JAKARTA, koranmetro.com – Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan gaya diplomasi yang aktif dan energik. Kunjungan kenegaraan terbarunya ke Paris pada akhir Mei 2026 menjadi sorotan, tidak hanya karena frekuensi kunjungannya yang tinggi ke Prancis, tetapi juga karena substansi kerja sama yang semakin mendalam antara Indonesia dan Prancis.
Romansa Paris yang Berulang
Sepanjang tahun 2026, Presiden Prabowo tercatat telah mengunjungi Paris hingga empat kali. Kunjungan terbaru pada 26–29 Mei 2026 disambut dengan upacara kenegaraan yang megah di Les Invalides, diikuti pertemuan bilateral dengan Presiden Emmanuel Macron di Istana Élysée.
Keakraban antara Prabowo dan Macron terlihat jelas. Hubungan personal kedua pemimpin ini menjadi salah satu pendorong utama penguatan kemitraan strategis Indonesia-Prancis. Dari pertemuan di April hingga kunjungan Mei, kedua negara terus menjalin dialog intensif di berbagai bidang.
Hasil Konkret Kunjungan
Kunjungan ini menghasilkan beberapa kesepakatan penting:
- Kerja Sama Pertahanan Prancis dikenal sebagai salah satu pemasok alat pertahanan utama. Pembicaraan difokuskan pada modernisasi alutsista, transfer teknologi, dan joint exercise.
- Energi dan Transisi Hijau Kerja sama di bidang energi terbarukan, pengembangan hidrogen hijau, serta investasi Prancis di proyek energi Indonesia.
- Pendidikan dan Kebudayaan Peningkatan jumlah beasiswa, kerja sama universitas, serta promosi bahasa dan budaya.
- Ekonomi dan Investasi Forum CEO Indonesia-Prancis yang menghasilkan kesepakatan bisnis di sektor infrastruktur, penerbangan, dan teknologi.
Aritmetika Diplomasi Prabowo
Di balik romansa Paris yang indah, ada kalkulasi diplomasi yang matang. Prabowo tampak menerapkan pendekatan “multi-alignment” atau diplomasi bebas-aktif yang dinamis:
- Menyeimbangkan Kekuatan Besar Kunjungan ke Paris sering dilakukan setelah atau sebelum bertemu pemimpin negara lain (seperti Rusia atau China), menunjukkan upaya Indonesia menjaga keseimbangan.
- Pragmatisme Ekonomi Prancis menjadi pintu masuk bagi teknologi Eropa yang dibutuhkan Indonesia untuk pembangunan nasional.
- Penguatan Posisi Regional Kerja sama dengan Prancis (salah satu negara kunci di Uni Eropa) memperkuat posisi tawar Indonesia di forum internasional.
- Personal Diplomacy Prabowo memanfaatkan chemistry pribadinya dengan Macron untuk mempercepat kesepakatan yang biasanya berjalan lambat.
Tantangan dan Kritik
Meski menuai hasil positif, kunjungan ini juga menuai kritik dari sebagian pihak yang mempertanyakan frekuensi perjalanan luar negeri Presiden di tengah banyaknya pekerjaan domestik. Namun, pemerintah menegaskan bahwa setiap kunjungan telah direncanakan matang dan membawa manfaat strategis jangka panjang.
Kunjungan ke Paris bukan sekadar romansa diplomatik biasa. Ini adalah bagian dari aritmetika diplomasi Presiden Prabowo yang cermat: menggabungkan hubungan personal, kepentingan nasional, dan visi Indonesia sebagai negara yang berpengaruh di panggung global.









