koranmetro.com – Minggu malam yang dramatis di Emirates Stadium menyuguhkan salah satu momen paling tak terlupakan dalam lanjutan Liga Premier Inggris musim ini. Matheus Cunha, penyerang Brazil milik Manchester United, menjadi pahlawan ketika ia mencetak gol penentu kemenangan 3-2 atas Arsenal di menit-menit akhir pertandingan. Gol spektakuler itu tidak hanya membalikkan mental tim, tetapi juga membuat United meraih kemenangan berharga di kandang salah satu pesaing teratas liga.
Namun di balik euforia tersebut, momen bahagia itu berubah menjadi sorotan kontroversial. Selepas mencetak gol, Cunha merayakan dengan cara penuh semangat, berlari menuju pinggir lapangan dan melakukan gestur yang terekam kamera siaran langsung. Rekaman tersebut kemudian menunjukkan ia tampak berteriak ke lensa kamera dengan kata-kata yang dinilai kasar dan eksplisit, yang kemudian ditayangkan secara langsung kepada jutaan penonton di seluruh dunia.
Insiden ini segera menarik perhatian Football Association (FA), otoritas sepak bola tertinggi di Inggris. Menurut ketentuan disiplin FA, setiap pemain dilarang melakukan tindakan atau mengucapkan kata-kata yang bersifat ofensif, menghina, atau tidak pantas, terutama jika diarahkan langsung ke kamera atau publik luas. Meskipun pertandingan telah usai, FA berwenang mengambil tindakan retroaktif terhadap insiden yang ditangkap dalam siaran televisi dan dianggap melanggar aturan etika kompetisi.
Reaksi publik pun terbelah. Di satu sisi, gol Cunha — sebuah tembakan melengkung dari luar kotak penalti yang membelok melewati kiper Arsenal — dipuji sebagai momen kelas dunia yang mengubah jalannya laga. Banyak suporter Manchester United dan analis sepak bola melihatnya sebagai bukti kemampuan luar biasa sang striker dalam memegang peran penentu di momen krusial.
Namun di sisi lain, ekspresi emosional Cunha yang terekam kamera memicu debat serius tentang batasan selebrasi dalam sepak bola modern. Para pejabat FA disebut tengah mempelajari rekaman tersebut secara teliti untuk menentukan apakah tindakan itu memenuhi kriteria pelanggaran disiplin yang bisa berujung pada sanksi berupa larangan bermain atau denda. Sampai saat ini, belum ada keputusan resmi yang diumumkan, tetapi media Inggris bahkan mengaitkan kemungkinan hukuman tersebut dengan aturan yang sama yang pernah menimbulkan kontroversi di masa lalu.
Komentator siaran langsung, termasuk nama ternama seperti Peter Drury, bahkan sempat menyampaikan permintaan maaf kepada pemirsa atas bahasa yang terdengar sepanjang selebrasi tersebut, menegaskan betapa jelasnya suara itu terdengar di gelombang udara.
Bagi Manchester United sendiri, insiden ini menjadi dilema unik. Di satu sisi, kemenangan di Emirates merupakan pencapaian besar dan momentum penting dalam perjuangan mereka untuk kembali ke persaingan papan atas. Di sisi lain, potensi sanksi terhadap salah satu pemain kunci mereka bisa menjadi beban tambahan di jadwal padat liga dan kompetisi lainnya.
Sementara itu, fans, pundit, dan mantan pemain ramai berdiskusi tentang apakah selebrasi yang sangat emosional tersebut memang layak dihukum, atau justru bagian dari karakter kompetitif yang membuat sepak bola begitu menarik. Terlepas dari keputusan FA nantinya, insiden ini memastikan bahwa nama Matheus Cunha tidak hanya menjadi perbincangan karena golnya, tetapi juga karena kontroversi yang mengikutinya — sebuah pengingat bahwa dalam sepak bola modern, setiap gerak bisa terekam dan dinilai jauh di luar batas lapangan.









