Ketika Mantan Jampidsus Singgung “Data Abadi” di Gedung Bundar

- Jurnalis

Senin, 21 September 2026 - 10:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pernyataan mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah mengenai “data abadi”

Pernyataan mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah mengenai “data abadi”

JAKARTA, koranmetro.com – Pernyataan mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah mengenai “data abadi” di Gedung Bundar Kejaksaan Agung menimbulkan gelombang pertanyaan publik. Istilah itu muncul saat Febrie menjalani proses pelimpahan perkara dugaan pemerasan dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Meski tidak diuraikan secara rinci, penyebutan “data abadi” langsung menarik perhatian karena seolah menunjuk pada keberadaan catatan atau rekam jejak tertentu yang disimpan di lingkungan institusi penegak hukum.

Apa yang Dimaksud Febrie?

Dalam pernyataannya, Febrie menyinggung bahwa database di Gedung Bundar akan menjadi “data abadi.” Ia juga mengaitkannya dengan pihak-pihak yang pernah terlibat dalam perkara-perkara besar, termasuk di sektor strategis seperti pertambangan, perkebunan, proyek pemerintah, dan impor.

“Jangan lupa, database di Gedung Bundar itu akan menjadi data abadi. Kita semua tahu siapa yang terlibat di perkara-perkara besar,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upayanya menjelaskan posisi dan rekam jejak selama puluhan tahun menjadi jaksa. Febrie juga menekankan bahwa sepanjang kariernya ia mengaku tidak pernah dijatuhi hukuman oleh bidang pengawasan internal.

Mengapa Istilah Itu Mengguncang?

Dalam konteks penegakan hukum, munculnya istilah seperti “data abadi” memicu kekhawatiran publik. Sebab, frasa tersebut mudah ditafsirkan sebagai kumpulan informasi yang tidak sekadar menjadi arsip perkara, tetapi berpotensi digunakan sebagai instrumen tawar-menawar.

Baca Juga :  Waspada Penipuan Phishing Saat Mudik Lebaran, Tips Penting untuk Melindungi Diri Anda

Jika penanganan hukum ditentukan oleh siapa yang menguasai informasi sensitif, maka hukum berisiko bergeser dari instrumen keadilan menjadi alat tekanan. Inilah yang membuat pernyataan itu terasa berat dan mengundang diskusi lebih luas soal integritas institusi.

Konteks Perkara yang Sedang Berjalan

Febrie Adriansyah sebelumnya menjabat sebagai Jampidsus, posisi strategis yang menangani perkara pidana khusus, termasuk korupsi. Namanya kemudian terseret dalam proses hukum terkait dugaan pemerasan dan TPPU. Perkara ini pun berlanjut hingga tahap pelimpahan, di mana pernyataan soal “data abadi” muncul.

Publik tentu menempatkan pernyataan tersebut dalam konteks posisinya sebagai pihak yang sedang berhadapan dengan proses hukum. Namun terlepas dari motifnya, isu yang diangkat menyentuh soal transparansi dan akuntabilitas di tubuh penegak hukum.

Antara Arsip Perkara dan Bayang-Bayang Praktik Menyimpang

Setiap institusi penegak hukum tentu memiliki sistem pencatatan perkara. Database internal adalah hal wajar dan bahkan diperlukan. Masalahnya muncul ketika catatan itu dipersepsikan tidak lagi berfungsi sebagai dokumentasi profesional, melainkan sebagai “senjata” yang bisa dihidupkan kapan saja.

Baca Juga :  Puncak Arus Balik di Bandara YIA Diprediksi Terjadi Sabtu, API Estimasikan 15.000 Penumpang

Di titik ini, istilah “data abadi” menjadi berbahaya secara simbolik. Ia menciptakan kesan bahwa ada informasi yang disimpan diluar logika penanganan perkara yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.

Tuntutan Transparansi yang Lebih Besar

Pernyataan Febrie seharusnya tidak berhenti sebagai kontroversi sesaat. Jika memang ada praktik penyimpanan data yang menyimpang dari prosedur, publik berhak mendapat penjelasan resmi. Sebaliknya, jika yang dimaksud semata arsip internal yang sah, klarifikasi juga diperlukan agar tidak menimbulkan tafsir liar.

Institusi penegak hukum hidup dari kepercayaan publik. Ketika muncul istilah yang menimbulkan dugaan adanya sistem bayangan dalam penanganan perkara, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi individu, tetapi kredibilitas lembaga secara keseluruhan.

Singgungan soal “data abadi” dari mantan Jampidsus Febrie Adriansyah membuka ruang diskusi penting tentang bagaimana informasi dikelola di dalam institusi hukum. Apakah data hanya menjadi bagian dari sistem kerja yang profesional, atau justru berubah menjadi instrumen kekuasaan?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak bisa dibiarkan samar. Sebab penegakan hukum yang sehat menuntut transparansi, bukan bayang-bayang database yang disebut-sebut abadi namun tak pernah dijelaskan secara terbuka.

Berita Terkait

Mencegah Praktik Pemerasan Aparat, Perlunya Reformasi Sistemik dan Pengawasan Ketat
Istana Padat Aktivitas di Awal Oktober, Perombakan Kabinet dan Pelantikan Wantimpres
KPK Dalami Peran Aspri Ridwan Kamil dalam Dugaan Aliran Dana Kasus Iklan Bank BJB
Mendagri Tito Bahas Pembangunan 2.200 Rumah di Papua Pegunungan dan Program Gentengisasi
Gibran Minta Evaluasi Menyeluruh Usai Ratusan Warga Batang Diduga Keracunan MBG
Status Manajer Kopdes Merah Putih Dipertanyakan, Agrinas Tegaskan Sebagai Pegawai BUMN
Malaysia Kirim Pesawat dan Helikopter Bantu Indonesia Atasi Karhutla di Kalimantan
Usulan Gaji Minimum Dokter IDI, Mengurai Sumber Pendapatan di Tengah Sistem JKN
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 11:13 WIB

Istana Padat Aktivitas di Awal Oktober, Perombakan Kabinet dan Pelantikan Wantimpres

Jumat, 2 Oktober 2026 - 11:12 WIB

KPK Dalami Peran Aspri Ridwan Kamil dalam Dugaan Aliran Dana Kasus Iklan Bank BJB

Rabu, 30 September 2026 - 11:22 WIB

Mendagri Tito Bahas Pembangunan 2.200 Rumah di Papua Pegunungan dan Program Gentengisasi

Senin, 28 September 2026 - 11:04 WIB

Gibran Minta Evaluasi Menyeluruh Usai Ratusan Warga Batang Diduga Keracunan MBG

Jumat, 25 September 2026 - 11:50 WIB

Status Manajer Kopdes Merah Putih Dipertanyakan, Agrinas Tegaskan Sebagai Pegawai BUMN

Berita Terbaru

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Tiga Zodiak yang Bakal Merasa Lebih Ringan dan Bahagia di Tanggal 10 Oktober 2026

Sabtu, 10 Okt 2026 - 11:09 WIB