Nepal Desak Meta dan TikTok Bersihkan Konten AI Hoaks Pascabencana Banjir

- Jurnalis

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah Nepal meminta Meta dan TikTok segera menghapus gambar mengerikan, video hasil kecerdasan buatan (AI), kode QR donasi palsu,

Pemerintah Nepal meminta Meta dan TikTok segera menghapus gambar mengerikan, video hasil kecerdasan buatan (AI), kode QR donasi palsu,

koranmetro.com – Pemerintah Nepal meminta Meta dan TikTok segera menghapus gambar mengerikan, video hasil kecerdasan buatan (AI), kode QR donasi palsu, serta unggahan menyesatkan yang beredar di media sosial setelah banjir bandang dahsyat. Langkah itu diambil karena konten-konten tersebut berpotensi menyesatkan publik, menghambat operasi bantuan, dan menambah duka keluarga korban.

Latar Belakang Bencana

Banjir bandang dan longsor melanda wilayah sekitar Sungai Bhotekoshi serta daerah dekat perbatasan Nepal-Tiongkok pada 26 Agustus 2026. Bencana tersebut menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ratusan lainnya hilang. Situasi darurat membuat kebutuhan informasi akurat menjadi sangat mendesak bagi evakuasi dan pemulihan.

Namun, di tengah upaya penyelamatan, media sosial justru dibanjiri materi palsu. Video lama diedarkan ulang seolah-olah merupakan rekaman bencana terbaru. Gambar dan video yang dihasilkan AI dipresentasikan sebagai footage asli dari lokasi terdampak. Selain itu, beredar pula kode QR palsu yang mengatasnamakan penggalangan dana untuk korban.

Permintaan Resmi kepada Platform

Pejabat pemerintah Nepal menggelar pertemuan dengan perwakilan Meta dan TikTok yang berbasis di negara tersebut pada 28 Agustus 2026. Mereka mendesak kedua perusahaan bertindak lebih cepat terhadap konten berbahaya.

Baca Juga :  Erdogan Menyatakan Kekhawatiran, Mengizinkan Ukraina Akses Senjata AS adalah Langkah yang Salah

Bijay Kumar Roy, koordinator satuan tugas regulasi dan pengelolaan media sosial sekaligus direktur di Nepal Telecommunications Authority (NTA), menekankan pentingnya koordinasi langsung. “Penyedia layanan internet lokal hanya bisa memblokir seluruh domain, sehingga kami harus berkoordinasi langsung dengan pihak platform untuk menghapus unggahan hoaks,” ujarnya.

Pemerintah juga mendorong Meta dan TikTok agar algoritma mereka lebih proaktif. Tujuannya agar konten grafis dan palsu dapat terdeteksi serta diblokir secara otomatis saat diunggah, bukan menunggu laporan pengguna.

Respons Platform Dianggap Terlalu Lambat

Menurut pihak berwenang, Meta dan TikTok saat ini membutuhkan waktu 24 hingga 48 jam untuk merespons konten yang dilaporkan. Jeda tersebut dinilai terlalu lama karena materi menyesatkan sudah sempat menyebar luas dan menimbulkan kepanikan serta kesedihan tambahan bagi keluarga korban.

Selain penghapusan, Nepal meminta platform menunjuk perwakilan khusus di negaranya agar pelaporan konten bermasalah dapat diproses lebih cepat. Pemerintah juga membentuk satuan tugas lintas lembaga yang melibatkan Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi, Otoritas Telekomunikasi, serta Kementerian Dalam Negeri. Polisi dikerahkan untuk memantau unggahan, melacak penyebar hoaks, dan mencegah disinformasi mengganggu evakuasi.

Baca Juga :  MrBeast Siap Beli TikTok? Tawaran Rp 325 Triliun Jadi Sorotan Dunia

Dampak Disinformasi terhadap Bencana

Penyebaran konten AI palsu dan video lama tidak hanya menyesatkan, tetapi juga dapat:

  • Menghambat operasi bantuan dan evakuasi
  • Memicu kepanikan yang tidak perlu di masyarakat
  • Memperburuk kondisi psikologis keluarga korban
  • Membuka peluang penipuan melalui kode QR donasi palsu

Pihak berwenang menekankan bahwa informasi akurat sangat krusial dalam situasi darurat agar bantuan dapat disalurkan tepat sasaran.

Permintaan Nepal kepada Meta dan TikTok menyoroti tantangan baru di era kecerdasan buatan: bagaimana platform media sosial menangani gelombang disinformasi saat bencana terjadi. Dengan mendesak penghapusan lebih cepat dan algoritma yang lebih proaktif, pemerintah Nepal berupaya melindungi publik serta mendukung proses pemulihan.

Berita Terkait

Jepang Tawarkan Bantuan Perbaiki Pelabuhan Natuna, China Langsung Angkat Bicara
Putri Astrid Meninggal di Usia 94 Tahun, Tak Lama Setelah Pemakaman Raja Harald V
Eskalasi Konflik Timur Tengah, Houthi Serang Arab Saudi, AS Hancurkan Tanker Minyak Iran
Ditemukan Hidup Setelah 10 Hari, Wanita Nepal Ini Hampir Dikremasi Keluarganya
AS Libatkan Pentagon dalam Pengelolaan Cadangan Minyak Venezuela
Banjir Bandang Nepal–Tibet Tewaskan Ratusan, Ratusan Wisatawan Masih Hilang
Subsidi BBM Iran di Ujung Tanduk. Harga Bisa Melonjak hingga Setara Rp 11.000 per Liter
China Catat Rekor Recall Otomotif, 4,3 Juta Mobil Listrik Ditarik karena Risiko Gagang Pintu Darurat
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 11:13 WIB

Jepang Tawarkan Bantuan Perbaiki Pelabuhan Natuna, China Langsung Angkat Bicara

Minggu, 13 September 2026 - 11:18 WIB

Putri Astrid Meninggal di Usia 94 Tahun, Tak Lama Setelah Pemakaman Raja Harald V

Rabu, 9 September 2026 - 11:31 WIB

Eskalasi Konflik Timur Tengah, Houthi Serang Arab Saudi, AS Hancurkan Tanker Minyak Iran

Minggu, 6 September 2026 - 11:26 WIB

Ditemukan Hidup Setelah 10 Hari, Wanita Nepal Ini Hampir Dikremasi Keluarganya

Rabu, 2 September 2026 - 11:29 WIB

AS Libatkan Pentagon dalam Pengelolaan Cadangan Minyak Venezuela

Berita Terbaru