Krisis Diplomatik, Peru Putus Hubungan dengan Meksiko, Latar Belakang Tuduhan Asilum Mantan PM

- Jurnalis

Selasa, 4 November 2025 - 12:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam langkah yang mengejutkan, pemerintah Peru mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Meksiko pada Senin (3/11) malam waktu setempat.

Dalam langkah yang mengejutkan, pemerintah Peru mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Meksiko pada Senin (3/11) malam waktu setempat.

JAKARTA, koranmetro.com – Dalam langkah yang mengejutkan, pemerintah Peru mengumumkan pemutusan hubungan diplomatik dengan Meksiko pada Senin (3/11) malam waktu setempat. Keputusan ini dipicu oleh pemberian suaka politik oleh Meksiko kepada mantan Perdana Menteri Peru, Betssy Chávez, yang sedang menghadapi tuntutan pidana terkait upaya kudeta pada 2022. Insiden ini memperburuk ketegangan lama antara kedua negara tetangga di Amerika Latin, yang telah lama tercemar oleh tuduhan campur tangan politik.

Kronologi Kejadian yang Memanas

Semuanya bermula pada Senin pagi ketika otoritas Peru mengetahui bahwa Betssy Chávez, yang menjabat sebagai perdana menteri di bawah Presiden Pedro Castillo pada Desember 2022, telah melarikan diri ke Kedutaan Besar Meksiko di Lima. Chávez, berusia 44 tahun, diduga meminta suaka politik untuk menghindari penahanan terkait kasus pemberontakan dan konspirasi melawan negara. Ia dituduh sebagai kaki tangan utama dalam rencana Castillo untuk membubarkan Kongres Peru, yang berujung pada penggulingan presiden tersebut.

Menteri Luar Negeri Peru, Hugo de Zela, langsung menggelar konferensi pers untuk menyatakan kekecewaan mendalam. “Kami mengetahui dengan kejutan dan penyesalan mendalam bahwa mantan Perdana Menteri Betssy Chávez, yang diduga sebagai co-author upaya kudeta oleh mantan Presiden Pedro Castillo, sedang diberikan suaka di Kedutaan Meksiko,” ujar de Zela. Ia menambahkan bahwa tindakan ini merupakan “tindakan tidak ramah” yang menambah daftar panjang campur tangan Meksiko dalam urusan dalam negeri Peru.

Pemerintah Peru segera mengambil langkah tegas: memutus hubungan diplomatik secara penuh, meskipun hubungan konsuler tetap dipertahankan untuk melindungi warga negara di kedua belah pihak. Keputusan ini diumumkan oleh Kantor Presiden José Jerí, yang baru saja dilantik sebagai presiden konservatif Peru, menegaskan bahwa Meksiko telah “berulang kali” mengganggu stabilitas politik Peru.

Baca Juga :  Umat Katolik Penuhi Basilika Santo Petrus Sebelum Paus Dikubur

Latar Belakang Konflik yang Lebih Dalam

Ketegangan antara Peru dan Meksiko bukanlah hal baru. Akar masalahnya dapat ditelusuri ke akhir 2022, ketika Pedro Castillo – seorang mantan guru desa yang naik menjadi presiden pertama dari kalangan miskin – mencoba membubarkan Kongres Peru melalui dekrit darurat. Upaya ini gagal total, Castillo ditangkap, dan digantikan oleh Wakil Presiden Dina Boluarte. Chávez, yang baru saja dilantik sebagai perdana menteri beberapa hari sebelumnya, dituduh mengetahui rencana tersebut meskipun ia membantahnya.

Meksiko, di bawah kepemimpinan Presiden kiri Andrés Manuel López Obrador (AMLO) saat itu, menjadi salah satu suara terdepan yang mendukung Castillo. AMLO menyebut penggulingan itu sebagai “kudeta” dan menawarkan suaka kepada keluarga Castillo. Respons Peru? Menyatakan duta besar Meksiko di Lima sebagai persona non grata dan memulangkannya dalam 72 jam. Pada Februari 2023, Boluarte juga menarik duta besar Peru dari Mexico City, menuduh AMLO campur tangan dalam urusan Peru.

Kini, dengan Presiden baru Meksiko Claudia Sheinbaum – penerus AMLO yang juga berhaluan kiri – ketegangan kembali memuncak. Sheinbaum dan AMLO telah secara terbuka menyebut Castillo sebagai “tahanan politik,” dan pemberian suaka kepada Chávez dilihat Peru sebagai kelanjutan dari pola tersebut. “Mereka mencoba mengubah pelaku kudeta menjadi korban politik. Ini salah besar,” tegas de Zela, menekankan bahwa proses hukum di Peru berjalan dengan jaminan penuh.

Baca Juga :  Kecelakaan Pesawat Kecil di AS Sebabkan Kebakaran Dahsyat

Menurut Konvensi Caracas 1954 tentang Suaka Diplomatik, Peru tidak bisa memasuki wilayah kedutaan Meksiko untuk menangkap Chávez. Namun, de Zela menegaskan bahwa proses ekstradisi akan diikuti sesuai hukum internasional.

Reaksi Internasional dan Dampak Potensial

Hingga Selasa pagi (4/11), Kementerian Luar Negeri Meksiko belum memberikan komentar resmi terkait pemutusan hubungan ini. Sementara itu, polisi Peru telah mengerahkan pasukan di sekitar Kedutaan Meksiko di Lima untuk menjaga keamanan, meskipun tidak ada laporan kekerasan.

Komunitas internasional tampak khawatir dengan eskalasi ini. Uni Amerika Latin dan Karibia (CELAC) mungkin akan memanggil pertemuan darurat, mengingat kedua negara adalah anggota aktif. Analis politik seperti yang dikutip Al Jazeera memperingatkan bahwa pemutusan hubungan bisa memengaruhi perdagangan bilateral – meskipun skalanya kecil dibandingkan mitra lain – dan memperlemah solidaritas regional di tengah isu-isu seperti migrasi dan perubahan iklim.

Bagi Peru, yang masih bergulat dengan instabilitas politik pasca-Castillo (termasuk protes massal dan korupsi), insiden ini bisa menjadi amunisi bagi oposisi untuk menyerang pemerintah Jerí. Sementara itu, Chávez tetap berada di kedutaan, menunggu keputusan akhir tentang status suakanya.

Pemutusan hubungan diplomatik ini menandai babak baru dalam rivalitas ideologis antara pemerintahan konservatif Peru dan progresif Meksiko. Apakah ini hanya gertakan sementara atau awal dari isolasi diplomatik yang lebih luas? Hanya waktu yang akan menjawab. Yang jelas, kisah Betssy Chávez kini menjadi simbol dari perpecahan yang lebih dalam di Amerika Latin, di mana suaka politik sering kali menjadi alat dalam permainan kekuasaan.

Berita Terkait

UEA Resmi Hengkang dari OPEC Mulai 1 Mei 2026, Langkah Berani Menuju Kemandirian Energi
Kesehatan Pemimpin di Sorotan, Isu Kondisi Medis dan Dinamika Politik Israel
AS Jadi Mediator Utama, Israel dan Lebanon Siap Bertemu Lagi di Washington untuk Perundingan Damai
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, “Akan Dibuka Kembali Setelah AS Hentikan Blokade”
Trump Sebut AS Siap Bantu Iran Membersihkan Ranjau di Selat Hormuz Pasca Gencatan Senjata
Trump, Perang dengan Iran Hampir Berakhir, Amerika Siap Kembali ke Meja Perundingan
Paus Leo XIV Tegaskan Sikap Antiperang, Trump, Saya Tidak Peduli
Penampilan Pertama Mojtaba Khamenei Pasca Gencatan Senjata: Klaim Kemenangan Iran atas Israel
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 11:15 WIB

UEA Resmi Hengkang dari OPEC Mulai 1 Mei 2026, Langkah Berani Menuju Kemandirian Energi

Sabtu, 25 April 2026 - 11:34 WIB

Kesehatan Pemimpin di Sorotan, Isu Kondisi Medis dan Dinamika Politik Israel

Selasa, 21 April 2026 - 11:26 WIB

AS Jadi Mediator Utama, Israel dan Lebanon Siap Bertemu Lagi di Washington untuk Perundingan Damai

Minggu, 19 April 2026 - 11:19 WIB

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, “Akan Dibuka Kembali Setelah AS Hentikan Blokade”

Sabtu, 18 April 2026 - 12:41 WIB

Trump Sebut AS Siap Bantu Iran Membersihkan Ranjau di Selat Hormuz Pasca Gencatan Senjata

Berita Terbaru

Manchester United berhasil meraih kemenangan penting 2-1 atas Brentford dalam lanjutan Premier League di Old Trafford, Senin (27 April 2026)

Liga Inggris

Casemiro dan Sesko Bawa MU Makin Dekat ke Liga Champions

Selasa, 28 Apr 2026 - 11:14 WIB

Malam puncak Pemilihan Puteri Indonesia 2026 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) pada Jumat (24 April 2026).

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Agnes Aditya Rahajeng dari Banten Raih Mahkota Puteri Indonesia 2026

Minggu, 26 Apr 2026 - 11:26 WIB