati-hati. Uji coba di salah satu provinsi sempat dibatalkan di menit-menit terakhir.
Pejabat tinggi Iran menekankan bahwa perubahan, jika dilakukan, akan digulirkan secara bertahap. Penghematan dari pengurangan subsidi direncanakan dialihkan untuk membantu kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Dampak Lebih Luas
Selain memengaruhi daya beli masyarakat Iran, kebijakan ini juga mencerminkan betapa beratnya tekanan ekonomi yang dihadapi Teheran. Subsidi energi yang selama ini menjadi salah satu instrumen penahan gejolak sosial kini semakin sulit dipertahankan di tengah sanksi dan biaya konflik yang membengkak.
Di tingkat global, ketegangan yang melibatkan Iran juga berkontribusi pada volatilitas harga minyak dunia, yang pada gilirannya memengaruhi banyak negara, termasuk Indonesia.
Iran berada di persimpangan sulit: terus mempertahankan subsidi BBM yang sangat murah dengan risiko fiskal semakin dalam, atau menaikkan harga secara signifikan dengan risiko gejolak sosial. Opsi menaikkan harga hingga kisaran setara Rp 11.000 per liter menunjukkan betapa besar jurang antara harga jual saat ini dan biaya produksi sebenarnya.









