Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan? Ancaman Berulang dari Lahan Gambut dan Aktivitas Manusia

- Jurnalis

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan serius di Indonesia pada 2026. Meski petugas gabungan dari Manggala Agni,

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan serius di Indonesia pada 2026. Meski petugas gabungan dari Manggala Agni,

JAKARTA, koranmetro.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan serius di Indonesia pada 2026. Meski petugas gabungan dari Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dan masyarakat terus bekerja keras, api di sejumlah wilayah—terutama Kalimantan, Sumatera, dan Papua—kerap sulit dikendalikan. Asap tebal bahkan menyebar hingga ke negara tetangga. Pertanyaannya, mengapa karhutla terus berulang dan begitu sulit dipadamkan?

Pemicu Utama: Aktivitas Manusia, Bukan Sekadar Cuaca

Sebagian besar kasus karhutla bermula dari aktivitas manusia. Pembukaan lahan dengan cara membakar masih dianggap metode yang murah dan cepat oleh sebagian petani maupun pelaku usaha. Kelalaian lain, seperti membuang puntung rokok atau meninggalkan api unggun, juga sering menjadi pemicu.

Cuaca memang memperparah situasi. Musim kemarau panjang yang beriringan dengan fenomena El Niño membuat vegetasi dan tanah menjadi sangat kering. Namun, El Niño hanya menciptakan kondisi yang memudahkan api menyebar. Tanpa sumber api dari manusia, kebakaran besar jarang terjadi secara alami.

Karakteristik Lahan Gambut: Musuh Tersembunyi

Faktor paling menentukan mengapa api begitu sulit dipadamkan adalah karakteristik lahan gambut. Indonesia memiliki sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia. Dalam kondisi alami, gambut basah dan relatif sulit terbakar. Namun, ketika dikeringkan—baik karena pembuatan kanal untuk perkebunan maupun kekeringan ekstrem—gambut berubah menjadi bahan bakar organik yang sangat mudah menyala.

Baca Juga :  Puan Soroti Rapat RUU TNI di Hotel yang Dijaga Ketat Koopssus, Ada Insiden Masuk Tanpa Izin

Berbeda dengan kebakaran di tanah mineral yang hanya membakar permukaan, api di lahan gambut bisa merambat di bawah permukaan tanah (smouldering atau subsurface fire). Bara api tersembunyi di dalam lapisan gambut, tidak terlihat dari atas, dan bisa bertahan berhari-hari hingga berbulan-bulan. Air yang disemprotkan dari permukaan atau water bombing dari helikopter sering hanya membasahi bagian luar, sementara bara di dalam tetap menyala dan muncul kembali di tempat lain.

Pemadaman di lahan gambut membutuhkan teknik khusus, seperti menyuntikkan air bertekanan tinggi ke dalam tanah hingga pori-pori gambut jenuh air. Proses ini memakan waktu lama dan membutuhkan volume air yang sangat besar.

Hambatan di Lapangan

Selain karakteristik gambut, petugas menghadapi sejumlah tantangan praktis:

  • Kekeringan ekstrem membuat sumber air alami (sungai, kanal, embung) mengering. Petugas harus mengangkut air dari jarak jauh atau membuat sumur darurat.
  • Akses lokasi yang sulit. Banyak titik api berada di kawasan pedalaman, konservasi, atau area terisolasi sehingga memakan waktu untuk dijangkau. Sementara itu, api terus menyebar.
  • Angin kencang yang tiba-tiba mengubah arah rambatan api, membahayakan petugas, dan memperluas area terbakar.
  • Banyaknya titik api simultan. Penelitian menunjukkan kebakaran besar sering terbentuk dari puluhan ribu titik asal yang muncul hampir bersamaan, bukan dari satu sumber saja.
Baca Juga :  Waspada, Peringatan Potensi Hujan Deras di Sejumlah Wilayah Indonesia

Dampak yang Meluas

Selain kerusakan ekosistem dan emisi karbon yang tinggi, karhutla menimbulkan kabut asap yang mengganggu kesehatan masyarakat, menghentikan aktivitas sekolah, serta mengganggu penerbangan. Dampak lintas batas negara juga memicu protes dari negara tetangga.

Jalan ke Depan: Pencegahan Lebih Utama daripada Pemadaman

Para ahli menekankan bahwa karhutla tidak bisa diselesaikan hanya dengan memadamkan api yang sudah menyala. Selama sumber kerentanan (lahan gambut yang dikeringkan) dan pemicu api (praktik pembakaran lahan) tidak ditangani secara konsisten, kebakaran akan terus berulang setiap musim kemarau.

Upaya yang dibutuhkan meliputi restorasi lahan gambut melalui sekat kanal (canal blocking) agar muka air tetap tinggi, penegakan hukum yang tegas terhadap pembakaran lahan, perbaikan tata kelola air di kawasan konsesi, serta edukasi masyarakat. Pemadaman tetap penting, tetapi pencegahan jauh lebih efektif dan hemat biaya dalam jangka panjang.

Karhutla bukan sekadar bencana musiman. Ia merupakan cerminan dari interaksi kompleks antara perilaku manusia, pengelolaan lahan, dan kondisi iklim. Memahami mengapa api begitu sulit dipadamkan adalah langkah awal untuk memutus rantai bencana yang sudah berlangsung puluhan tahun ini.

Berita Terkait

Persatuan yang Sehat Justru Butuh Ruang untuk Kritik
Pajak pada Produk Menstruasi, Beban Tersembunyi yang Masih Dipertanyakan
Cuaca Ekstrem Masih Mengancam, BNPB Ingatkan Warga Aceh Tetap Waspada
Badai Sempurna di Tanah Air, Ketika Banyak Krisis Saling Mengikat
Usulan Luhut soal Unsur Kerugian Negara dalam Korupsi, Begini Bunyi UU Tipikor dan Klarifikasinya
Mantan Komisi II DPR, Pasal PKPU soal Syarat Pencalonan Gibran Tidak Pernah Dibahas
Empat Petugas dan Relawan Gugur dalam Upaya Pemadaman Karhutla di Bromo, Kemenhut Tekankan Keselamatan Personel
Mencegah Praktik Pemerasan Aparat, Perlunya Reformasi Sistemik dan Pengawasan Ketat
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 11:08 WIB

Persatuan yang Sehat Justru Butuh Ruang untuk Kritik

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Pajak pada Produk Menstruasi, Beban Tersembunyi yang Masih Dipertanyakan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:05 WIB

Cuaca Ekstrem Masih Mengancam, BNPB Ingatkan Warga Aceh Tetap Waspada

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:11 WIB

Badai Sempurna di Tanah Air, Ketika Banyak Krisis Saling Mengikat

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:17 WIB

Usulan Luhut soal Unsur Kerugian Negara dalam Korupsi, Begini Bunyi UU Tipikor dan Klarifikasinya

Berita Terbaru

Persatuan sering dipahami sebagai kesamaan sikap dan absennya perbedaan pendapat.

NASIONAL

Persatuan yang Sehat Justru Butuh Ruang untuk Kritik

Selasa, 3 Nov 2026 - 11:08 WIB

Memelihara kucing bukan hanya soal menemani hari-hari di rumah. Bagi banyak orang, kehadiran kucing justru memberi dampak positif terhadap kondisi mental.

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Berbagi Rumah dengan Kucing Bisa Menenangkan Pikiran

Senin, 2 Nov 2026 - 11:13 WIB

AC Milan berhasil menang 3-1 atas Inter Milan pada laga Derby della Madonnina di San Siro, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Liga Italia

AC Milan Bungkam Inter 3-1 di Derby della Madonnina

Minggu, 1 Nov 2026 - 11:17 WIB