AS Kerahkan Lebih dari 20 Jet Tempur, Gempur Target ISIS di Suriah dalam Serangan Balasan Besar

- Jurnalis

Minggu, 11 Januari 2026 - 11:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pada tanggal 10 Januari 2026, Amerika Serikat bersama mitra koalisinya melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap target ISIS di berbagai wilayah Suriah.

Pada tanggal 10 Januari 2026, Amerika Serikat bersama mitra koalisinya melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap target ISIS di berbagai wilayah Suriah.

JAKARTA, koranmetro.com – Pada tanggal 10 Januari 2026, Amerika Serikat bersama mitra koalisinya melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap target ISIS di berbagai wilayah Suriah. Operasi ini merupakan bagian dari Operation Hawkeye Strike dan dilakukan sebagai balasan langsung atas penyergapan mematikan di Palmyra pada 13 Desember 2025 yang menewaskan dua tentara AS serta satu warga sipil Amerika yang bertugas sebagai penerjemah.

Menurut pernyataan US Central Command (CENTCOM), serangan kali ini melibatkan lebih dari 20 pesawat tempur — termasuk F-15E Strike Eagle, A-10 Thunderbolt II, AC-130J gunship, drone MQ-9 Reaper, serta dukungan jet tempur F-16 dari Yordania. Total lebih dari 90 munisi berpemandu presisi dijatuhkan ke setidaknya 35 target di seluruh Suriah, dengan tujuan menghancurkan infrastruktur, gudang senjata, dan kemampuan operasional sisa-sisa ISIS.

Berikut gambaran dramatis jet tempur AS yang lepas landas dari pangkalan di kawasan Timur Tengah — simbol kekuatan proyeksi dalam operasi seperti ini:

Serangan terbaru ini melanjutkan gelombang balasan awal yang sangat masif pada 19 Desember 2025, ketika pasukan AS (dengan dukungan Yordania) menghantam lebih dari 70 target menggunakan lebih dari 100 munisi presisi, jet tempur, helikopter serbu, dan artileri. CENTCOM menegaskan bahwa operasi berkelanjutan ini bertujuan untuk:

  • Membasmi terorisme Islamis yang mengancam pasukan AS dan mitra
  • Mencegah serangan di masa depan terhadap prajurit Amerika
  • Melindungi personel koalisi yang masih ditempatkan di Suriah timur
Baca Juga :  Gencatan Senjata India-Pakistan Masih Rentan Pasca Serangan Terbaru

Presiden Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa serangan semacam ini adalah pesan tegas: setiap serangan terhadap pasukan Amerika akan dibalas dengan kekuatan luar biasa. Pejabat pertahanan menekankan bahwa serangan dilakukan dengan presisi tinggi untuk meminimalkan risiko terhadap warga sipil, sambil memaksimalkan kerusakan pada sisa-sisa ISIS yang masih berusaha berkumpul kembali meski sudah kehilangan wilayah kekuasaan.

Kelompok pemantau Suriah melaporkan korban jiwa yang terbatas akibat serangan Januari ini, meskipun angka pastinya belum dikonfirmasi oleh pihak AS. Operasi ini juga menunjukkan komitmen berkelanjutan kehadiran militer AS di Suriah — ratusan tentara masih ditempatkan sebagai bagian dari Operation Inherent Resolve yang telah berlangsung lama melawan ISIS.

Baca Juga :  CIA Bocor, Iran Masih Kuasai 70% Rudal, Kontradiksi Klaim Trump soal “Hancur Lebur”

Jet tempur melesat di langit malam — pemandangan umum dalam operasi kontra-terorisme intensitas tinggi seperti ini:

Serangan gelombang terbaru ini memperlihatkan tekad AS untuk terus menekan ISIS, meskipun kelompok tersebut telah sangat melemah sejak masa puncak kekhalifahan mereka. CENTCOM menegaskan kembali: “Jika kalian menyakiti prajurit kami, kami akan menemukan dan membunuh kalian di mana pun di dunia ini.”

Operasi lanjutan diperkirakan akan terus berlangsung dalam beberapa hari dan minggu mendatang. Fokus tetap pada penghapusan seluruh tempat persembunyian bagi pejuang ISIS di lanskap Suriah yang masih sangat tidak stabil.

Gambar kuat pesawat A-10 Thunderbolt II (Warthog) — salah satu pesawat kunci yang digunakan untuk dukungan udara jarak dekat terhadap target darat ISIS:

Pesan dari Washington sangat jelas: serangan terhadap pasukan Amerika tidak akan dibiarkan begitu saja.

Berita Terkait

Serangan Israel ke Pangkalan Udara Suriah Picu Kecaman Keras dari Turkiye
AS Perberat Tekanan Ekonomi dan Blokade Laut terhadap Iran, Bukan Perluas Serangan Militer
Operasi Rahasia Trump Ganti Pesawat di Turki Picu Kontroversi di AS
Cristiano Ronaldo dan Georgina Rodriguez Resmi Menikah setelah Satu Dekade Bersama
Media Italia Soroti Kekalahan Telak 0-3 AC Milan dari Chelsea di Jakarta
Marine One Trump Hampir Langgar Jarak Aman dengan Jet Komersial di Washington, Prosedur Pasca-Tragedi 2025 Dipertanyakan
Kekeringan Sungai Danube Ungkap Bangkai Kapal Perang Nazi dan Fosil Mamut
Hamas Sepakat Serahkan Senjata Berat di Gaza, Sementara Warga AS Nilai Perang Iran Tak Sebanding
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:24 WIB

Serangan Israel ke Pangkalan Udara Suriah Picu Kecaman Keras dari Turkiye

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 11:06 WIB

AS Perberat Tekanan Ekonomi dan Blokade Laut terhadap Iran, Bukan Perluas Serangan Militer

Kamis, 13 Agustus 2026 - 10:56 WIB

Operasi Rahasia Trump Ganti Pesawat di Turki Picu Kontroversi di AS

Rabu, 12 Agustus 2026 - 11:15 WIB

Cristiano Ronaldo dan Georgina Rodriguez Resmi Menikah setelah Satu Dekade Bersama

Minggu, 9 Agustus 2026 - 11:26 WIB

Media Italia Soroti Kekalahan Telak 0-3 AC Milan dari Chelsea di Jakarta

Berita Terbaru

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani meminta pemerintah memberi perhatian serius terhadap ratusan sekolah yang rusak akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

NASIONAL

DPR Desak Percepatan Pemulihan Sekolah Terdampak Gempa Flores

Selasa, 18 Agu 2026 - 10:54 WIB

Banyak pendaki masih menganggap kacamata sekadar pelengkap penampilan. Padahal, di jalur pendakian,

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Mengapa Kacamata Wajib Dibawa saat Mendaki, Bukan Hanya Soal Gaya

Senin, 17 Agu 2026 - 11:08 WIB