JAKARTA, koranmetro.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan serius di Indonesia pada 2026. Meski petugas gabungan dari Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dan masyarakat terus bekerja keras, api di sejumlah wilayah—terutama Kalimantan, Sumatera, dan Papua—kerap sulit dikendalikan. Asap tebal bahkan menyebar hingga ke negara tetangga. Pertanyaannya, mengapa karhutla terus berulang dan begitu sulit dipadamkan?
Pemicu Utama: Aktivitas Manusia, Bukan Sekadar Cuaca
Sebagian besar kasus karhutla bermula dari aktivitas manusia. Pembukaan lahan dengan cara membakar masih dianggap metode yang murah dan cepat oleh sebagian petani maupun pelaku usaha. Kelalaian lain, seperti membuang puntung rokok atau meninggalkan api unggun, juga sering menjadi pemicu.
Cuaca memang memperparah situasi. Musim kemarau panjang yang beriringan dengan fenomena El Niño membuat vegetasi dan tanah menjadi sangat kering. Namun, El Niño hanya menciptakan kondisi yang memudahkan api menyebar. Tanpa sumber api dari manusia, kebakaran besar jarang terjadi secara alami.
Karakteristik Lahan Gambut: Musuh Tersembunyi
Faktor paling menentukan mengapa api begitu sulit dipadamkan adalah karakteristik lahan gambut. Indonesia memiliki sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia. Dalam kondisi alami, gambut basah dan relatif sulit terbakar. Namun, ketika dikeringkan—baik karena pembuatan kanal untuk perkebunan maupun kekeringan ekstrem—gambut berubah menjadi bahan bakar organik yang sangat mudah menyala.
Berbeda dengan kebakaran di tanah mineral yang hanya membakar permukaan, api di lahan gambut bisa merambat di bawah permukaan tanah (smouldering atau subsurface fire). Bara api tersembunyi di dalam lapisan gambut, tidak terlihat dari atas, dan bisa bertahan berhari-hari hingga berbulan-bulan. Air yang disemprotkan dari permukaan atau water bombing dari helikopter sering hanya membasahi bagian luar, sementara bara di dalam tetap menyala dan muncul kembali di tempat lain.
Pemadaman di lahan gambut membutuhkan teknik khusus, seperti menyuntikkan air bertekanan tinggi ke dalam tanah hingga pori-pori gambut jenuh air. Proses ini memakan waktu lama dan membutuhkan volume air yang sangat besar.
Hambatan di Lapangan
Selain karakteristik gambut, petugas menghadapi sejumlah tantangan praktis:
- Kekeringan ekstrem membuat sumber air alami (sungai, kanal, embung) mengering. Petugas harus mengangkut air dari jarak jauh atau membuat sumur darurat.
- Akses lokasi yang sulit. Banyak titik api berada di kawasan pedalaman, konservasi, atau area terisolasi sehingga memakan waktu untuk dijangkau. Sementara itu, api terus menyebar.
- Angin kencang yang tiba-tiba mengubah arah rambatan api, membahayakan petugas, dan memperluas area terbakar.
- Banyaknya titik api simultan. Penelitian menunjukkan kebakaran besar sering terbentuk dari puluhan ribu titik asal yang muncul hampir bersamaan, bukan dari satu sumber saja.
Dampak yang Meluas
Selain kerusakan ekosistem dan emisi karbon yang tinggi, karhutla menimbulkan kabut asap yang mengganggu kesehatan masyarakat, menghentikan aktivitas sekolah, serta mengganggu penerbangan. Dampak lintas batas negara juga memicu protes dari negara tetangga.
Jalan ke Depan: Pencegahan Lebih Utama daripada Pemadaman
Para ahli menekankan bahwa karhutla tidak bisa diselesaikan hanya dengan memadamkan api yang sudah menyala. Selama sumber kerentanan (lahan gambut yang dikeringkan) dan pemicu api (praktik pembakaran lahan) tidak ditangani secara konsisten, kebakaran akan terus berulang setiap musim kemarau.
Upaya yang dibutuhkan meliputi restorasi lahan gambut melalui sekat kanal (canal blocking) agar muka air tetap tinggi, penegakan hukum yang tegas terhadap pembakaran lahan, perbaikan tata kelola air di kawasan konsesi, serta edukasi masyarakat. Pemadaman tetap penting, tetapi pencegahan jauh lebih efektif dan hemat biaya dalam jangka panjang.
Karhutla bukan sekadar bencana musiman. Ia merupakan cerminan dari interaksi kompleks antara perilaku manusia, pengelolaan lahan, dan kondisi iklim. Memahami mengapa api begitu sulit dipadamkan adalah langkah awal untuk memutus rantai bencana yang sudah berlangsung puluhan tahun ini.









