Jepang Hentikan Operasi F-2 Setelah Insiden Jatuh di Pasifik

- Jurnalis

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 13:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ada tanggal 7 Agustus 2025, sebuah jet tempur Mitsubishi F-2A milik Angkatan Udara Bela Diri Jepang (JASDF) jatuh ke Samudra Pasifik selama latihan rutin di lepas pantai Prefektur Ibaraki,

ada tanggal 7 Agustus 2025, sebuah jet tempur Mitsubishi F-2A milik Angkatan Udara Bela Diri Jepang (JASDF) jatuh ke Samudra Pasifik selama latihan rutin di lepas pantai Prefektur Ibaraki,

JAKARTA, koranmetro.com – Pada tanggal 7 Agustus 2025, sebuah jet tempur Mitsubishi F-2A milik Angkatan Udara Bela Diri Jepang (JASDF) jatuh ke Samudra Pasifik selama latihan rutin di lepas pantai Prefektur Ibaraki, Jepang Timur. Insiden yang terjadi sekitar pukul 12:34 siang waktu setempat ini memicu keputusan signifikan dari otoritas militer Jepang untuk mengandangkan seluruh armada jet tempur F-2 hingga penyelidikan selesai. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan dan mencegah insiden serupa di masa depan.

Kronologi Insiden

Jet tempur F-2A yang jatuh berasal dari Skuadron ke-3 yang berbasis di Pangkalan Udara Hyakuri, Prefektur Ibaraki. Pesawat tersebut sedang melakukan latihan bersama tiga jet F-2 lainnya dan dua pesawat penyelamat JASDF di wilayah udara sekitar 150 kilometer timur laut pangkalan. Menurut laporan, pilot melaporkan adanya kelainan pada pesawat sebelum melakukan ejeksi darurat. Beruntung, pilot berhasil diselamatkan oleh helikopter penyelamat UH-60J dari Unit Penyelamat Hyakuri tanpa luka serius dan dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tidak ada laporan kerusakan pada kapal atau fasilitas di sekitar lokasi kejadian.

Mitsubishi F-2: Tulang Punggung Pertahanan Jepang

Mitsubishi F-2 adalah jet tempur multirole yang dikembangkan bersama oleh Mitsubishi Heavy Industries Jepang dan Lockheed Martin Amerika Serikat, dengan rasio pembagian produksi 60/40. Berbasis pada desain F-16C Block 40, F-2 memiliki teknologi canggih seperti radar AESA buatan Mitsubishi dan kemampuan tempur anti-kapal, serangan darat, serta udara-ke-udara. Dengan bobot yang lebih ringan berkat penggunaan material komposit serat karbon, F-2 dikenal akan manuverabilitas tinggi dan menjadi elemen kunci dalam pertahanan pulau-pulau terpencil Jepang sebelum diperkenalkannya jet siluman F-35.

Baca Juga :  Israel Serang Reaktor Nuklir Iran di Arak, Ketegangan Kawasan Meningkat

Produksi F-2 dimulai pada tahun 1996, dan hingga kini, JASDF mengoperasikan sekitar 90 unit F-2. Meski memiliki rekam jejak keselamatan yang relatif baik, insiden seperti ini bukan yang pertama. Pada Februari 2019, sebuah F-2 jatuh di Laut Jepang selama latihan tempur, namun kedua awak berhasil diselamatkan. Insiden lain pada Oktober 2021 melibatkan F-2 yang kehilangan kanopi saat misi pencegatan, menunjukkan tantangan dalam menjaga armada yang mulai menua.

Jepang Kandangkan Seluruh Armada F-2

Menanggapi insiden tersebut, JASDF segera mengandangkan seluruh armada F-2A untuk pemeriksaan menyeluruh. Keputusan ini diumumkan pada hari yang sama, menunjukkan respons cepat untuk mengatasi potensi masalah teknis atau operasional. Kepala Staf JASDF, Takehiro Morita, menyampaikan permintaan maaf atas kekhawatiran publik yang ditimbulkan dan menegaskan bahwa penyelidikan sedang dilakukan untuk menentukan penyebab kecelakaan. Hingga saat ini, detail seperti nomor seri pesawat atau penyebab pasti belum diungkap, namun otoritas militer menekankan pentingnya menunggu hasil investigasi sebelum membuat kesimpulan.

Langkah pengandangan ini menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan operasional JASDF, terutama karena F-2 merupakan salah satu pilar utama pertahanan udara Jepang. Armada yang menua menjadi sorotan, dengan beberapa pihak menyatakan bahwa insiden ini mungkin mempercepat rencana modernisasi dengan jet tempur generasi baru seperti F-35.

Dampak dan Sorotan Internasional

Kecelakaan ini juga menarik perhatian internasional, terutama karena F-2 baru-baru ini disebut-sebut dalam diskusi ekspor militer Jepang. Pada Juni 2025, Panglima Angkatan Udara Filipina, Letnan Jenderal Arthur Cordura, menyatakan minat untuk mengakuisisi jet F-2 yang sudah tidak digunakan oleh Jepang, sebagai bagian dari strategi pertahanan kepulauan Filipina. Meski belum ada negosiasi resmi, insiden ini dapat memengaruhi persepsi terhadap keandalan F-2 di pasar internasional.

Baca Juga :  Kebakaran Menghancurkan Asrama Sekolah di Kenya, 5 Pelajar Tewas dan 15 Terluka

Penyelidikan dan Langkah ke Depan

Saat ini, tim penyelidik JASDF sedang bekerja untuk memulihkan puing-puing pesawat dari Samudra Pasifik guna menentukan penyebab kecelakaan. Faktor seperti kegagalan mekanis, kesalahan pilot, atau kondisi lingkungan menjadi fokus utama. Insiden ini mengingatkan pada kecelakaan serupa di masa lalu, seperti kecelakaan F-2 pada 2019 yang disebabkan oleh kehilangan kecepatan selama manuver tempur, meskipun dalam kasus tersebut pilot dan instruktur berhasil diselamatkan.

Jepang kini berada pada posisi kritis untuk mengevaluasi armada F-2-nya. Sementara investigasi berlangsung, pengandangan armada dapat memengaruhi kesiapan operasional JASDF dalam jangka pendek. Di sisi lain, insiden ini memperkuat urgensi untuk mempercepat transisi ke jet tempur modern seperti F-35, yang telah mulai menggantikan peran F-2 dalam beberapa misi strategis.

Kecelakaan jet tempur Mitsubishi F-2A di lepas pantai Ibaraki pada Agustus 2025 menjadi pengingat akan tantangan menjaga armada militer yang andal dan aman. Dengan pilot yang selamat dan tidak adanya kerusakan tambahan, fokus kini beralih pada penyelidikan menyeluruh untuk memastikan keamanan armada F-2 ke depannya. Sementara Jepang berupaya menjaga kekuatan pertahanan udaranya, insiden ini dapat menjadi titik balik dalam modernisasi angkatan bersenjata, sekaligus menyoroti pentingnya keseimbangan antara teknologi canggih dan pemeliharaan yang ketat.

Berita Terkait

Trump dan Penarikan Pasukan AS dari Eropa: Batalnya Pengiriman 4.000 Tentara ke Polandia
Lionel Messi Masuk Daftar, Skuad Sementara Argentina untuk Pertahankan Gelar Juara Piala Dunia 2026
Kepemimpinan Teladan, CEO Japan Airlines yang Rela Berkorban untuk Lindungi Karyawan
CIA Bocor, Iran Masih Kuasai 70% Rudal, Kontradiksi Klaim Trump soal “Hancur Lebur”
Reaksi Kanselir Jerman terhadap Penarikan Pasukan AS, Langkah Menuju Kemandirian Eropa?
Trump Tolak Proposal Iran Terbaru, Kembali Ancam Aksi Militer jika Tak Ada Kesepakatan
UEA Resmi Hengkang dari OPEC Mulai 1 Mei 2026, Langkah Berani Menuju Kemandirian Energi
Kesehatan Pemimpin di Sorotan, Isu Kondisi Medis dan Dinamika Politik Israel
Berita ini 13 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 11:41 WIB

Trump dan Penarikan Pasukan AS dari Eropa: Batalnya Pengiriman 4.000 Tentara ke Polandia

Selasa, 12 Mei 2026 - 11:12 WIB

Lionel Messi Masuk Daftar, Skuad Sementara Argentina untuk Pertahankan Gelar Juara Piala Dunia 2026

Minggu, 10 Mei 2026 - 11:12 WIB

Kepemimpinan Teladan, CEO Japan Airlines yang Rela Berkorban untuk Lindungi Karyawan

Jumat, 8 Mei 2026 - 11:30 WIB

CIA Bocor, Iran Masih Kuasai 70% Rudal, Kontradiksi Klaim Trump soal “Hancur Lebur”

Senin, 4 Mei 2026 - 11:19 WIB

Reaksi Kanselir Jerman terhadap Penarikan Pasukan AS, Langkah Menuju Kemandirian Eropa?

Berita Terbaru

Pemilik kulit dengan warm undertone (nuansa dasar kuning, golden, atau peach) biasanya terlihat cerah dan sehat saat mengenakan warna-warna hangat.

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

4 Warna Outfit yang Bikin Pemilik Kulit Warm Undertone Makin Radiant

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:27 WIB

Ekonomi Indonesia bukan dibangun di gedung-gedung tinggi Wall Street atau hiruk-pikuk pasar saham, melainkan di hamparan sawah hijau,

NASIONAL

Fondasi Sawah, Kekuatan Ekonomi Indonesia yang Sejati

Senin, 18 Mei 2026 - 11:22 WIB