Operasi Rahasia Trump Ganti Pesawat di Turki Picu Kontroversi di AS

- Jurnalis

Kamis, 13 Agustus 2026 - 10:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikonfirmasi secara diam-diam berpindah pesawat saat meninggalkan Turki pada 8 Juli 2026,

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikonfirmasi secara diam-diam berpindah pesawat saat meninggalkan Turki pada 8 Juli 2026,

JAKARTA, koranmetro.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikonfirmasi secara diam-diam berpindah pesawat saat meninggalkan Turki pada 8 Juli 2026, menyusul ancaman keamanan yang dianggap serius. Operasi tersebut, yang melibatkan penyamaran menggunakan truk katering bandara, kemudian memicu perdebatan di dalam negeri terkait transparansi, keselamatan rombongan, dan cara pemerintah menangani ancaman.

Kronologi Perpindahan Pesawat

Setelah menghadiri KTT NATO di Ankara, Trump sempat terlihat menaiki Air Force One versi lama di hadapan kamera. Namun, tidak lama kemudian ia diam-diam keluar dari sisi lain pesawat melalui truk katering yang ditinggikan hingga setara pintu pesawat. Dari sana, Trump dipindahkan ke pesawat militer C-32A, jenis pesawat yang lebih kecil dan sering digunakan pejabat tinggi AS.

Sementara itu, Air Force One yang semula dinaikinya tetap berangkat membawa staf Gedung Putih, petugas keamanan, dan para jurnalis yang tidak mengetahui bahwa Presiden sudah tidak berada di dalamnya. Ketiga pesawat—Air Force One lama, pesawat hadiah Qatar, dan C-32A—kemudian berangkat secara terpisah menuju Inggris.

Baca Juga :  Defile Kontingen Indonesia di Atas Kapal Saat Pembukaan Olimpiade Paris 2024, Kejutan Bersejarah dan Penuh Warna

Di Inggris, skenario penyamaran berlanjut sebelum Trump akhirnya melanjutkan perjalanan pulang.

Alasan di Balik Operasi

Menurut pejabat AS, perpindahan ini dilakukan karena adanya ancaman kredibel dari Iran terhadap Air Force One. Informasi intelijen menyebut adanya potensi serangan menggunakan rudal bahu (shoulder-fired missile) di sekitar lokasi KTT. Ancaman tersebut dianggap cukup serius sehingga Secret Service dan pihak militer memutuskan untuk mengamankan Presiden dengan cara luar biasa.

Trump kemudian membenarkan laporan tersebut. Ia menyatakan hanya mengikuti arahan Secret Service dan militer demi alasan keamanan.

Kontroversi yang Muncul

Meski bertujuan melindungi Presiden, operasi ini memicu kegaduhan di AS karena beberapa alasan:

  • Rombongan dijadikan “decoy” Staf dan jurnalis yang tetap berada di Air Force One tidak mengetahui bahwa mereka berada di pesawat umpan. Hal ini menimbulkan pertanyaan etis dan keamanan terkait risiko yang mereka tanggung tanpa informasi memadai.
  • Narasi awal yang berbeda Sebelum detail operasi terungkap, penjelasan resmi sempat menyebut pergantian pesawat dilakukan “demi kenangan” atau agar personel militer bisa melihat pesawat baru hadiah Qatar. Perbedaan antara narasi awal dan fakta yang kemudian muncul menimbulkan kritik soal transparansi.
  • Pertanyaan soal manajemen risiko Sejumlah pihak mempertanyakan apakah langkah tersebut sudah seimbang antara melindungi Presiden dan mempertimbangkan keselamatan seluruh rombongan perjalanan.
Baca Juga :  Perjanjian Pukpuk, Aliansi Pertahanan Baru Australia-Papua Nugini untuk Keamanan Pasifik

Tanggapan Trump

Trump menekankan bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan Secret Service dan militer. Ia bahkan sempat menyatakan bahwa pesawat yang ia naiki justru bisa dianggap lebih berisiko karena lebih mungkin menjadi target. Meski demikian, perdebatan publik tetap berlanjut mengenai cara komunikasi pemerintah kepada media dan staf yang terlibat.

Operasi perpindahan Trump dari Air Force One di Turki memperlihatkan tingkat ancaman yang dihadapi Presiden AS sekaligus kompleksitas pengamanan pejabat tinggi di era modern. Di satu sisi, langkah tersebut menunjukkan respons cepat terhadap intelijen ancaman. Di sisi lain, cara pelaksanaannya memunculkan pertanyaan serius tentang keterbukaan, etika penggunaan “pesawat umpan”, serta perlindungan terhadap seluruh anggota rombongan.

Berita Terkait

Putri Astrid Meninggal di Usia 94 Tahun, Tak Lama Setelah Pemakaman Raja Harald V
Eskalasi Konflik Timur Tengah, Houthi Serang Arab Saudi, AS Hancurkan Tanker Minyak Iran
Ditemukan Hidup Setelah 10 Hari, Wanita Nepal Ini Hampir Dikremasi Keluarganya
AS Libatkan Pentagon dalam Pengelolaan Cadangan Minyak Venezuela
Nepal Desak Meta dan TikTok Bersihkan Konten AI Hoaks Pascabencana Banjir
Banjir Bandang Nepal–Tibet Tewaskan Ratusan, Ratusan Wisatawan Masih Hilang
Subsidi BBM Iran di Ujung Tanduk. Harga Bisa Melonjak hingga Setara Rp 11.000 per Liter
China Catat Rekor Recall Otomotif, 4,3 Juta Mobil Listrik Ditarik karena Risiko Gagang Pintu Darurat
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 11:18 WIB

Putri Astrid Meninggal di Usia 94 Tahun, Tak Lama Setelah Pemakaman Raja Harald V

Rabu, 9 September 2026 - 11:31 WIB

Eskalasi Konflik Timur Tengah, Houthi Serang Arab Saudi, AS Hancurkan Tanker Minyak Iran

Minggu, 6 September 2026 - 11:26 WIB

Ditemukan Hidup Setelah 10 Hari, Wanita Nepal Ini Hampir Dikremasi Keluarganya

Rabu, 2 September 2026 - 11:29 WIB

AS Libatkan Pentagon dalam Pengelolaan Cadangan Minyak Venezuela

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:25 WIB

Nepal Desak Meta dan TikTok Bersihkan Konten AI Hoaks Pascabencana Banjir

Berita Terbaru