30 Juli, Jejak Panjang Hari Persahabatan Internasional dari Paraguay hingga PBB

- Jurnalis

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Setiap tanggal 30 Juli, dunia memperingati Hari Persahabatan Internasional atau International Day of Friendship.

Setiap tanggal 30 Juli, dunia memperingati Hari Persahabatan Internasional atau International Day of Friendship.

JAKARTA, koranmetro.com – Setiap tanggal 30 Juli, dunia memperingati Hari Persahabatan Internasional atau International Day of Friendship. Bukan sekadar hari untuk saling berkirim pesan manis kepada sahabat, peringatan ini memiliki sejarah panjang yang bermula dari gagasan sederhana hingga akhirnya diakui secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Awal Gagasan: Dari Kartu Ucapan hingga Gerakan Perdamaian

Ide merayakan persahabatan sebenarnya sudah muncul sejak awal abad ke-20. Di Amerika Serikat, perusahaan kartu ucapan Hallmark sempat mempromosikan “Friendship Day” sekitar tahun 1919–1930-an sebagai momentum saling mengirim kartu kepada teman. Namun, perayaan ini lebih bersifat komersial dan tidak bertahan sebagai gerakan global.

Titik balik yang lebih bermakna terjadi pada 1958 di Paraguay. Seorang dokter bernama Dr. Ramón Artemio Bracho, bersama sejumlah sahabatnya, mendirikan organisasi sipil bernama World Friendship Crusade. Saat makan malam di Puerto Pinasco, Bracho terinspirasi untuk menciptakan hari khusus yang merayakan persahabatan sebagai sarana membangun perdamaian.

Organisasi tersebut kemudian menetapkan 30 Juli sebagai Hari Persahabatan. Gagasan ini perlahan menyebar ke berbagai negara di Amerika Latin dan kemudian ke belahan dunia lain, dengan semangat bahwa persahabatan mampu menembus batas budaya, bahasa, dan ideologi.

Baca Juga :  IN2MOTIONFEST X JMFW 2026, Kolaborasi Besar Modest Fashion di JICC 14–18 Oktober

Pengakuan Resmi oleh PBB

Butuh lebih dari lima dekade agar gagasan tersebut mendapat pengakuan internasional tertinggi. Pada 2011, Majelis Umum PBB melalui resolusi resmi memproklamasikan 30 Juli sebagai International Day of Friendship.

PBB menekankan bahwa persahabatan antarbangsa, negara, budaya, dan individu dapat menginspirasi upaya perdamaian serta membangun jembatan antar komunitas. Resolusi tersebut juga menyoroti pentingnya melibatkan kaum muda sebagai pemimpin masa depan dalam kegiatan yang mendorong pemahaman lintas budaya dan penghormatan terhadap keberagaman.

Peringatan ini sejalan dengan konsep Culture of Peace yang sebelumnya diusulkan UNESCO dan diadopsi Majelis Umum PBB pada 1997. Budaya damai dipahami sebagai seperangkat nilai, sikap, dan perilaku yang menolak kekerasan serta berupaya mencegah konflik dari akar permasalahannya.

Makna dan Perayaan di Berbagai Negara

Meski PBB menetapkan 30 Juli, beberapa negara memiliki tradisi sendiri. Di India, Malaysia, Bangladesh, dan sejumlah tempat lain, Hari Persahabatan sering dirayakan pada Minggu pertama bulan Agustus. Perbedaan tanggal ini tidak mengurangi semangat yang sama: menghargai ikatan pertemanan.

Baca Juga :  Akhir dari Teror Ribuan Monyet di Thailand

Cara merayakannya pun beragam, mulai dari saling bertukar pesan, mengadakan kegiatan sosial, hingga kampanye yang mengajak orang untuk menjalin persahabatan lintas latar belakang.

Mengapa Masih Relevan?

Di tengah tantangan global seperti konflik, polarisasi, dan ketegangan sosial, pesan Hari Persahabatan Internasional terasa semakin penting. Persahabatan yang tulus mampu menjadi fondasi dialog, solidaritas, dan rekonsiliasi. Ia mengingatkan bahwa perdamaian tidak hanya dibangun di meja perundingan, tetapi juga melalui hubungan manusia sehari-hari.

Dari ide sederhana seorang dokter di Paraguay hingga resolusi resmi PBB, perjalanan Hari Persahabatan Internasional menunjukkan bahwa gagasan baik membutuhkan waktu dan ketekunan untuk diterima dunia. Kini, setiap 30 Juli menjadi momentum untuk menghargai sahabat, memperkuat hubungan antarmasyarakat, dan menumbuhkan budaya damai yang dimulai dari hal paling sederhana: persahabatan.

Berita Terkait

Kenapa Otak Kita Ketagihan Kombinasi Pedas Manis? 3 Penjelasan Ilmiah di Balik “Swicy”
Mengeluh, Batas Antara Pelepasan Emosi yang Sehat dan Kebiasaan yang Merusak
IN2MOTIONFEST X JMFW 2026, Kolaborasi Besar Modest Fashion di JICC 14–18 Oktober
Energi Fajar yang Menggelegar, Saat Semangat Pagi Bertemu Inovasi Sepatu di Jakarta Speed Race 2026
Mengapa Ide Brilian Sering Muncul saat Mandi? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Batagor Bandung Resmi Jadi Camilan Terbaik Indonesia Versi TasteAtlas
Melatih Anak Pandai Menyelesaikan Masalah, Tips Sederhana dari Psikolog
Waspada Abu Vulkanik Anak Krakatau, Ini Saran Epidemiolog agar Tetap Aman
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:23 WIB

Kenapa Otak Kita Ketagihan Kombinasi Pedas Manis? 3 Penjelasan Ilmiah di Balik “Swicy”

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:27 WIB

Mengeluh, Batas Antara Pelepasan Emosi yang Sehat dan Kebiasaan yang Merusak

Selasa, 29 September 2026 - 11:24 WIB

IN2MOTIONFEST X JMFW 2026, Kolaborasi Besar Modest Fashion di JICC 14–18 Oktober

Sabtu, 26 September 2026 - 11:30 WIB

Energi Fajar yang Menggelegar, Saat Semangat Pagi Bertemu Inovasi Sepatu di Jakarta Speed Race 2026

Minggu, 20 September 2026 - 11:12 WIB

Mengapa Ide Brilian Sering Muncul saat Mandi? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Berita Terbaru