JAKARTA, koranmetro.com – Di tengah gemuruh pasar saham global yang bergoyang-goyang akhir-akhir ini, isu “gelembung AI” kembali mencuat seperti hantu dot-com tahun 2000. Investor mulai bertanya-tanya: apakah hype kecerdasan buatan ini hanya ilusi sementara, atau benar-benar revolusi yang akan mengubah dunia? Namun, di balik kekhawatiran itu, raksasa chip Nvidia justru melaporkan pendapatan yang meledak-ledak, seolah-olah gelembung itu tak pernah ada. Laporan keuangan kuartal ketiga fiskal Nvidia (Agustus-Oktober 2025) menunjukkan revenue melonjak 62% menjadi $57 miliar, melebihi ekspektasi Wall Street sebesar $54,9 miliar. Bahkan, proyeksi kuartal keempat saja sudah ditaksir mencapai $65 miliar. Apa yang sebenarnya terjadi di balik angka-angka gemilang ini?
Kekhawatiran Gelembung AI: Dari Hype ke Hutang Triliunan
Sejak debut ChatGPT tiga tahun lalu, AI telah mendorong valuasi saham teknologi ke puncak yang tak terbayangkan. Nvidia sendiri kini bernilai lebih dari $4,5 triliun, menjadi perusahaan paling mahal di dunia. Tapi, seperti gelembung sabun, semakin besar semakin rapuh. Laporan MIT Agustus 2025 mengungkap fakta pahit: meski investasi enterprise ke generative AI mencapai $30–40 miliar, 95% organisasi belum melihat return apa-apa. Analis Morgan Stanley memperkirakan Big Tech akan habiskan $3 triliun untuk infrastruktur AI hingga 2028, tapi cash flow mereka hanya nutupin separuhnya. Sisanya? Hutang.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah “circular deals” – kesepakatan saling dukung yang mirip skema ponzi. Contoh: Nvidia investasi $100 miliar ke OpenAI agar beli lebih banyak chipnya. OpenAI sendiri klaim revenue $20 miliar per tahun, tapi rencana belanja $1,4 triliun untuk data center bergantung pada penjualan AI yang belum tentu menguntungkan. Sam Altman, CEO OpenAI, bahkan akui sedang dalam gelembung AI. Jamie Dimon dari JP Morgan bilang AI “real”, tapi banyak uang akan terbuang. Di pasar, 30% S&P 500 dan 20% MSCI World kini didominasi lima raksasa tech – konsentrasi tertinggi dalam setengah abad, mirip era dot-com.
Volatilitas pasar akhir-akhir ini jadi bukti: saham AI anjlok, Bitcoin tertekan, dan lebih dari setengah manajer dana global (survei Bank of America) khawatir perusahaan over-invest. Peter Thiel jual seluruh saham Nvidianya senilai $100 juta, Softbank lepas $5,8 miliar. “Pasar ini berjalan di atas kawat tipis antara euforia AI dan realitas hutang,” kata Stephen Innes dari SPI Asset Management.
Nvidia: Mesin Uang yang Tak Tergoyahkan
Tapi, Nvidia seolah kebal. CEO Jensen Huang langsung redam kekhawatirkan di earnings call: “Bukan gelembung, ini tipping point. Kami lihat transformasi besar di AI.” Data center revenue Nvidia tembus rekor $51,2 miliar, naik 25% dari kuartal sebelumnya dan 66% YoY – hampir 90% total revenue perusahaan. Permintaan chip Blackwell “off the charts”, didorong cloud giants seperti Microsoft yang invest miliaran ke AI data center.
Huang tekankan aplikasi luas: di Meta, AI tingkatkan waktu pengguna di Facebook dan Threads; Anthropic proyeksi revenue $7 miliar tahun ini; Salesforce efisiensi coding naik 30% berkat AI. Bahkan, Nvidia prediksi pengeluaran infrastruktur AI capai triliunan dolar akhir dekade ini. “Kami unggul di setiap fase AI,” ujar Huang. Hasilnya? Saham Nvidia naik 4% di after-hours, meski pasar secara keseluruhan masih gelisah.
Tapi, ada catatan kritis: 61% revenue Nvidia dari empat pelanggan saja (naik dari 56% kuartal lalu), termasuk kesepakatan circular dengan Anthropic ($30 miliar komputasi via Microsoft Azure pakai chip Nvidia). Analis Stifel bilang kekhawatiran sustainability capex pelanggan tak akan pudar. Bottleneck fisik seperti listrik, lahan, dan grid juga bisa hambat pertumbuhan 2026 ke depan.
Dampak Lebih Luas: Pasar yang Bergoyang dan Peluang yang Tersembunyi
Isu gelembung ini bukan cuma soal Nvidia. Ia mengguncang seluruh ekosistem AI: dari startup loss-making hingga mega cap yang bergantung hutang. Kalau pecah, bisa picu downturn seperti 2000, di mana Nasdaq anjlok 78%. Tapi, Huang bilang ini “no-win situation” – kalau Nvidia kuat, disebut bubble; kalau lemah, konfirmasi bubble. Internal meeting bocor ungkap frustrasinya: “Pasar tak hargai kuartal luar biasa kami.”
Di sisi lain, ada yang lihat peluang. Chaim Siegel dari Elazar Advisors bilang siklus bisa berakhir buruk kecuali perusahaan sepakat stop spending bareng – yang mustahil. Tapi, Ivana Delevska dari Spear Invest tetap bullish Nvidia karena arsitekturnya unik untuk tiga transisi besar AI.
Nvidia tetap melesat, tapi gelembung AI seperti awan hitam yang tak kunjung hilang. Revenue $57 miliar dan forecast $65 miliar redakan jitters sementara, tapi pertanyaan mendasar tetap: apakah AI benar-benar ciptakan profit masif, atau hanya hype yang didanai hutang? Huang yakin ini transformasi, tapi skeptis seperti Alvin Nguyen dari Forrester ragu keberlanjutan jangka panjang.
Bagi investor, ini saatnya hati-hati: diversifikasi, pantau capex hyperscaler, dan ingat pelajaran dot-com. Bagi dunia tech, ini ujian: AI harus bukti nilai nyata, bukan janji kosong. Gelembung mungkin menggantung, tapi untuk Nvidia, roda masih berputar kencang. Pertanyaannya: sampai kapan?









