Gelombang Protes Ekonomi di Iran, Dipicu Pedagang Bazaar, Berlangsung Berhari-hari Tanpa Reda

- Jurnalis

Sabtu, 3 Januari 2026 - 11:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 menyaksikan gelombang protes besar-besaran di Iran, yang dimotori oleh pedagang dan pemilik toko di pasar tradisional seperti Grand Bazaar Tehran.

Akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 menyaksikan gelombang protes besar-besaran di Iran, yang dimotori oleh pedagang dan pemilik toko di pasar tradisional seperti Grand Bazaar Tehran.

koranmetro.com – Akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 menyaksikan gelombang protes besar-besaran di Iran, yang dimotori oleh pedagang dan pemilik toko di pasar tradisional seperti Grand Bazaar Tehran. Apa yang dimulai sebagai aksi mogok kerja akibat runtuhnya nilai rial Iran—mencapai rekor terendah sekitar 1,45 juta rial per dolar AS—cepat meluas menjadi demonstrasi nasional yang berlangsung setidaknya lima hari tanpa tanda-tanda mereda. Protes ini tidak hanya menuntut stabilitas ekonomi, tapi juga berubah jadi seruan politik anti-pemerintah, dengan slogan seperti “Kebebasan” dan kritik terhadap prioritas pengeluaran negara. Artikel ini mengupas penyebab utama, perkembangan, serta dampak dari protes yang dipimpin pedagang ini.

Penyebab Utama: Krisis Ekonomi yang Dipicu Pedagang Bazaar

Protes bermula pada 28 Desember 2025 di Tehran, ketika pedagang elektronik dan toko di sekitar Grand Bazaar mogok kerja dan tutup toko sebagai respons terhadap depresiasi rial yang drastis. Nilai rial turun tajam sepanjang 2025—hilang hampir setengah nilai terhadap dolar—akibat inflasi tinggi (di atas 50%), sanksi internasional, dan pengeluaran besar untuk program militer serta dukungan regional.

Baca Juga :  Trump dan Penarikan Pasukan AS dari Eropa: Batalnya Pengiriman 4.000 Tentara ke Polandia

Pedagang bazaar, yang historically berperan penting dalam Revolusi 1979, jadi motor utama karena:

  • Kerugian Bisnis Langsung: Fluktuasi mata uang bikin impor barang mahal, stok menipis, dan margin keuntungan hilang.
  • Inflasi dan Harga Pangan: Harga makanan naik 70%+, bikin daya beli masyarakat turun—pedagang rasakan dampak langsung dari penjualan sepi.
  • Ketidakpuasan Kronisl: Krisis energi (pemadaman listrik/gas), pengangguran, dan janji pemerintah yang tak terpenuhi sejak era Pezeshkian.

Pada hari kedua (29 Desember), protes meluas ke kota lain seperti Isfahan, Shiraz, dan Mashhad, dengan pedagang emas, besi, dan pasar grosir ikut mogok.

Perkembangan Protes: Dari Ekonomi ke Politik, Berlangsung 5 Hari Lebih

Dalam lima hari pertama:

  • Hari 1-2: Mogok damai di bazaar Tehran, slogan ekonomi seperti stabilisasi kurs.
  • Hari 3-4: Meluas ke universitas (mahasiswa gabung), slogan politik seperti “Kebebasan” dan kritik rezim. Bentrokan dengan polisi, gas air mata digunakan.
  • Hari 5: Serangan ke gedung pemerintah di kota seperti Fasa, korban jiwa dilaporkan (setidaknya 8 tewas menurut sumber oposisi).
Baca Juga :  Fans One Direction Berduka, Nyalakan Lilin di Depan Hotel Liam Payne Meninggal

Protes menyebar ke 17-21 provinsi, dengan pemogokan total di pasar utama. Pemerintah tutup sekolah/universitas dan libur nasional untuk redakan, tapi demonstrasi tetap berlanjut hingga awal 2026.

Respons Pemerintah dan Dampak Internasional

Presiden Masoud Pezeshkian akui “tuntutan sah” dan janji dialog, tapi tuduh “musuh luar” infiltrasi. Kepala Bank Sentral mundur, tapi tak cukup redakan amarah.

Internasional: AS dan Barat lihat sebagai peluang tekanan sanksi lebih lanjut; Rusia dan China kritik “campur tangan luar”.

Dampak ekonomi: Ekspor minyak terganggu, rial semakin lemah, inflasi diprediksi naik lagi.

Gelombang protes Iran akhir 2025 ini, yang dimotori pedagang bazaar, tunjukkan krisis ekonomi mendalam yang berubah jadi gerakan politik luas. Berlangsung berhari-hari tanpa redup, ini jadi tantangan besar bagi rezim. Apakah ini awal perubahan besar? Situasi tetap fluid—pantau terus perkembangan terkini.

Berita Terkait

Nepal Desak Meta dan TikTok Bersihkan Konten AI Hoaks Pascabencana Banjir
Banjir Bandang Nepal–Tibet Tewaskan Ratusan, Ratusan Wisatawan Masih Hilang
Subsidi BBM Iran di Ujung Tanduk. Harga Bisa Melonjak hingga Setara Rp 11.000 per Liter
China Catat Rekor Recall Otomotif, 4,3 Juta Mobil Listrik Ditarik karena Risiko Gagang Pintu Darurat
Serangan Israel ke Pangkalan Udara Suriah Picu Kecaman Keras dari Turkiye
AS Perberat Tekanan Ekonomi dan Blokade Laut terhadap Iran, Bukan Perluas Serangan Militer
Operasi Rahasia Trump Ganti Pesawat di Turki Picu Kontroversi di AS
Cristiano Ronaldo dan Georgina Rodriguez Resmi Menikah setelah Satu Dekade Bersama
Berita ini 52 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:25 WIB

Nepal Desak Meta dan TikTok Bersihkan Konten AI Hoaks Pascabencana Banjir

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Banjir Bandang Nepal–Tibet Tewaskan Ratusan, Ratusan Wisatawan Masih Hilang

Senin, 24 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Subsidi BBM Iran di Ujung Tanduk. Harga Bisa Melonjak hingga Setara Rp 11.000 per Liter

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:12 WIB

China Catat Rekor Recall Otomotif, 4,3 Juta Mobil Listrik Ditarik karena Risiko Gagang Pintu Darurat

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:24 WIB

Serangan Israel ke Pangkalan Udara Suriah Picu Kecaman Keras dari Turkiye

Berita Terbaru