Nasib Alutsista Pensiun, Dari Museum, Sasaran Latihan, hingga Jadi Terumbu Karang

- Jurnalis

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika kapal perang sudah tidak layak berlayar dan pesawat tempur tak lagi mengudara, alutsista tua tidak selalu berakhir sebagai pajangan di museum.

Ketika kapal perang sudah tidak layak berlayar dan pesawat tempur tak lagi mengudara, alutsista tua tidak selalu berakhir sebagai pajangan di museum.

JAKARTA, koranmetro.com – Ketika kapal perang sudah tidak layak berlayar dan pesawat tempur tak lagi mengudara, alutsista tua tidak selalu berakhir sebagai pajangan di museum. Sebagian dilucuti kemampuannya, dijadikan sasaran tembak, dibongkar sebagai besi tua, atau bahkan ditenggelamkan untuk membentuk terumbu karang buatan. Di Indonesia, nasib alat utama sistem persenjataan yang memasuki masa pensiun mengikuti sejumlah jalur yang diatur berdasarkan kondisi teknis, nilai sejarah, dan pertimbangan ekonomi.

Tidak Semua Menjadi Monumen

Alutsista yang masih memiliki nilai historis atau kondisi fisik memadai sering dipertahankan untuk kepentingan edukasi dan pelatihan. Pesawat, kendaraan tempur, atau kapal tertentu dapat dipajang di museum militer atau dijadikan monumen. Keberadaannya tidak lagi untuk operasi tempur, melainkan sebagai sarana pembelajaran sejarah pertahanan.

Contohnya mudah ditemui di museum TNI AU atau museum bahari yang memamerkan tank, meriam, helikopter, dan pesawat lawas. Bagi pengunjung, koleksi tersebut menjadi jendela untuk memahami evolusi kekuatan militer Indonesia.

Dilucuti, Lalu Dilelang sebagai Besi Tua

Opsi lain yang semakin sering diambil adalah demiliterisasi dan lelang. Kapal atau peralatan yang sudah melampaui usia manfaat ekonomis dan teknis dianggap dead stock—aset yang hanya menimbulkan biaya perawatan tanpa memberi manfaat operasional.

Baca Juga :  Allo Bank Mengantongi Laba Rp467 Miliar di 2024, Nasabah Mencapai 11,9 Juta

Salah satu contoh terbaru adalah KRI Ki Hajar Dewantara-364. Kapal perang buatan Yugoslavia tahun 1979 ini akan dilelang sebagai besi tua setelah dinyatakan tidak lagi memiliki manfaat operasional. Pemerintah menilai penyimpanan lebih lanjut hanya akan membebani anggaran. Sebelum dilelang, kapal tersebut telah menjalani proses dismantling dan demiliterisasi pada 2018–2019 agar tidak lagi memiliki kemampuan tempur.

Wakil Menteri Pertahanan Donny Emawan Taufanto menjelaskan bahwa aset yang sudah tidak bermanfaat secara operasional berpotensi menimbulkan biaya penyimpanan dan pemeliharaan yang tidak sebanding dengan manfaatnya.

Jadi Sasaran Latihan, Lalu Ditenggelamkan

Jalur lain yang cukup dramatis adalah pemanfaatan sebagai sasaran dalam latihan militer. Alutsista tua dapat digunakan sebagai target tembak sebelum akhirnya dihancurkan secara fisik. Khusus untuk kapal, bangkai yang tersisa kemudian dapat ditenggelamkan dan difungsikan sebagai terumbu karang buatan—dengan syarat telah dibersihkan dari material berbahaya dan memenuhi ketentuan lingkungan.

Baca Juga :  Masjid Istiqlal Gelar Bukber Ramadan, Sedia 3.500 Boks Nasi

Praktik ini bukan hanya menghemat biaya pembuangan, tetapi juga memberi nilai tambah ekologis di perairan tertentu.

Pertimbangan di Balik Keputusan

Pemilihan nasib alutsista pensiun biasanya mempertimbangkan:

  • Kondisi teknis dan usia ekonomis
  • Nilai sejarah atau edukasi
  • Biaya perawatan versus manfaat
  • Keamanan (harus dilucuti dari sistem senjata)
  • Dampak lingkungan, terutama jika ditenggelamkan atau dibongkar

Modernisasi alutsista TNI yang terus berjalan membuat strategi “pensiun” aset lama menjadi sama pentingnya dengan pengadaan yang baru. Tanpa pengelolaan yang jelas, peralatan tua hanya akan menumpuk dan membebani logistik.

Dari pajangan museum, monumen, sasaran latihan, terumbu karang, hingga lelang besi tua—alutsista yang sudah pensiun menempuh berbagai jalan terakhir. Keputusan tersebut bukan sekadar soal membuang barang usang, melainkan bagian dari manajemen aset pertahanan yang harus menyeimbangkan sejarah, keamanan, anggaran, dan lingkungan.

Berita Terkait

Demonstrasi, Pati, dan Kembalinya Spirit Republiken
WNA Rusia Diamankan Imigrasi usai Dokumentasikan Aksi KNPB di Wamena
Kronologi Malam Sebelum Penangkapan, Lodewyk Pusung Ditelepon Seskab Teddy lalu Dicopot dari BGN
Pertemuan Menhan RI dan China di Jakarta, Sjafrie Sambut Dong Jun, Perkuat Kerja Sama Pertahanan
DPR Desak Percepatan Pemulihan Sekolah Terdampak Gempa Flores
Gempa M 7,7 Guncang Flores, BNPB Pastikan 1 Orang Meninggal dan 4 Luka-luka
Menhan Sjafrie dan Pejabat Tinggi AS Bahas Penguatan Kemitraan Pertahanan
TNI Habema Lakukan Pengamanan di Intan Jaya Imbas Aktivitas Kelompok Bersenjata
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 31 Agustus 2026 - 11:11 WIB

Nasib Alutsista Pensiun, Dari Museum, Sasaran Latihan, hingga Jadi Terumbu Karang

Jumat, 28 Agustus 2026 - 11:45 WIB

Demonstrasi, Pati, dan Kembalinya Spirit Republiken

Rabu, 26 Agustus 2026 - 11:17 WIB

WNA Rusia Diamankan Imigrasi usai Dokumentasikan Aksi KNPB di Wamena

Minggu, 23 Agustus 2026 - 11:13 WIB

Kronologi Malam Sebelum Penangkapan, Lodewyk Pusung Ditelepon Seskab Teddy lalu Dicopot dari BGN

Jumat, 21 Agustus 2026 - 11:13 WIB

Pertemuan Menhan RI dan China di Jakarta, Sjafrie Sambut Dong Jun, Perkuat Kerja Sama Pertahanan

Berita Terbaru