Waspada Merkuri dalam Skincare, Ancaman Tersembunyi yang Bisa Merusak Otak dan Organ Tubuh

- Jurnalis

Selasa, 12 Mei 2026 - 11:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Merkuri (mercury) sering kali menjadi bahan “ajaib” yang ditambahkan pada produk skincare, terutama krim pemutih wajah.

Merkuri (mercury) sering kali menjadi bahan “ajaib” yang ditambahkan pada produk skincare, terutama krim pemutih wajah.

JAKARTA, koranmetro.com – Merkuri (mercury) sering kali menjadi bahan “ajaib” yang ditambahkan pada produk skincare, terutama krim pemutih wajah. Meski memberikan efek cerah yang cepat, zat beracun ini menyimpan bahaya serius bagi kesehatan, termasuk kerusakan permanen pada otak dan sistem saraf.

Mengapa Merkuri Masih Digunakan?

Beberapa produsen kosmetik ilegal atau tidak bertanggung jawab menambahkan merkuri karena zat ini mampu menghambat produksi melanin (pigmen kulit) sehingga wajah terlihat lebih putih dalam waktu singkat. Produk yang mengandung merkuri biasanya dijual secara bebas di pasar online, toko kosmetik, atau bahkan dijajakan lewat media sosial dengan klaim “hasil instan”.

Padahal, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia serta organisasi kesehatan dunia (WHO) telah melarang penggunaan merkuri dalam kosmetik.

Bahaya Merkuri bagi Kesehatan

Merkuri adalah logam berat yang sangat beracun. Berikut risiko kesehatan jika digunakan secara rutin:

  1. Kerusakan Sistem Saraf dan Otak Merkuri dapat menembus sawar darah-otak dan merusak sel saraf. Gejala yang muncul meliputi:
    • Tremor (gemetaran)
    • Gangguan memori dan konsentrasi
    • Depresi, kecemasan, hingga perubahan kepribadian
    • Pada kasus berat: kerusakan otak permanen
  2. Masalah Kulit Ironisnya, meski dipakai untuk memutihkan, merkuri justru dapat menyebabkan:
    • Kulit menjadi tipis dan rapuh
    • Muncul bercak hitam (ochronosis)
    • Jerawat parah dan infeksi
    • Ketergantungan (semakin dipakai, kulit semakin rusak jika dihentikan)
  3. Kerusakan Organ Lain
    • Ginjal (gagal ginjal)
    • Hati
    • Sistem reproduksi (gangguan kesuburan, risiko cacat lahir)
    • Gangguan hormon tiroid
Baca Juga :  Tata Cara Mandi Wajib Setelah Berhubungan Intim, Niat dan Langkah-Langkah yang Harus Diketahui

Anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui paling rentan terhadap keracunan merkuri.

Tanda-tanda Produk Mengandung Merkuri

  • Tekstur krim sangat halus dan berat
  • Aroma logam atau obat yang menyengat
  • Efek pemutihan sangat cepat (dalam beberapa hari)
  • Kemasan tidak mencantumkan izin BPOM atau tulisan “mengandung merkuri”
  • Harga terlalu murah untuk klaim yang dijanjikan

Cara Mendeteksi dan Menghindari

  • Selalu cek nomor izin BPOM pada kemasan.
  • Hindari produk yang berlabel “whitening cream”, “anti spot”, atau “pemutih instan” tanpa kandungan jelas.
  • Pilih skincare yang transparan mencantumkan seluruh komposisinya.
  • Gunakan bahan alami atau produk yang sudah terdaftar resmi.
Baca Juga :  Mengungkap 7 Khasiat Daun Pandan untuk Kecantikan dan Kesehatan Kulit

Langkah Jika Sudah Terpapar

Jika Anda curiga keracunan merkuri, segera:

  • Hentikan penggunaan produk tersebut
  • Konsultasi ke dokter kulit dan spesialis toksikologi
  • Lakukan pemeriksaan darah atau urine untuk mendeteksi kadar merkuri
  • Lakukan perawatan kulit pemulihan secara bertahap

Pilihan Skincare yang Aman

Pilih produk yang mengandung:

  • Niacinamide
  • Vitamin C
  • Alpha Arbutin
  • Kojic Acid
  • Azelaic Acid
  • Retinol (dengan konsentrasi tepat)

Semua bahan ini lebih aman dan terbukti efektif tanpa merusak kesehatan jangka panjang.

Kecantikan instan yang ditawarkan produk mengandung merkuri hanyalah ilusi berbahaya. Kerusakan yang ditimbulkan, terutama pada otak dan ginjal, bisa permanen dan sulit disembuhkan. Lebih baik memilih perawatan kulit yang sehat, bertahap, dan aman meski hasilnya tidak secepat kilat.

Berita Terkait

Makan Pedas Bukan Sekadar Kenikmatan, Ini Dampaknya bagi Tubuh
Dari Santapan Kuli Bangunan ke Meja Semua Kalangan, Perjalanan Warteg Menjadi Ikon Kuliner Rakyat
Tren Fiber Maxxing, Apakah Lebih Banyak Serat Selalu Lebih Baik?
Mengenalkan Pengelolaan Uang pada Anak, Panduan Bertahap dari Usia Dini hingga Remaja
30 Juli, Jejak Panjang Hari Persahabatan Internasional dari Paraguay hingga PBB
Gula Kelapa, Gula Merah, atau Gula Aren, Mana yang Enak untuk Kopi?
Kulit Sawo Matang Cocok Pakai Baju Warna Apa? 15 Pilihan Terbaik yang Bikin Tampil Glowing
Sabrina Chairunnisa Tampil Natural di Yonsei Summer School, Elegan dan Percaya Diri
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:04 WIB

Makan Pedas Bukan Sekadar Kenikmatan, Ini Dampaknya bagi Tubuh

Selasa, 11 Agustus 2026 - 10:58 WIB

Dari Santapan Kuli Bangunan ke Meja Semua Kalangan, Perjalanan Warteg Menjadi Ikon Kuliner Rakyat

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 10:53 WIB

Tren Fiber Maxxing, Apakah Lebih Banyak Serat Selalu Lebih Baik?

Rabu, 5 Agustus 2026 - 11:05 WIB

Mengenalkan Pengelolaan Uang pada Anak, Panduan Bertahap dari Usia Dini hingga Remaja

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:05 WIB

30 Juli, Jejak Panjang Hari Persahabatan Internasional dari Paraguay hingga PBB

Berita Terbaru

Bagi banyak orang, makanan pedas adalah sumber kepuasan tersendiri. Sensasi panas di lidah sering kali membuat hidangan terasa lebih hidup.

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Makan Pedas Bukan Sekadar Kenikmatan, Ini Dampaknya bagi Tubuh

Kamis, 13 Agu 2026 - 11:04 WIB