Dua Hari di Myanmar, Satgas Kemanusiaan Indonesia Selamatkan Lima Korban Gempa

- Jurnalis

Jumat, 4 April 2025 - 18:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

4 April 2025 – Dalam waktu dua hari sejak diberangkatkan, Satuan Tugas (Satgas) Kemanusiaan Indonesia berhasil menemukan lima korban gempa bumi di Myanmar.

4 April 2025 – Dalam waktu dua hari sejak diberangkatkan, Satuan Tugas (Satgas) Kemanusiaan Indonesia berhasil menemukan lima korban gempa bumi di Myanmar.

JAKARTA, koranmetro.com – 4 April 2025 – Dalam waktu dua hari sejak diberangkatkan, Satuan Tugas (Satgas) Kemanusiaan Indonesia berhasil menemukan lima korban gempa bumi di Myanmar. Misi kemanusiaan ini merupakan bagian dari respons cepat Pemerintah Indonesia terhadap bencana gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Sagaing-Mandalay pada 28 Maret 2025, menyebabkan ribuan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur parah.

Keberangkatan dan Tugas Awal

Satgas Kemanusiaan Indonesia, yang terdiri dari 73 personel gabungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, TNI, Kementerian Kesehatan, dan instansi lainnya, diberangkatkan pada 1 April 2025 menggunakan pesawat Boeing 747 dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Tim ini dilengkapi dengan peralatan SAR, logistik medis, dan dua anjing pelacak K9 untuk mempercepat pencarian korban di bawah reruntuhan.

Setibanya di Bandara Naypyidaw, tim langsung berkoordinasi dengan otoritas lokal dan tim SAR internasional lainnya. Fokus utama mereka adalah wilayah Naypyidaw dan Mandalay, dua area yang mengalami dampak terparah akibat gempa. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menyatakan bahwa tim bertugas mencari korban, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, serta mendirikan posko kemanusiaan untuk mendukung operasi penyelamatan.

Hari Pertama: Tiga Korban Ditemukan

Pada hari pertama, 2 April 2025, Satgas Kemanusiaan Indonesia memulai operasi di kawasan perumahan Naypyidaw. Dengan bantuan anjing pelacak K9 Gizi dan K9 Walet, tim berhasil mendeteksi tiga titik reruntuhan yang mengindikasikan keberadaan korban. Setelah penggalian intensif, dua korban ditemukan dalam kondisi selamat meski mengalami luka ringan, sementara satu korban lainnya ditemukan telah meninggal dunia.

Baca Juga :  Panggil CEO Danantara, Prabowo Minta Laporan Kampung Haji hingga Hunian Korban Bencana

“Pencarian dimulai pukul 12.30 waktu setempat. Anjing pelacak kami sangat membantu dalam menentukan lokasi korban yang tertimbun,” ujar Iptu Erasmus, K9 Officer dari Tim INASAR 1. Dua korban yang selamat segera mendapatkan perawatan medis dari Emergency Medical Team (EMT) yang turut dikerahkan dalam misi ini.

Hari Kedua: Dua Penemuan Baru

Pada 3 April 2025, operasi dilanjutkan di lokasi berbeda di Mandalay, dekat episentrum gempa. Tim SAR Indonesia kembali berhasil menemukan dua korban. Salah satunya, seorang wanita, ditemukan hidup setelah tertimbun reruntuhan selama hampir lima hari. Penemuan ini menjadi momen haru bagi tim, mengingat peluang menemukan korban selamat semakin menipis seiring berjalannya waktu. Korban kedua, sayangnya, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.

“Keberhasilan ini adalah bukti kerja keras tim dan koordinasi yang solid. Kami akan terus bekerja maksimal untuk membantu saudara-saudara kita di Myanmar,” kata Kolonel Pnb Beni Aprianto, Mission Commander Satgas Kemanusiaan.

Tantangan di Lapangan

Meski mencatat keberhasilan awal, tim menghadapi sejumlah tantangan. Infrastruktur yang rusak, seperti jalan dan jembatan, menyulitkan akses ke lokasi terdampak. Selain itu, junta militer Myanmar dilaporkan memblokir beberapa jalur bantuan kemanusiaan di wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak, mempersulit distribusi logistik. Kurangnya peralatan berat juga menjadi hambatan, sehingga tim sering kali mengandalkan tenaga manual dan anjing pelacak untuk operasi penyelamatan.

Baca Juga :  Memastikan Kelancaran Transportasi, Kakorlantas Pantau Jalur Penyeberangan di Pelabuhan Merak dan Bakauheni

Dukungan Logistik dan Rencana ke Depan

Selain personel, Indonesia telah mengirimkan 12 ton bantuan logistik, termasuk tenda, selimut, makanan siap saji, dan obat-obatan, untuk mendukung korban gempa. Pada 3 April 2025, dua pesawat tambahan, termasuk Garuda 747-800, diberangkatkan membawa delegasi resmi dan personel pendukung. Suharyanto memperkirakan misi ini akan berlangsung selama satu bulan, dengan tambahan personel dan logistik yang akan dikirim secara bertahap.

Presiden Prabowo Subianto, dalam pernyataannya, menyampaikan apresiasi atas dedikasi tim dan menegaskan komitmen Indonesia untuk membantu Myanmar. “Ini adalah wujud solidaritas kita sebagai bagian dari keluarga ASEAN dan semangat kemanusiaan yang universal,” katanya.

Harapan dan Solidaritas

Keberhasilan menemukan lima korban dalam dua hari pertama menjadi penyemangat bagi Satgas Kemanusiaan Indonesia. Meski jumlah korban tewas akibat gempa ini telah mencapai lebih dari 2.700 jiwa berdasarkan laporan junta militer per 1 April 2025, tim tetap optimistis dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa. Misi ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang responsif terhadap krisis kemanusiaan di kawasan.

Dengan semangat pantang menyerah, Satgas Kemanusiaan Indonesia terus bekerja di tengah kondisi sulit, membawa harapan bagi rakyat Myanmar yang tengah berduka. Operasi ini tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis tim SAR Indonesia, tetapi juga solidaritas lintas batas yang menjadi teladan bagi dunia.

Berita Terkait

WNI Alumni Kamboja Jadi Tersangka di Balik Sindikat Judol Internasional Hayam Wuruk
Penggerebekan Markas Judi Online Internasional di Jakarta, Mayoritas Korban Berasal dari Luar Negeri
Andi Gani Nena Wea, Tolak Framing Negatif yang Melemahkan Suara Buruh Indonesia
Larangan Live Streaming Anggota Polri Saat Bertugas, Profesionalisme atau Pembatasan Transparansi?
TNI Kirim Dua Personel ke Kamboja untuk Misi Pemantauan ASEAN, Wujud Komitmen Perdamaian Regional
Said Iqbal Sampaikan 11 Tuntutan Buruh ke Presiden Prabowo di May Day 2026, Pensiun Bebas Pajak Jadi Sorotan
DPR RI Desak Investigasi Transparan Tragedi Tabrakan Kereta di Bekasi Timur
Duka dari Misi Perdamaian, Satu Lagi Prajurit Indonesia Gugur di Lebanon
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 11:07 WIB

WNI Alumni Kamboja Jadi Tersangka di Balik Sindikat Judol Internasional Hayam Wuruk

Minggu, 10 Mei 2026 - 11:20 WIB

Penggerebekan Markas Judi Online Internasional di Jakarta, Mayoritas Korban Berasal dari Luar Negeri

Kamis, 7 Mei 2026 - 11:27 WIB

Andi Gani Nena Wea, Tolak Framing Negatif yang Melemahkan Suara Buruh Indonesia

Selasa, 5 Mei 2026 - 11:14 WIB

Larangan Live Streaming Anggota Polri Saat Bertugas, Profesionalisme atau Pembatasan Transparansi?

Sabtu, 2 Mei 2026 - 11:52 WIB

TNI Kirim Dua Personel ke Kamboja untuk Misi Pemantauan ASEAN, Wujud Komitmen Perdamaian Regional

Berita Terbaru

Merkuri (mercury) sering kali menjadi bahan “ajaib” yang ditambahkan pada produk skincare, terutama krim pemutih wajah.

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Waspada Merkuri dalam Skincare, Ancaman Tersembunyi yang Bisa Merusak Otak dan Organ Tubuh

Selasa, 12 Mei 2026 - 11:19 WIB