JAKARTA, koranmetro.com – Setiap tanggal 30 Juli, dunia memperingati Hari Persahabatan Internasional atau International Day of Friendship. Bukan sekadar hari untuk saling berkirim pesan manis kepada sahabat, peringatan ini memiliki sejarah panjang yang bermula dari gagasan sederhana hingga akhirnya diakui secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Awal Gagasan: Dari Kartu Ucapan hingga Gerakan Perdamaian
Ide merayakan persahabatan sebenarnya sudah muncul sejak awal abad ke-20. Di Amerika Serikat, perusahaan kartu ucapan Hallmark sempat mempromosikan “Friendship Day” sekitar tahun 1919–1930-an sebagai momentum saling mengirim kartu kepada teman. Namun, perayaan ini lebih bersifat komersial dan tidak bertahan sebagai gerakan global.
Titik balik yang lebih bermakna terjadi pada 1958 di Paraguay. Seorang dokter bernama Dr. Ramón Artemio Bracho, bersama sejumlah sahabatnya, mendirikan organisasi sipil bernama World Friendship Crusade. Saat makan malam di Puerto Pinasco, Bracho terinspirasi untuk menciptakan hari khusus yang merayakan persahabatan sebagai sarana membangun perdamaian.
Organisasi tersebut kemudian menetapkan 30 Juli sebagai Hari Persahabatan. Gagasan ini perlahan menyebar ke berbagai negara di Amerika Latin dan kemudian ke belahan dunia lain, dengan semangat bahwa persahabatan mampu menembus batas budaya, bahasa, dan ideologi.
Pengakuan Resmi oleh PBB
Butuh lebih dari lima dekade agar gagasan tersebut mendapat pengakuan internasional tertinggi. Pada 2011, Majelis Umum PBB melalui resolusi resmi memproklamasikan 30 Juli sebagai International Day of Friendship.
PBB menekankan bahwa persahabatan antarbangsa, negara, budaya, dan individu dapat menginspirasi upaya perdamaian serta membangun jembatan antar komunitas. Resolusi tersebut juga menyoroti pentingnya melibatkan kaum muda sebagai pemimpin masa depan dalam kegiatan yang mendorong pemahaman lintas budaya dan penghormatan terhadap keberagaman.
Peringatan ini sejalan dengan konsep Culture of Peace yang sebelumnya diusulkan UNESCO dan diadopsi Majelis Umum PBB pada 1997. Budaya damai dipahami sebagai seperangkat nilai, sikap, dan perilaku yang menolak kekerasan serta berupaya mencegah konflik dari akar permasalahannya.
Makna dan Perayaan di Berbagai Negara
Meski PBB menetapkan 30 Juli, beberapa negara memiliki tradisi sendiri. Di India, Malaysia, Bangladesh, dan sejumlah tempat lain, Hari Persahabatan sering dirayakan pada Minggu pertama bulan Agustus. Perbedaan tanggal ini tidak mengurangi semangat yang sama: menghargai ikatan pertemanan.
Cara merayakannya pun beragam, mulai dari saling bertukar pesan, mengadakan kegiatan sosial, hingga kampanye yang mengajak orang untuk menjalin persahabatan lintas latar belakang.
Mengapa Masih Relevan?
Di tengah tantangan global seperti konflik, polarisasi, dan ketegangan sosial, pesan Hari Persahabatan Internasional terasa semakin penting. Persahabatan yang tulus mampu menjadi fondasi dialog, solidaritas, dan rekonsiliasi. Ia mengingatkan bahwa perdamaian tidak hanya dibangun di meja perundingan, tetapi juga melalui hubungan manusia sehari-hari.
Dari ide sederhana seorang dokter di Paraguay hingga resolusi resmi PBB, perjalanan Hari Persahabatan Internasional menunjukkan bahwa gagasan baik membutuhkan waktu dan ketekunan untuk diterima dunia. Kini, setiap 30 Juli menjadi momentum untuk menghargai sahabat, memperkuat hubungan antarmasyarakat, dan menumbuhkan budaya damai yang dimulai dari hal paling sederhana: persahabatan.









