Ekspansi Armada Kapal Induk China, Pentagon Prediksi 6 Kapal Baru hingga 2035, Amerika Serikat Tingkatkan Kewaspadaan

- Jurnalis

Jumat, 26 Desember 2025 - 12:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beijing terus mempercepat modernisasi angkatan lautnya, dengan fokus utama pada pengembangan kapal induk sebagai simbol proyeksi kekuatan global.

Beijing terus mempercepat modernisasi angkatan lautnya, dengan fokus utama pada pengembangan kapal induk sebagai simbol proyeksi kekuatan global.

JAKARTA, koranmetro.com – Beijing terus mempercepat modernisasi angkatan lautnya, dengan fokus utama pada pengembangan kapal induk sebagai simbol proyeksi kekuatan global. Menurut laporan tahunan Pentagon tentang kekuatan militer China yang dirilis pada akhir 2025, People’s Liberation Army Navy (PLAN) berencana membangun enam kapal induk baru dalam dekade mendatang, sehingga total armada mencapai sembilan kapal induk pada 2035. Prediksi ini melebihi estimasi sebelumnya dan menandai ekspansi terbesar di Indo-Pasifik sejak Perang Dunia II.

Saat ini, China telah mengoperasikan tiga kapal induk: Liaoning (Type 001), Shandong (Type 002), dan Fujian (Type 003) yang baru saja dikomisionerkan pada November 2025 di Sanya, Hainan. Fujian merupakan kapal induk paling canggih China, dengan sistem peluncuran elektromagnetik (EMALS) yang memungkinkan operasi CATOBAR (catapult-assisted take-off but arrested recovery). Kapal ini memiliki bobot lebih dari 80.000 ton dan mampu membawa pesawat tempur generasi kelima seperti J-35 serta pesawat peringatan dini KJ-600.

Rencana ekspansi ini mencakup Type 004 yang sedang dibangun, yang diyakini akan menjadi kapal induk bertenaga nuklir pertama China. Konstruksi Type 004 telah dimulai di galangan kapal Dalian sejak 2024-2025, dengan reaktor nuklir prototipe yang lebih besar dari kelas sebelumnya. Kapal ini diproyeksikan memiliki bobot 110.000-120.000 ton, melebihi USS Gerald R. Ford milik AS, dan dilengkapi 4-5 katapel EMALS serta kapasitas hingga 100 pesawat.

Baca Juga :  Biden-Xi Jinping Sepakat, Senjata Nuklir Tak Boleh Dikendalikan AI

Pentagon menilai ekspansi ini sebagai bagian dari ambisi China untuk mencapai angkatan bersenjata “kelas dunia” pada 2049, dengan kemampuan proyeksi kekuatan jauh di luar Laut China Selatan dan rantai pulau pertama (First Island Chain). Armada kapal induk yang lebih besar akan meningkatkan kemampuan China dalam operasi blokade, seperti simulasi terhadap Taiwan, serta mengancam akses pihak ketiga seperti AS dalam konflik potensial.

Amerika Serikat merespons dengan meningkatkan kehadiran militer di Pasifik Barat. Pada akhir 2025, AS mengerahkan dua hingga tiga kapal induk secara simultan, termasuk USS Abraham Lincoln, USS George Washington, dan kapal amfibi USS Tripoli yang mampu mengoperasikan jet F-35 stealth. Kehadiran ini bertujuan untuk mencegah agresi China, menjaga kebebasan navigasi, dan meyakinkan sekutu seperti Jepang, Filipina, dan Taiwan.

Baca Juga :  Parlemen Vietnam Setujui Pemangkasan Drastis Anggaran dan Kementerian

Meski China menegaskan bahwa pengembangan militernya bersifat defensif dan tidak ditujukan kepada negara tertentu, laporan Pentagon menyebut bahwa pertumbuhan ini membuat wilayah AS semakin rentan terhadap ancaman jarak jauh, termasuk misil balistik anti-kapal dan pesawat tempur generasi keenam yang sedang dikembangkan Beijing.

Dengan kapasitas galangan kapal China yang unggul—mampu membangun kapal jauh lebih cepat daripada AS—ekspansi ini berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik. Namun, tantangan seperti pelatihan awak, integrasi sistem, dan logistik global tetap menjadi hambatan bagi PLAN untuk mencapai paritas penuh dengan US Navy, yang mengoperasikan 11 kapal induk bertenaga nuklir.

Ekspansi armada kapal induk China bukan hanya tentang jumlah, melainkan sinyal ambisi menjadi kekuatan maritim dominan di abad ke-21. Dunia, khususnya AS dan sekutunya, sedang menyaksikan transformasi ini dengan kewaspadaan tinggi.

Berita Terkait

Penampilan Pertama Mojtaba Khamenei Pasca Gencatan Senjata: Klaim Kemenangan Iran atas Israel
Di Balik Gemuruh Pertempuran, Perang Sunyi yang Sering Menjadi Penentu Kemenangan
Ancaman “Zaman Batu” Trump Terwujud, AS Hancurkan Jembatan B1 Iran, Eskalasi Konflik Semakin Mengkhawatirkan
Ancaman dari Laut, Kapal Serbu Amfibi AS dan Spekulasi Operasi Darat terhadap Iran
Arab Saudi di Ambang Eskalasi, Kesabaran Riyadh terhadap Iran Semakin Tipis, Siap Terlibat Perang?
Bomber B-52 AS Kirim Sinyal Darurat Setelah Terbang Hanya 18 Menit
Ketegangan di Karibia, Kuba Siaga Hadapi Ancaman AS, Rusia Terancam Kerugian Besar Akibat Konflik Iran
Iran Rayakan Idul Fitri di Tengah Bayang-Bayang Konflik Berkepanjangan
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 11:15 WIB

Penampilan Pertama Mojtaba Khamenei Pasca Gencatan Senjata: Klaim Kemenangan Iran atas Israel

Selasa, 7 April 2026 - 11:14 WIB

Di Balik Gemuruh Pertempuran, Perang Sunyi yang Sering Menjadi Penentu Kemenangan

Jumat, 3 April 2026 - 11:16 WIB

Ancaman “Zaman Batu” Trump Terwujud, AS Hancurkan Jembatan B1 Iran, Eskalasi Konflik Semakin Mengkhawatirkan

Selasa, 31 Maret 2026 - 11:24 WIB

Ancaman dari Laut, Kapal Serbu Amfibi AS dan Spekulasi Operasi Darat terhadap Iran

Sabtu, 28 Maret 2026 - 11:16 WIB

Arab Saudi di Ambang Eskalasi, Kesabaran Riyadh terhadap Iran Semakin Tipis, Siap Terlibat Perang?

Berita Terbaru