JAKARTA, koranmetro.com – Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memasuki fase eskalasi baru pada akhir pekan ini. Angkatan Laut Iran (AL Iran) mengklaim telah melancarkan serangan drone dan rudal besar-besaran terhadap target militer Israel serta pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk, sebagai respons atas serangan udara gabungan AS-Israel yang terus menghantam Teheran dan infrastruktur strategis Iran sejak akhir Februari.
Menurut pernyataan resmi dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui kantor berita IRNA pada Sabtu (7/3/2026), operasi tersebut dipimpin langsung oleh angkatan laut Iran dan menargetkan “sasaran penting” di wilayah Israel serta basis militer AS di negara-negara Teluk. Serangan ini terjadi di tengah perang yang telah berlangsung lebih dari seminggu, di mana AS dan Israel melakukan ratusan serangan udara untuk menghancurkan program rudal balistik Iran dan infrastruktur militer lainnya.
Ledakan keras terdengar di langit Yerusalem pada Sabtu malam waktu setempat, memicu sirene peringatan udara di berbagai wilayah kota suci tersebut. Saksi mata melaporkan bola api dan jejak intersepsi rudal di langit, sementara sistem pertahanan Iron Dome Israel bekerja keras mencegat proyektil masuk. Beberapa laporan menyebut rudal balistik Iran berhasil menembus pertahanan, menyebabkan kerusakan di area pinggiran Yerusalem dan sekitar Tel Aviv, termasuk dampak di dekat situs-situs suci dan pemukiman sipil. Korban luka dilaporkan dari serpihan dan kepanikan, meski jumlah pasti belum dikonfirmasi secara resmi.
Di sisi lain, serangan balasan Iran juga menyasar pangkalan AS di Teluk, termasuk di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Beberapa drone dan rudal dicegat oleh pertahanan udara negara-negara Teluk, tetapi eskalasi ini menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global melalui Selat Hormuz.
Konflik ini bermula dari serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026, yang menargetkan situs nuklir, pangkalan rudal, dan kepemimpinan tinggi Iran—termasuk kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam gelombang awal. Iran merespons dengan gelombang rudal balistik dan drone berulang kali, termasuk serangan ke Tel Aviv, Yerusalem, dan basis AS, yang disebut sebagai “operasi balasan skala besar”.
Presiden AS Donald Trump telah menyatakan bahwa serangan terhadap Iran akan semakin intensif, menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Teheran. Sementara itu, Iran terus melancarkan serangan sporadis meski stok rudal mulai menipis akibat bombardir berkelanjutan. Analis memperingatkan bahwa perang ini berpotensi meluas ke Lebanon (melibatkan Hizbullah) dan negara Teluk lainnya, dengan risiko krisis energi dunia.
Situasi di lapangan tetap dinamis: ledakan di Teheran terus bergema dari serangan balik AS-Israel, sementara sirene di Yerusalem dan Tel Aviv menjadi pengingat bahwa konflik ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Dunia menanti langkah selanjutnya dari para pihak, di tengah upaya diplomatik yang terbatas untuk meredam api perang yang semakin membara.









