Penelitian Terbaru, AI Search Engine Kerap Mengandalkan Situs Berkualitas Rendah sebagai Sumber Utama

- Jurnalis

Minggu, 2 November 2025 - 12:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, koranmetro.com  – Sebuah studi baru yang diterbitkan oleh para peneliti dari Universitas Stanford dan MIT mengungkap fakta mengkhawatirkan: mesin pencari berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi besar sering kali mengambil informasi dari situs web berkualitas rendah. Temuan ini menyoroti risiko potensial terhadap akurasi dan keandalan informasi yang disajikan kepada pengguna sehari-hari.

Latar Belakang Penelitian

Studi berjudul “Evaluating Source Quality in AI-Driven Search Engines” ini melibatkan analisis terhadap lebih dari 10.000 hasil pencarian dari tiga mesin pencari AI populer, termasuk varian dari Google Gemini, Microsoft Bing AI, dan Perplexity AI. Peneliti menggunakan metrik kualitas sumber yang mapan, seperti PageRank, Domain Authority (dari Moz), serta penilaian manual oleh ahli untuk mengukur kredibilitas situs.

Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata 42% sumber yang dikutip oleh AI berasal dari situs dengan skor kualitas di bawah 50/100. Situs-situs ini sering kali termasuk blog pribadi, forum diskusi, atau halaman konten yang dihasilkan secara massal (content farms) dengan sedikit verifikasi fakta.

Baca Juga :  Langkah Mudah Menyimpan Lagu Instagram ke Spotify

Temuan Utama

  1. Frekuensi Pengambilan dari Sumber Rendah: Dalam pencarian tentang topik kesehatan, seperti “pengobatan alami untuk flu”, hingga 58% jawaban AI mengandalkan artikel dari situs non-medis yang tidak didukung oleh referensi ilmiah. Contohnya, sebuah situs afiliasi marketing sering muncul sebagai sumber utama, meskipun isinya penuh iklan dan klaim tidak berdasar.
  2. Dampak pada Topik Sensitif: Untuk isu politik dan berita terkini, AI cenderung mengutip media partisan atau situs clickbait. Studi menemukan bahwa 35% kutipan berasal dari domain yang diklasifikasikan sebagai “low-trust” oleh organisasi seperti NewsGuard.
  3. Perbandingan dengan Mesin Pencari Tradisional: Berbeda dengan Google Search klasik yang lebih mengutamakan situs otoritatif (seperti Wikipedia atau jurnal akademik), AI search engine tampaknya memprioritaskan kecepatan dan relevansi kata kunci, sehingga mengabaikan kualitas.

Peneliti menyimpulkan bahwa algoritma AI saat ini terlalu bergantung pada model bahasa besar (LLM) yang dilatih pada data web secara keseluruhan, tanpa filter kualitas yang ketat. “AI tidak ‘membaca’ seperti manusia; ia mencocokkan pola, dan pola dari konten rendah sering kali lebih melimpah di internet,” kata Dr. Elena Ramirez, penulis utama studi tersebut.

Baca Juga :  iPhone 16, Peluncuran yang Dinantikan di Indonesia Semakin Dekat

Implikasi bagi Pengguna

Temuan ini menimbulkan kekhawatiran tentang penyebaran misinformasi. Pengguna yang mengandalkan AI untuk jawaban cepat mungkin mendapatkan informasi yang bias atau salah, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan keuangan. Sebuah survei pendamping dalam studi menunjukkan bahwa 68% responden percaya sepenuhnya pada hasil AI tanpa memverifikasi sumber.

Perusahaan teknologi merespons dengan janji perbaikan. Seorang juru bicara dari salah satu platform AI menyatakan, “Kami terus meningkatkan model untuk memprioritaskan sumber tepercaya melalui pembaruan algoritma.”

Rekomendasi untuk Masa Depan

Para peneliti merekomendasikan:

  • Integrasi tools verifikasi sumber seperti FactCheck.org secara langsung ke dalam AI.
  • Transparansi lebih besar: AI harus menampilkan skor kualitas sumber di samping jawaban.
  • Pendidikan pengguna: Dorong kebiasaan cross-checking dengan multiple sources.

Studi ini menjadi pengingat bahwa meskipun AI merevolusi pencarian informasi, kualitas tetap menjadi tantangan utama. Di era digital yang semakin cepat, bijaklah dalam menerima jawaban instan—selalu tanyakan: “Dari mana sumbernya?”

Berita Terkait

Di Balik Layar Dracin Populer, Peran Tim AI dalam Menghadirkan Cerita yang Adiktif
MacBook Air M1 Jadi Tameng Hidup, Laptop Apple Selamatkan Tentara Ukraina dari Serpihan Artileri
ChatGPT Health, Asisten AI Baru dari OpenAI untuk Manajemen Kesehatan Pribadi
Pebble Round 2, Kembalinya Smartwatch Tipis dengan Baterai Monster 14 Hari
Gelombang Ransomware Berbasis AI, Ancaman Kejahatan Siber Terbesar di 2025
Robot Humanoid Elon Musk dan Zuckerberg, Penjualan Meroket dengan Harga Fantastis Miliaran Rupiah
Penurunan Harga iPhone Air di Indonesia, Momentum Tepat untuk Upgrade?
Rahasia Produk Apple 2026, Dari iPhone Murah hingga Perangkat Lipat yang Revolusioner
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 11:13 WIB

Di Balik Layar Dracin Populer, Peran Tim AI dalam Menghadirkan Cerita yang Adiktif

Senin, 12 Januari 2026 - 11:12 WIB

MacBook Air M1 Jadi Tameng Hidup, Laptop Apple Selamatkan Tentara Ukraina dari Serpihan Artileri

Kamis, 8 Januari 2026 - 13:06 WIB

ChatGPT Health, Asisten AI Baru dari OpenAI untuk Manajemen Kesehatan Pribadi

Senin, 5 Januari 2026 - 11:37 WIB

Pebble Round 2, Kembalinya Smartwatch Tipis dengan Baterai Monster 14 Hari

Jumat, 2 Januari 2026 - 11:07 WIB

Gelombang Ransomware Berbasis AI, Ancaman Kejahatan Siber Terbesar di 2025

Berita Terbaru

Liga Inggris

Michael Carrick Beri Peringatan Usai Man United Gasak Man City

Minggu, 18 Jan 2026 - 19:55 WIB