JAKARTA, koranmetro.com – China telah menetapkan target ambisius untuk menjadi pemimpin dunia di bidang Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam waktu lima tahun mendatang. Pemerintah China melalui rencana strategis nasionalnya ingin mengubah negara tersebut menjadi “Raja AI” dunia, menggeser dominasi Amerika Serikat.
Strategi Nasional China di Bidang AI
Pada 2025 lalu, China memperbarui Strategi Pengembangan AI Generasi Baru yang menargetkan pencapaian signifikan pada tahun 2030. Namun, dalam dua tahun terakhir, ambisi tersebut dipercepat. Beberapa poin utama rencana lima tahun ke depan meliputi:
- Penguasaan Teknologi Inti AI China ingin menguasai pengembangan chip AI generasi terbaru, algoritma canggih, dan model bahasa besar (Large Language Models) yang setara atau bahkan melampaui GPT series.
- Investasi Raksasa Pemerintah pusat dan swasta China diproyeksikan akan menggelontorkan lebih dari US$1,5 triliun untuk pengembangan AI hingga tahun 2030. Dana tersebut dialokasikan untuk riset, infrastruktur komputasi, dan talenta global.
- Pembangunan Supercomputing Centers China berencana membangun puluhan pusat komputasi super dan data center khusus AI di berbagai provinsi.
- Aplikasi AI di Berbagai Sektor Mulai dari manufaktur cerdas (smart manufacturing), kesehatan, pendidikan, pertanian, hingga pertahanan dan keamanan nasional.
Kekuatan China Saat Ini
China saat ini sudah memiliki beberapa keunggulan:
- Jumlah data terbesar di dunia berkat populasi 1,4 miliar penduduk
- Ekosistem teknologi yang sangat terintegrasi (Baidu, Alibaba, Tencent, Huawei, ByteDance)
- Produksi chip AI domestik yang terus meningkat meski dibayangi sanksi AS
- Ribuan talenta AI yang kembali ke China dari luar negeri melalui program “Thousand Talents”
Tantangan yang Dihadapi
Meski ambisinya sangat besar, China masih menghadapi beberapa hambatan serius:
- Ketergantungan pada teknologi chip kelas atas buatan AS
- Pembatasan ekspor chip canggih oleh Amerika Serikat dan sekutunya
- Isu etika, regulasi, dan keamanan data
- Persaingan ketat dengan perusahaan-perusahaan Amerika seperti OpenAI, Google, dan Anthropic
Dampak Global
Jika China berhasil mencapai targetnya, dunia akan menyaksikan perubahan besar dalam peta kekuatan teknologi. Banyak negara khawatir dominasi China di bidang AI akan memengaruhi keseimbangan geopolitik, keamanan siber, hingga persaingan ekonomi global.
Namun, di sisi lain, kemajuan AI China juga berpotensi mempercepat inovasi di berbagai bidang, termasuk solusi perubahan iklim, pengobatan, dan efisiensi industri.
Ambisi China untuk menjadi raja AI dunia dalam lima tahun ke depan bukan sekadar mimpi, melainkan strategi nasional yang didukung penuh oleh pemerintah, industri, dan akademisi. Pertarungan supremasi AI antara China dan Amerika Serikat diprediksi akan semakin sengit dan menjadi salah satu penentu arah dunia di paruh kedua abad ke-21.









