Korupsi Imigrasi Terstruktur dari Daerah hingga Pusat, KPK Ungkap Praktik Sistemik yang Mengakar

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menyita perhatian publik setelah membongkar dugaan praktik korupsi berskala besar di lingkungan Direktorat Jenderal Imigrasi.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menyita perhatian publik setelah membongkar dugaan praktik korupsi berskala besar di lingkungan Direktorat Jenderal Imigrasi.

JAKARTA, koranmetro.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menyita perhatian publik setelah membongkar dugaan praktik korupsi berskala besar di lingkungan Direktorat Jenderal Imigrasi. KPK menegaskan bahwa korupsi di sektor keimigrasian bukan sekadar tindakan oknum, melainkan bersifat sistemik dan telah menjalar secara terstruktur dari tingkat wilayah hingga pusat.

Ungkapan KPK: Korupsi yang Terstruktur

Dalam konferensi pers pada 4 Juni 2026, Ketua KPK Setyo Budiyanto menyatakan bahwa praktik pemerasan dalam pengurusan izin tinggal warga negara asing (WNA) berlangsung secara sistematis sejak 2022 hingga 2026. Modus yang digunakan adalah mempersulit proses perizinan secara sengaja agar pemohon terpaksa membayar “biaya tambahan” di luar ketentuan resmi.

KPK memperkirakan nilai penerimaan dari praktik ini mencapai Rp145,5 miliar. Praktik ini melibatkan alur perintah dari atas (top-down) dan setoran dari bawah (bottom-up) yang terorganisir dengan baik.

Pihak yang Terlibat

Dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar pada 2–3 Juni 2026 di Kantor Imigrasi Jakarta Barat, KPK menetapkan delapan tersangka, di antaranya:

  • Silmy Karim (Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, sekaligus mantan Dirjen Imigrasi)
  • Plt. Dirjen Imigrasi Saffar Muhammad Godam
  • Beberapa Kepala Kantor Wilayah dan Kantor Imigrasi
  • Pejabat di tingkat subdirektorat yang menangani izin tinggal
Baca Juga :  Gus Miftah Viral karena Momen Geregetan Hempas Kepala Istrinya, Netizen Berkomentar Ini!

KPK juga menemukan pola “setiap klik ada harganya” dalam proses pengurusan dokumen keimigrasian.

Pola Sistemik yang Terungkap

Menurut KPK, korupsi ini memiliki ciri-ciri sistemik berikut:

  1. Jaringan Berjenjang — Praktik pungutan liar terjadi mulai dari Kantor Imigrasi daerah hingga Direktorat Pusat.
  2. Mekanisme Terstruktur — Ada pembagian peran, alur setoran rutin, dan pembagian jatah yang terkoordinasi.
  3. Modus Pempersulitan — Permohonan sengaja diperlambat atau dibuat rumit agar pemohon (terutama WNA dan agen) mau membayar.
  4. Durasi Panjang — Praktik ini berlangsung selama empat tahun, menunjukkan adanya budaya korupsi yang mengakar.

Dampak yang Ditimbulkan

Korupsi di sektor imigrasi bukan hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga:

  • Mengancam kedaulatan negara dalam pengawasan lalu lintas orang asing
  • Merusak citra Indonesia di mata internasional
  • Mengganggu iklim investasi karena proses perizinan yang tidak transparan
  • Menimbulkan kerugian besar bagi WNA yang ingin berbisnis atau tinggal secara legal di Indonesia
Baca Juga :  Tuntutan Transparansi Proses Penanganan Kasus Penyerangan Polres Tarakan oleh TNI

Respons KPK dan Pemerintah

KPK menyatakan akan terus mendalami kasus ini, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak lain. Sementara itu, pemerintah diharapkan segera melakukan reformasi total di Ditjen Imigrasi, mulai dari digitalisasi proses yang lebih transparan hingga pengawasan internal yang lebih ketat.

Kasus korupsi imigrasi ini menjadi pengingat keras bahwa ancaman korupsi sistemik masih sangat nyata di tubuh birokrasi Indonesia. KPK telah membuktikan bahwa praktik “mafia imigrasi” bukan isapan jempol, melainkan realita yang melibatkan pejabat tinggi dan berlapis.

Pemberantasan korupsi di sektor strategis seperti imigrasi harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya menangkap oknum. Reformasi sistem dan budaya kerja yang bersih menjadi kunci agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Berita Terkait

Demonstrasi, Pati, dan Kembalinya Spirit Republiken
WNA Rusia Diamankan Imigrasi usai Dokumentasikan Aksi KNPB di Wamena
Kronologi Malam Sebelum Penangkapan, Lodewyk Pusung Ditelepon Seskab Teddy lalu Dicopot dari BGN
Pertemuan Menhan RI dan China di Jakarta, Sjafrie Sambut Dong Jun, Perkuat Kerja Sama Pertahanan
DPR Desak Percepatan Pemulihan Sekolah Terdampak Gempa Flores
Gempa M 7,7 Guncang Flores, BNPB Pastikan 1 Orang Meninggal dan 4 Luka-luka
Menhan Sjafrie dan Pejabat Tinggi AS Bahas Penguatan Kemitraan Pertahanan
TNI Habema Lakukan Pengamanan di Intan Jaya Imbas Aktivitas Kelompok Bersenjata
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:45 WIB

Demonstrasi, Pati, dan Kembalinya Spirit Republiken

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:17 WIB

WNA Rusia Diamankan Imigrasi usai Dokumentasikan Aksi KNPB di Wamena

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:13 WIB

Kronologi Malam Sebelum Penangkapan, Lodewyk Pusung Ditelepon Seskab Teddy lalu Dicopot dari BGN

Jumat, 21 Agustus 2026 - 11:13 WIB

Pertemuan Menhan RI dan China di Jakarta, Sjafrie Sambut Dong Jun, Perkuat Kerja Sama Pertahanan

Selasa, 18 Agustus 2026 - 10:54 WIB

DPR Desak Percepatan Pemulihan Sekolah Terdampak Gempa Flores

Berita Terbaru

Sekelompok warga dari Kabupaten Pati datang ke kompleks parlemen di Senayan, Jakarta, pada 27 Agustus 2026.

NASIONAL

Demonstrasi, Pati, dan Kembalinya Spirit Republiken

Jumat, 28 Agu 2026 - 11:45 WIB