JAKARTA, koranmetro.com – Di tengah tantangan regenerasi pengrajin batik tulis, Batik Atthaya dari Cirebon menghadirkan pendekatan yang berbeda. Rumah batik ini tidak hanya mempertahankan tradisi membatik, tetapi juga membuka ruang kerja inklusif bagi penyintas skizofrenia dan kelompok berkebutuhan khusus. Di balik koleksi batik yang mereka hasilkan, tersimpan cerita pemberdayaan dan pemulihan rasa percaya diri.
Lebih dari Sekadar Produksi Batik
Pemilik Batik Atthaya, Rully, menjelaskan bahwa selain mempekerjakan pembatik senior, pihaknya juga membuka workshop dan pelatihan bagi orang-orang yang pernah mengalami skizofrenia maupun depresi. Langkah ini diambil untuk memberikan wadah kegiatan produktif sekaligus membantu mereka kembali beradaptasi di tengah masyarakat.
Menurut Rully, banyak penyintas skizofrenia masih menghadapi stigma. Mereka sering dikucilkan atau dihindari dalam interaksi sosial. Namun, ketika ditempatkan di lingkungan kerja yang menerima dan mendukung, kondisi mental serta kemampuan komunikasi mereka justru dapat berkembang dengan baik.
“Dampaknya banyak. Kalau misalnya kadang mereka dikucilkan, orang lain suruh ngobrol sama mereka saja ogah-ogahan. Tapi pas kita masukkan mereka ke dalam lingkungan kerja (membatik di Batik Atthaya), mereka sehat kok,” ujar Rully saat ditemui di ajang IN2MOTIONFEST X JMFW di Jakarta.
Membatik sebagai Aktivitas Terapeutik
Aktivitas rutin membuat batik ternyata memberikan efek positif bagi para penyintas. Proses membatik yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan konsentrasi membantu mereka fokus serta membangun kembali rasa percaya diri. Di bengkel produksi, mereka juga saling berinteraksi, berbagi wawasan, dan menjalin komunikasi yang lebih sehat.
Lingkungan kerja yang inklusif membuat mereka tidak merasa terasing. Sebaliknya, mereka merasa diterima dan memiliki peran yang berarti dalam menghasilkan karya.
Motif Kontemporer untuk Generasi Muda
Selain aspek pemberdayaan, Batik Atthaya juga berupaya menarik minat generasi muda. Sekitar 70 persen motif yang dikembangkan bersifat kontemporer, sementara sisanya tetap mempertahankan motif tradisional khas Cirebon seperti Mega Mendung.
Motif yang diangkat tidak terbatas pada ornamen klasik. Batik Atthaya mengeksplorasi objek-objek dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari peralatan rumah tangga, ayam jago, pemandangan alam, hingga elemen modern seperti Vespa dan astronot. Pendekatan ini bertujuan agar batik terasa lebih relevan dan disukai Generasi Z maupun milenial.
Melawan Stigma lewat Karya
Kehadiran Batik Atthaya menunjukkan bahwa pemberdayaan penyintas gangguan mental tidak harus selalu dalam bentuk program khusus yang terpisah. Dengan membuka ruang kerja yang setara dan suportif, mereka bisa kembali produktif, berinteraksi sosial, serta menghasilkan karya yang bernilai.
Cerita di balik Batik Atthaya juga menjadi pengingat bahwa stigma terhadap penyintas skizofrenia masih kuat di masyarakat. Padahal, dengan dukungan yang tepat, banyak di antara mereka mampu berkarya dan berkontribusi.
Batik Atthaya membuktikan bahwa melestarikan warisan budaya bisa berjalan seiring dengan upaya sosial yang bermakna. Melalui workshop inklusif dan pendekatan yang manusiawi, rumah batik ini tidak hanya menghasilkan kain bermotif indah, tetapi juga membantu memulihkan rasa percaya diri para penyintas skizofrenia.









